Type to search

Opini

Ekspedisi Gua Ciwadon Sumber Mata Air Kali Cikarang

Share

Oleh : Dedi Kurniawan, S. Sos

Menyambut pergantian tahun baru menuju 2022 kami menjejakan langkah menuju arah Selatan Kabupaten Bekasi melintasi perbatasan Cibarusah menuju Jonggol Kab. Bogor Jawa Barat. Kemeriahan hingar bingar pada saat malam itu tak membuat kami sedikit pun mengurungkan niat untuk geser lokasi selain ke alam. Karena alam merupakan Ibu tempat melepaskan kepenatan, layaknya melepas orgasme pada puncak Bersenggama. Buat kami, kenikmatannya sulit ditandingi apapun.

Perjalanan kami tempuh dengan susah payah, maklum, setelah PPKM melanda pada tahun lalu. Tahun 2022 ini agak sedikit dilonggarkan. Alhasil, jalanan dipenuhi tumpah ruah oleh warga yang ingin menikmati pergantian malam tahun tersebut.

Tepat jam 22.00 kami pun tiba di sebuah Padepokan yang cukup luas milik seorang teman yang juga merupakan anggota Parlemen dari Partai Gerinda Bang Obon Tabroni. Yang pada sore hari nya mengajak untuk berbagi kebahagiaan bersama di suasana alam terletak tak jauh dari tempat tinggal kami di Bekasi yaitu Desa Cibodas Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor.

Desa tersebut rupanya berada di kaki Gunung Karang yang merupakan titik nol Kali Cikarang. Pada pagi harinya kami sepakat untuk sekalian melakukan Ekspedisi guna mencari data terkait sumber mata air tersebut.

Seorang pemandu pun siap mengantarkan ke lokasi tujuan kami. Dan sebelum berangkat ke lokasi dengan berbekal informasi dari para penduduk sekitar, kami pun melangkah pasti tanpa keraguan sedikitpun untuk segera melangkah kan kaki menuju titik nol dari Sungai yang selama ini kami jaga dan rawat bersama.

Gugusan sawah yang kami lewati tampak belum menguning, karena di datarannya baru saja memanen padinya bulan lalu. Ketinggian lokasinya kurang lebih 1000 Mdpl (meter di atas permukaan laut) sementara kemiringannya hanya 30-60 derajat. Hal itulah yang membuat banyak dari warga dan perusahaan mengeksploitasi lahan tersebut.

Pada medio 90an wilayah ini masih sangat perawan. Belum terdapat aktivitas bahkan pertanian sekalipun tak tampak. Namun sekarang kondisinya sudah sangat dalam fase kritis berat. Ketika matahari mulai menampakan kedigdayaannya kami tersesat. Lokasi yang pernah dijumpai oleh pemandu kami tak juga kami temui. Malah banyak kami jumpai lokasi pembuatan arang kayu dengan dominan warna hitam dan berlubang yang terdapat di lokasi tersebut. Dan nyaris sudah tidak terdapat pohon keras menjulang tinggi menatap langit yang kami lewati. Hanya di dominasi oleh tanaman palawija milik petani lokal yang nampak kami jumpai. Sisanya tanaman perdu serta terasiring gundul yang baru saja ditanami oleh singkong dan tanaman apotik hidup seperti lengkuas, jahe dan serai.

Setelah hampir 2 jam mendaki punggung Gunung tersebut, kami pun beristirahat sejenak pada sebuah gubuk milik petani guna melepas lelah. Tak disangka, rupanya tanah dari gubuk tersebut banyak menyembul batu keras ke abu abuan mirip terumbu karang. Dan sebagai petunjuk awal kesimpulan kami bermuara bahwa penamaan Kali Cikarang berasal dari Cai atau Bahasa Sunda disebut air dan Karang adalah batuan yang mendominasi titik nol pada Kali Cikarang tersebut. Sehingga oleh para leluhur dinamai Cikarang atau air yang bermula dari Gunung Karang.

Mengenai batu karang berdasarkan penelitian para ahli, diketahui bahwa pembentukan batuan memerlukan waktu hingga jutaan tahun. Siklus batuan berawal dari terbentuknya batuan beku, pelapukan batuan beku, pergerakan batuan, sedimentasi. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Kali Cikarang adalah Kali atau Sungai Purba yang dihasilkan oleh mata air yang berhulu di titik nol pada Gunung Karang.

Bersambung ke episode berikutnya.

Penulis adalah Direktur Kajian Strategis dari #bambufoundation

#mitigasi
#salamlestari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *