Ekonomi Digital Indonesia Harus Berjalan Seiring Penguatan Budaya Bangsa, Meutya Hafid: Teknologi Tidak Boleh Mengikis Jati Diri

JAKARTA: BELA RAKYAT –  Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi digital Indonesia tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, transformasi digital harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga budaya, memperkuat karakter bangsa, serta melindungi generasi muda agar mampu menghadapi era digital tanpa kehilangan identitas nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya saat melakukan audiensi dengan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat. Pertemuan itu menjadi momentum memperkuat sinergi antara pembangunan ekosistem digital nasional dengan pelestarian kebudayaan Indonesia di tengah laju perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Bacaan Lainnya

Meutya menilai Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital dunia. Dengan sekitar 230 juta pengguna internet atau hampir 80 persen dari total populasi, Indonesia saat ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi digital di kawasan ASEAN.

Menurutnya, besarnya potensi tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu menciptakan ruang digital yang sehat, aman, produktif, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi digital dunia. Namun pertumbuhan itu akan jauh lebih bermakna jika di saat yang sama kita mampu menjaga anak-anak kita, memperkuat karakter generasi muda, dan memastikan budaya bangsa tetap hidup,” tegas Meutya.

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak ingin transformasi digital hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter masyarakat. Baginya, teknologi harus menjadi alat yang memperkuat identitas bangsa, memperluas akses terhadap warisan budaya, sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya Indonesia melalui platform digital.

Meutya mengatakan perkembangan teknologi saat ini seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Digitalisasi dinilai mampu memperluas akses masyarakat terhadap berbagai warisan budaya sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

Menurutnya, teknologi dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya dapat saling memperkuat apabila dikelola secara tepat.

“Teknologi dan budaya bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru ketika keduanya berjalan beriringan, kita bisa menciptakan masa depan digital yang lebih kuat, inklusif, dan berkarakter,” ujar Meutya.

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak di ruang digital. Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital terus memperkuat implementasi PP TUNAS sebagai fondasi menciptakan ruang digital yang aman bagi generasi muda.

Menurutnya, regulasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan perkembangan teknologi tidak membawa dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Ia menegaskan bahwa ruang digital harus menjadi lingkungan yang mendukung kreativitas sekaligus memberikan perlindungan kepada anak dari berbagai risiko yang muncul di internet.

“Ruang digital harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif. Anak-anak perlu mendapatkan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, termasuk ruang untuk mengenal permainan tradisional, seni, budaya, serta interaksi yang sehat di lingkungan keluarga,” kata Meutya.

Selain memperkuat perlindungan anak, pemerintah juga tengah mempersiapkan regulasi mengenai etika penggunaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), termasuk penyusunan peta jalan AI nasional.

Meutya menjelaskan bahwa perkembangan AI harus diarahkan agar berlangsung secara bertanggung jawab, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kehadiran AI juga diyakini dapat menjadi instrumen penting dalam mendukung pelestarian kebudayaan nasional melalui digitalisasi warisan budaya, pengembangan pendidikan budaya berbasis teknologi, hingga promosi budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

Menurut Meutya, keseimbangan antara inovasi teknologi, perlindungan masyarakat, dan pelestarian budaya akan menjadi kunci keberhasilan transformasi digital Indonesia dalam jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa kemajuan digital tidak boleh membuat bangsa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya. Sebaliknya, teknologi harus menjadi kekuatan baru untuk memperkokoh karakter bangsa sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

“Transformasi digital yang berhasil adalah transformasi yang menghadirkan ekonomi yang tumbuh, anak-anak yang terlindungi, dan budaya bangsa yang semakin kuat. Itulah fondasi menuju Indonesia yang maju, berdaulat secara digital, dan tetap berakar pada jati dirinya,” pungkas Meutya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *