Istiqamah dalam Kebaikan: Sedikit tetapi Terus-Menerus, Lebih Bermakna daripada Banyak tetapi Sesaat

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Mari awali hari dengan doa dan niat yang baik.

Bacaan Lainnya

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

Hikmah hari ini: Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada satu pelajaran besar dari hadis Rasulullah SAW yang sering kali kita lupakan dalam menjalani kehidupan. Bahwa ukuran kebaikan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sesuatu yang kita berikan, seberapa banyak harta yang kita keluarkan, atau seberapa hebat amalan yang mampu kita lakukan.

Namun, ada satu hal yang sangat penting, yaitu keistiqamahan dalam menjaga kebaikan.

Terkadang kita memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan sesuatu. Hari ini kita berjanji ingin memperbanyak sedekah, ingin lebih rajin beribadah, ingin membantu banyak orang, ingin memperbaiki hubungan dengan sesama, dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, seiring berjalannya waktu, semangat itu perlahan memudar. Kebaikan yang dahulu begitu mudah dilakukan, akhirnya mulai ditinggalkan.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebaikan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kebaikan bisa dimulai dari langkah sederhana, tetapi dilakukan dengan hati yang ikhlas dan dijaga secara berkelanjutan.

Menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat, membiasakan zikir, bersedekah meskipun sedikit, menyapa orang lain dengan ramah, membantu tetangga, hingga memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari amal kebaikan.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk beribadah. Jangan pula menunggu menjadi orang hebat untuk memberikan manfaat kepada sesama.

Sebab, kesempatan berbuat baik sering kali hadir melalui hal-hal sederhana yang berada di sekitar kita.

Sedekah kecil yang dilakukan setiap bulan

Mari kita mengambil contoh dari kepedulian terhadap anak-anak yatim.

Melalui gerakan sosial Sahabat Yatim Al Mahabbah, kita belajar bahwa membantu anak yatim tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah.

Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dukungan pendidikan, makanan bergizi, pakaian yang layak, serta kebahagiaan sederhana yang mungkin selama ini tidak mudah mereka dapatkan.

Kita mungkin tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan mereka. Kita mungkin juga belum sanggup memberikan bantuan dalam jumlah besar.

Namun, bagaimana jika kita menyisihkan sebagian kecil rezeki setiap bulan?

Misalnya, Rp10.000, Rp25.000, Rp50.000, Rp100.000, atau sesuai kemampuan masing-masing.

Jika dilakukan bersama-sama dan secara rutin, insyaallah akan menjadi kekuatan besar untuk membantu anak-anak yatim.

Bayangkan jika ada 100 orang yang masing-masing menyisihkan Rp25.000 setiap bulan. Maka akan terkumpul Rp2.500.000.

Jika dilakukan secara konsisten selama satu tahun, jumlahnya menjadi Rp30.000.000.

Itulah kekuatan kebersamaan dan istiqamah dalam kebaikan.

Bukan tentang siapa yang paling besar menyumbang, melainkan siapa yang memiliki kepedulian dan kesungguhan untuk terus berbagi.

Melalui Sahabat Yatim Al Mahabbah, mari kita bangun kebiasaan bersedekah secara rutin setiap bulan. Donasi dapat disalurkan melalui rekening BSI Sahabat Yatim Al Mahabbah.

Sedikit dari kita mungkin terlihat tidak berarti. Namun, jika dikumpulkan bersama-sama, insyaallah dapat menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi anak-anak yatim.

Jangan menunggu memiliki uang berlebih untuk membantu mereka. Justru dari sebagian rezeki yang kita miliki hari ini, kita belajar mensyukuri nikmat Allah dengan berbagi.

Sebab, rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga ada kesempatan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.

Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Sering kali manusia menunda kebaikan dengan berbagai alasan.

“Nanti kalau sudah kaya, saya akan banyak bersedekah.”

“Nanti kalau sudah punya waktu luang, saya akan lebih rajin mengaji.”

“Nanti kalau sudah sukses, saya akan membantu anak yatim.”

Padahal, kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan kita esok hari. Tidak ada jaminan bahwa kesempatan yang kita miliki hari ini masih akan kita temukan pada hari berikutnya.

Karena itu, jangan menunda kebaikan.

Mulailah dari apa yang kita punya. Mulailah dari kemampuan yang kita miliki. Mulailah dari lingkungan terdekat. Dan yang paling penting, lakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT.

Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk menjadi dermawan. Tidak perlu menunggu menjadi orang terkenal untuk memberikan manfaat. Tidak perlu menunggu memiliki jabatan untuk memperjuangkan kepentingan sesama.

Sebab, kemuliaan seseorang bukan semata-mata terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan juga pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah. Bahkan senyuman kepada saudara kita pun bernilai sedekah.

Artinya, pintu kebaikan selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang kaya atau miskin, tua atau muda, memiliki jabatan atau tidak.

Istiqamah adalah bukti kesungguhan hati

Istiqamah memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita lelah, menghadapi kesulitan ekonomi, memiliki banyak kebutuhan, atau kehilangan semangat.

Namun, justru di situlah nilai sebuah perjuangan diuji.

Mampu melakukan kebaikan ketika sedang berlebih mungkin terasa mudah. Tetapi tetap berusaha menjaga kebaikan ketika keadaan sedang terbatas membutuhkan ketulusan dan kekuatan iman.

Bukan berarti kita harus memaksakan diri di luar kemampuan. Islam mengajarkan keseimbangan dan tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya.

Lakukanlah sesuai kemampuan, tetapi jangan sampai kehilangan kebiasaan berbuat baik.

Jika hari ini hanya mampu bersedekah sedikit, lakukanlah dengan ikhlas. Jika hari ini hanya mampu membaca beberapa ayat Al-Qur’an, bacalah dengan penuh penghayatan. Jika hari ini hanya mampu membantu satu orang, lakukanlah dengan sepenuh hati.

Semoga amalan kecil yang kita jaga menjadi jalan datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Penutup: Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat

Mari kita jadikan hari ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri.

Jangan hanya sibuk mengejar dunia, tetapi lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat. Jangan hanya menghitung berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, tetapi sesekali renungkan berapa banyak kebaikan yang sudah kita bagikan.

Jangan sampai kita memiliki banyak harta, tetapi sedikit kepedulian. Jangan sampai kita memiliki banyak kesempatan, tetapi terlalu sedikit amal kebaikan yang dilakukan.

Mari menjaga salat, memperbanyak zikir, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, menyambung silaturahmi, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Melalui Sahabat Yatim Al Mahabbah, mari kita jadikan santunan anak yatim sebagai kebiasaan kebaikan bulanan. Tidak harus besar, tidak harus menunggu kaya. Sisihkan sebagian rezeki melalui rekening BSI Sahabat Yatim Al Mahabbah sesuai kemampuan.

Ingatlah, sedekah yang sedikit tetapi dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah jauh lebih baik daripada semangat besar yang hanya sesaat.

Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita, melapangkan rezeki, memberikan keberkahan umur, menjaga keluarga kita, serta menjadikan kita manusia yang senantiasa istiqamah dalam kebaikan.

Semoga setiap rupiah yang kita sisihkan menjadi sebab hadirnya senyuman bagi anak-anak yatim dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir kehidupan.

Jangan pernah merasa kecil ketika berbuat baik. Sebab, bisa jadi kebaikan kecil yang kita lakukan dengan ikhlas justru menjadi amalan yang paling bernilai di hadapan Allah SWT.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *