Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Mencintai Indonesia tidak selalu diwujudkan dengan pujian. Terkadang, cinta yang paling tulus justru hadir dalam keberanian mengingatkan ketika arah perjalanan bangsa mulai menjauh dari cita-cita keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah salah, melainkan bangsa yang berani mengoreksi diri dan bijaksana memperbaiki kesalahannya.
Di tengah berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan penegakan hukum, sebagian masyarakat merasakan bahwa negara belum sepenuhnya menghadirkan rasa keadilan. Ada warga yang ingin menyampaikan kritik, mempertanyakan kebijakan, atau menyuarakan aspirasi demi kepentingan bersama, namun memilih diam karena khawatir disalahpahami atau menghadapi konsekuensi hukum. Di sisi lain, ada pula kritik yang kehilangan etika, berubah menjadi fitnah, ujaran kebencian, bahkan tindakan anarkis. Kedua keadaan ini sama-sama tidak menguatkan demokrasi.
Sesungguhnya, persoalan bangsa tidak semata terletak pada pemerintah, tetapi juga pada kualitas moral seluruh elemen bangsa. Ketika jabatan dipandang sebagai hak untuk dilayani, bukan amanah untuk melayani, ketika kepentingan pribadi dan kelompok mengalahkan kepentingan rakyat, ketika hukum dipersepsikan belum sepenuhnya menghadirkan rasa keadilan, dan ketika kebohongan, korupsi, serta politik yang manipulatif dianggap sebagai sesuatu yang biasa, maka yang sesungguhnya sedang melemah bukan hanya institusi negara, tetapi juga kepercayaan rakyat.
Karena itu, menjadi warga negara yang benar bukan berarti selalu membenarkan pemerintah, tetapi juga bukan berarti memusuhi setiap kebijakan pemerintah. Kesetiaan seorang warga negara bukanlah kepada siapa yang sedang berkuasa, melainkan kepada kebenaran, keadilan, konstitusi, dan cita-cita luhur bangsa. Warga negara yang baik adalah mereka yang berani mendukung kebijakan yang membawa kemaslahatan, sekaligus berani mengingatkan apabila kekuasaan mulai menyimpang dari amanahnya. Kritik yang lahir dari ilmu, data, dan niat memperbaiki adalah bentuk cinta kepada negeri, sedangkan kritik yang dipenuhi kebencian hanya akan melahirkan perpecahan.
Indonesia membutuhkan warga yang kritis tetapi tidak sinis, berani tetapi tidak beringas, tegas tetapi tetap santun. Demikian pula, bangsa ini membutuhkan para pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik, karena kritik yang jujur adalah cermin untuk melihat kekurangan, bukan ancaman yang harus dibungkam. Hubungan ideal antara rakyat dan pemerintah bukanlah saling mencurigai, melainkan saling mengingatkan demi menjaga amanah bangsa.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 58).
Rasulullah SAW.bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ… لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasihat… untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh masyarakat.” (HR. Muslim).
Sayyidina Umar bin al-Khattab RA. . bahkan menegaskan:
«لَا خَيْرَ فِيكُمْ إِنْ لَمْ تَقُولُوهَا، وَلَا خَيْرَ فِينَا إِنْ لَمْ نَسْمَعْهَا»
“Tidak ada kebaikan pada kalian apabila kalian tidak berani menyampaikan kebenaran kepada kami, dan tidak ada kebaikan pada kami apabila kami tidak mau mendengarkannya.”
Inilah hakikat menjadi warga negara yang benar, yakni berani mengatakan yang benar dengan cara yang benar, mengingatkan tanpa menghina, mengkritik tanpa memecah belah, mendukung tanpa menjilat, dan mencintai negeri tanpa kehilangan akal sehat. Sebab, negara yang kuat bukanlah negara yang membungkam suara rakyat, melainkan negara yang menjadikan amanah sebagai karakter, keadilan sebagai hukum, musyawarah sebagai jalan, dan kemaslahatan seluruh rakyat sebagai tujuan utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
#Wallahu A’lam Bishawab






