Seperti nasib sampah, ia hanya residu. Tidak penting. Ditaruh di tempat pembuangan. Di pojokan. Dan dihindari. Mengganggu pemandangan dan tentu juga selera tuan.
Tapi ketika sampah itu membludak, massif, dan kehilangan ruang untuk dibuang dan disingkirkan, kenyamanan sang tuan yang membuang sampah itu, mulai terganggu. Apalagi bila sampah itu berontak dan membuang aromanya sehingga menyerang indera penciuman tuan-tuan, maka mulai timbul rasa tidak tenang.
Tidak sampai di situ, jika sampah dalam skala massif seperti TPST Bantar Gebang, mengubah dirinya menjadi gas metana yang merusak keseimbangan iklim, maka tuan-tuan pembuang sampah itu, mulai berpikir tentang kelangsungan hidupnya.
Sebab metana bukanlah senyawa kimia yang sepele. Terbukti, zat ini rentan memicu kebakaran, dan ketika meluap ke langit, dia pun memicu perubahan iklim. Dampaknya, tuan-tuan yang membuang sampah itu makin serba susah, susah menghirup udara nyaman hingga susah menciptakan keuntungan.
Kini sampah Bantar Gebang telah membuat panik tuan-tuan yang berkuasa. Tuan-tuan yang lebih berkuasa di arena internasional sana dari pada tuan-tuan di Indonesia, telah membidik Bantar Gebang sebagai senjata yang menekan tuan-tuan di sini. Seperti biasa, tuan-tuan tidak rela kehilangan muka. Segala drama pun tercipta. Narasi dan gambar dibanjiri di berbagai kanal media, mengesankan betapa hiraunya tuan-tuan kali ini dengan Bantar Gebang.
Kenyataannya, gunung-gunung sampah Bantar Gebang tetap menjulang seperti sediakala. Tak ada gunung yang dipotong dan ludes. Masih seperti dulu. Hanya eskavator-eskavator dan buldozer-buldozer yang makin sibuk dan beradu riuh belakangan ini. Para pemulung juga seperti biasa mengais-ais sampah-sampah berharga ke dalam keranjangnya. Para pengepul pun tidak ambil pusing dengan berita Bantar Gebang juara nomor 2 sedunia sebagai pembuang metana ke langit.
Dalam keheningan di antara desas-desus respon serius pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan problem sampah ini, baik berupa pembangunan unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan macam-macam skema hebat lainnya, ada sekian pemain yang mencoba bagaimana skema penyelesaian problem darurat sampah ini berakhir menjadi gunungan uang dan proyek.
Ada yang berpura-pura menekan pembuat keputusan untuk menerbitkan peraturan persampahan yang ujungnya adalah yang diincar surat keputusan siapa-siapa yang ditunjuk melaksanakan proyek.
Demikianlah selalu dalam setiap masalah, tidak benar-benar diniatkan untuk mengakhiri masalah, tapi berkelok-kelok menjadi pertaruhan kepentingan ekonomi dan bisnis. Inilah di antara yang menyebabkan masalah sampah Bantar Gebang tidak pernah benar-benar selesai dan selalu tarik ulur dan akhirnya digantung dari zaman ke zaman.
Sekarang banyak yang riuh dengan isu ini. DPRD DKI sudah bikin Pansus Sampah. Pemkot Bekasi juga tidak kalah sibuk. Tapi begitu biasanya, selagi hangat, semua sibuk di depan kamera. Setelah isu redup, semua hening dan undur diri satu demi satu.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Koordinator Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads)






