Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalsel I
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkanlah saya menyampaikan sebuah pesan yang mungkin terasa unik di telinga kita, namun mengandung hikmah yang sangat dalam.
Tema kita hari ini adalah tentang “Keistimewaan Istri Cerewet” dan bagaimana kesabaran dalam menghadapinya dapat menjadi jalan menuju derajat kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para Wali Allah dan Keteguhan Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 62:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Kemudian pada ayat berikutnya, Allah menjelaskan siapa sebenarnya wali-wali Allah tersebut:
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ۞ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Demikian itu adalah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 63-64)
Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa para kekasih Allah adalah mereka yang memiliki hati yang teguh, tidak mudah goyah oleh cobaan, tidak diliputi rasa khawatir yang berlebihan, dan tidak tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaan dalam setiap keadaan.
Namun, pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah: Bagaimana seseorang bisa mencapai derajat sedemikian tinggi? Apakah harus melalui ibadah yang panjang di malam hari? Apakah harus melalui khalwat dan uzlah menjauhi keramaian? Ternyata, jawabannya bisa jadi sangat sederhana, bahkan mungkin ada di rumah kita sendiri.
Kisah Dua Saudara dan Pelajaran Tentang Kesabaran
Sebuah kisah yang sarat akan hikmah. Kisah ini terjadi pada zaman dahulu, ketika terdapat dua orang saleh yang bersaudara, namun terpisah oleh jarak yang berjauhan. Salah satu dari mereka memiliki kebiasaan untuk mengunjungi saudaranya setiap tahun sekali.
Pada suatu hari, ketika ia berkunjung ke rumah saudaranya dan mengetuk pintu, ia ditanya oleh istri saudaranya dengan nada ketus, “Siapa?”
Ia menjawab dengan santun, “Iparmu, saudara dari suamimu, datang untuk berkunjung.”
Betapa terkejutnya ia ketika istri saudaranya itu berkata dengan penuh kemarahan, “Ia masih pergi mencari kayu, semoga dia dimakan macan dan tidak dikembalikan oleh Allah!” Lalu, ia pun memaki-maki tamu yang tidak lain adalah saudara suaminya sendiri.
Beberapa saat kemudian, datanglah saudaranya itu dengan membawa seikat kayu yang dipikulkan di atas punggung seekor harimau. Dengan tenang, ia berkata kepada harimau itu, “Pergilah, semoga Allah memberkahi kamu.” Kemudian ia mempersilahkan saudaranya untuk masuk ke rumah.
Di dalam rumah, sang istri terus memaki-maki suaminya tanpa henti. Namun, sang suami tidak menjawab walau sepatah kata pun. Ia tetap tenang, seolah tidak mendengar cacian yang dilontarkan kepadanya. Ia menghidangkan makanan dan makan bersama saudaranya dengan penuh kehormatan.
Setelah selesai makan, sang tamu pun meminta izin untuk kembali. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak henti-hentinya memikirkan tentang kesabaran luar biasa saudaranya dalam menghadapi istri yang sedemikian kasar dan cerewet.
Rahasia di Balik Kesabaran
Setahun kemudian, saudaranya itu kembali berkunjung. Ketika sampai di rumah dan mengetuk pintu, terdengar suara yang bertanya, “Siapa?”
Ia menjawab, “Aku, saudara suamimu, datang untuk berkunjung.”
Betapa terkejutnya ia ketika kali ini disambut dengan kata-kata ramah, “Selamat datang!” Sang istri mempersilahkannya untuk menunggu suaminya yang sedang mencari kayu, dan dengan penuh pujian ia menceritakan kebaikan-kebaikan suaminya.
Tidak lama kemudian, datanglah sang suami dengan memikul kayu di atas punggungnya sendiri, tanpa bantuan harimau seperti tahun lalu. Setelah makan bersama, sang tamu pun bertanya dengan penuh keheranan, “Wahai saudaraku, tahun lalu aku melihat harimau yang membawakan kayu untukmu. Mengapa kini engkau harus memikulnya sendiri?”
