JAKARTA – BELA RAKYAT – Rencana modernisasi alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI Angkatan Udara dengan kedatangan sejumlah pesawat tempur baru mendapat catatan dari Komisi I DPR RI. Kesiapan pangkalan dan fasilitas pendukung dinilai harus menjadi prioritas agar penambahan kekuatan tidak sia-sia.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin usai melakukan kunjungan kerja reses ke Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (10/10/2026).
Menurut Nurul, Lanud Sultan Hasanuddin merupakan salah satu simpul vital pertahanan udara nasional. Ketika skuadron baru dan pesawat-pesawat pesanan pemerintah tiba, pangkalan tersebut harus sudah siap dari sisi hanggar, landasan, hingga ruang operasional.
“Pesawat-pesawat baru pasti akan datang. Konsekuensinya kita harus menyiapkan rumahnya. Tidak bisa pesawatnya ada, tapi sarana operasionalnya belum siap,” ujar politisi Partai Golkar tersebut.
Nurul juga menekankan aspek kesejahteraan prajurit. Ia menyebut pembangunan perumahan dinas, asrama, dan fasilitas pendukung lainnya harus berjalan paralel dengan pembangunan fasilitas tempur.
Ia mengakui, penguatan matra udara bukan perkara mudah dari sisi anggaran. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan penjagaan wilayah udara sangat besar, namun harus berbagi prioritas dengan matra darat, laut, dan program pembangunan nasional lainnya.
“Anggaran TNI AU saat ini paling kecil dibanding matra lain. Kalau belum bisa ideal, kita optimalkan dulu apa yang ada, sambil mendorong perencanaan yang lebih komprehensif,” katanya.
Nurul menambahkan, pertahanan yang kuat harus diimbangi dengan diplomasi untuk mencegah konflik terbuka, termasuk untuk merespons pelanggaran wilayah udara.
Senada, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto meminta TNI AU menyusun cetak biru pertahanan udara yang terintegrasi. Menurutnya, blueprint tersebut tidak hanya soal jumlah pesawat, tetapi mencakup siklus lengkap.
“Kita butuh cetak biru yang komprehensif. Dari rekrutmen personel, penambahan pesawat, pemeliharaan alutsista, sampai pendukungnya seperti asrama, gudang logistik, dan gudang amunisi. Semua harus terintegrasi,” ujar Utut pada kesempatan yang sama.
Utut menilai, karakter teknologi dirgantara yang padat modal memang menuntut perencanaan prioritas yang ketat. Namun, ia menegaskan penguatan pertahanan udara adalah keniscayaan untuk menjaga kedaulatan negara.