Sang saudara pun menjawab dengan senyum penuh syukur, “Wahai saudaraku, istriku yang cerewet dahulu itu telah meninggal dunia. Karena kesabaranku menghadapi kecerewetannya, Allah mendatangkan harimau untuk membantuku dalam mencari kayu. Kemudian, ketika Allah telah menggantinya dengan istri yang salehah dan baik budi ini, sudah tidak ada lagi harimau itu. Kini terpaksa aku harus memikul sendiri kayuku itu.”
Subhanallah! Betapa dalam makna yang terkandung dalam kisah ini. Ternyata, kecerewetan seorang istri bisa menjadi ujian yang mengangkat derajat seorang hamba, dan kesabaran dalam menghadapinya menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.
Kisah Syekh Abdurrahman Bajalhaban
Terdapat pula kisah yang sangat masyhur tentang seorang waliyullah asal Hadramaut, Yaman, yang bernama Syekh Abdurrahman Bajalhaban. Beliau adalah seorang pedagang dan guru besar yang tinggal di Bajal Haban, sebuah wilayah di pintu masuk Kota Tarim, Hadramaut.
Di kampungnya, Syekh Abdurrahman dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, sabar, dan setia terhadap istrinya. Namun, siapa sangka, sang istri justru dikenal sebagai sosok yang sangat cerewet. Ia kerap mengomeli Syekh Abdurrahman hanya karena persoalan-persoalan sepele.
Meskipun demikian, Syekh Abdurrahman tidak pernah membalas perlakuan kasar istrinya dengan kekasaran pula. Sebaliknya, ia menjadikan tabiat buruk istrinya itu sebagai ladang ibadah. Ia tetap sabar menghadapinya, bahkan cintanya tidak pernah pudar meski sang istri kerap berlaku kasar. Perlakuan sang istri dibalasnya dengan kasih sayang yang tulus.
Kisah Khalwat dan Tawasul
Suatu hari, Syekh Abdurrahman hendak berkhalwat, menyendiri di suatu tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia pun berpamitan kepada sang istri. Namun, bukan doa yang mengiringi kepergiannya, melainkan omelan dan cacian yang ia dapatkan.
Singkat cerita, Syekh Abdurrahman pun pergi ke sebuah bukit tidak jauh dari kampungnya untuk melakukan ibadah khalwat. Namun, sesampainya di sana, ia mendapati ada sekelompok orang yang juga sedang melakukan hal serupa. Karena memiliki tujuan yang sama, Syekh Abdurrahman pun memutuskan untuk bergabung dengan kelompok tersebut.
Namun, ada satu syarat yang harus ia penuhi: ia harus mau piket untuk mencari makanan selama masa beribadah. Syekh Abdurrahman pun menyanggupinya dan ikut bergabung tanpa memperkenalkan diri siapa dirinya sebenarnya.
Selama bergabung dengan kelompok itu, ia kerap menyaksikan teman-temannya yang mendapat giliran piket mencari makan. Sungguh menakjubkan, mereka hanya berdoa kepada Allah, lalu turunlah makanan dari langit. Begitu mudahnya rezeki datang kepada mereka.
Ujian bagi Syekh Abdurrahman
Tibalah jadwal Syekh Abdurrahman untuk mencari makanan. Ia pun kebingungan. Kepada siapa ia harus bertawasul agar doanya dikabulkan seperti teman-temannya?
Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa dengan bertawasul kepada wali yang biasa ditawasuli oleh teman-temannya. Ia pun berdoa:
“Ya Allah, berkat kemuliaan dari wali yang ditawasuli teman-temanku, maka turunkanlah makanan yang lezat untukku dan untuk teman-temanku.”
Tidak lama setelah ia berdoa, tiba-tiba ia mendapatkan makanan yang lezat dengan jumlah yang lebih banyak dari yang biasa diperoleh teman-temannya. Melihat doanya begitu mudah dikabulkan, ia pun yakin bahwa wali yang ditawasuli oleh teman-temannya bukanlah wali biasa.
Rahasia Terungkap
Setelah mendapatkan makanan, Syekh Abdurrahman pun menemui kelompoknya. Melihat kedatangan Syekh Abdurrahman dengan membawa makanan yang sangat banyak dan lebih lezat dari biasanya, mereka pun terkejut dan bertanya, “Bagaimana bisa engkau mendapatkan makanan spesial ini?”
Syekh Abdurrahman kemudian menceritakan bagaimana ia berdoa dan mendapatkan makanan lezat tersebut. Ia pun bertanya kepada teman-temannya, “Siapakah sosok wali yang biasa kalian tawasuli?”
Mereka pun menjawab, “Ketahuilah, di desa Bajalhaban dekat dengan bukit ini, ada orang saleh nan sabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun meskipun demikian, beliau sangat menghormati dan menyayangi istrinya tersebut.
Bahkan ia tidak pernah berbuat kasar kepadanya. Atas kesabaran inilah, Allah mengangkat derajatnya menjadi waliyullah. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban. Dengan beliaulah kami bertawasul sebelum berdoa kepada Allah.”
Mendengar cerita tersebut, Syekh Abdurrahman merasa tersentak. Bagaimana tidak? Kesalehan dan kesabarannya menghadapi sang istri ternyata dibalas kemuliaan yang luar biasa dari Allah. Ia pun bergegas minta izin untuk pulang.
Kini ia sadar, jika bersabar menghadapi istri yang cerewet ternyata di hadapan Allah memiliki nilai lebih besar dibandingkan berkhalwat bersama orang-orang yang beribadah.
Hikmah dan Pelajaran
Dari kedua kisah tersebut, kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang sangat berharga:
1. Kesabaran adalah Jalan Menuju Kemuliaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajat hamba-Nya melalui berbagai cara. Ada yang melalui ibadah yang panjang, ada yang melalui ilmu yang bermanfaat, dan ada pula yang melalui kesabaran dalam menghadapi ujian kehidupan rumah tangga. Kesabaran menghadapi istri yang cerewet bisa menjadi salah satu jalan menuju derajat waliyullah.
2. Rumah Tangga adalah Madrasah Ruhani
Rumah tangga bukan hanya tempat berkumpulnya suami, istri, dan anak-anak. Lebih dari itu, rumah tangga adalah madrasah ruhani tempat kita menempa diri, melatih kesabaran, dan menumbuhkan kasih sayang. Setiap ujian dalam rumah tangga adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
3. Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan
Syekh Abdurrahman Bajalhaban memberikan teladan yang luar biasa. Ketika istrinya memaki-maki, ia tidak membalas dengan cacian. Ketika istrinya berlaku kasar, ia membalasnya dengan kasih sayang. Inilah akhlak mulia yang seharusnya kita teladani.
4. Kecerewetan Istri Bisa Menjadi Berkah
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa salah satu syarat bisa menjadi waliyullah ialah sabar menghadapi istri yang cerewet. Ini menunjukkan bahwa kecerewetan seorang istri, jika dihadapi dengan sabar, bisa menjadi berkah dan jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
5. Allah Tidak Pernah Menyia-nyiakan Kesabaran
Setiap kesabaran yang kita tunjukkan dalam menghadapi ujian hidup, termasuk ujian dalam rumah tangga, tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah. Bisa jadi, pertolongan Allah datang dalam bentuk yang tidak kita duga, seperti harimau yang datang membantu mencari kayu, atau rezeki yang turun dari langit.
Penutup
Semoga kisah-kisah yang telah kita dengar bersama dapat menjadi renungan bagi kita semua, terutama bagi para suami yang mungkin sedang diuji dengan istri yang cerewet, atau bagi para istri yang mungkin perlu introspeksi diri.
Ingatlah, bahwa setiap ujian dalam rumah tangga adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kesabaran adalah kunci, dan kasih sayang adalah jalan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bersabar, kelembutan untuk menyayangi, dan keikhlasan untuk menerima setiap ketentuan-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.






