BUGIS-MAKASSAR: Kepahlawanan yang Tidak Hanya Mengangkat Senjata, Tetapi Juga Memakmurkan Masjid

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Ada bangsa yang besar karena kekayaan alamnya. Ada bangsa yang disegani karena kemajuan teknologinya.Tetapi ada pula bangsa yang tetap tegak berdiri karena keberanian, kehormatan, dan karakter anak-anak negerinya.

Dan ketika sejarah Indonesia dibuka dengan jujur, maka nama Bugis-Makassar tidak mungkin dipisahkan dari jejak kepahlawanan bangsa ini.

Ironisnya, selama bertahun-tahun narasi sejarah sering terlalu berpusat pada Jawa, seolah-olah denyut perjuangan hanya lahir dari sana. Padahal dari kawasan Timur Indonesia, yang dahulu dianggap jauh dari pusat kekuasaan, lahir manusia-manusia besar yang menjadikan kehormatan lebih penting daripada nyawa.

Bugis-Makassar bukan sekadar identitas suku. Ia adalah karakter. Ia adalah mentalitas. Ia adalah keberanian yang diwariskan turun-temurun melalui nilai siri’ na pacce, rasa malu ketika hidup tanpa kehormatan, dan rasa pedih ketika melihat sesama tertindas.

Karena itu jangan heran jika sejarah mencatat begitu banyak pahlawan nasional lahir dari tanah Bugis-Makassar. Bahkan bila dihitung berdasarkan rasio jumlah penduduk, kontribusi kepahlawanan masyarakat Bugis-Makassar termasuk yang terbesar di Indonesia. Ini bukan kebetulan. Ini adalah buah dari budaya yang sejak lama mendidik anak-anaknya untuk tidak hidup sebagai pengecut.

Sultan Hasanuddin tidak tunduk kepada VOC meskipun tekanan begitu besar. Robert Wolter Monginsidi memilih tiang gantungan daripada menyerah kepada penjajah. Dan Andi Mappanyukki mempertahankan harga diri bangsanya di tengah tekanan kolonialisme.

Mereka tidak bertanya: “Apa keuntungan untuk saya?.”Mereka bertanya: “Apa yang bisa saya korbankan untuk negeri ini?”

Namun kepahlawanan Bugis-Makassar tidak hanya lahir di medan perang. Ia juga tumbuh di mihrab-mihrab masjid, di majelis ilmu, di pesantren, di suara adzan yang menggema dari kampung ke kampung, dan di tangan para tokoh yang menjadikan agama sebagai fondasi peradaban.

Karena bagi masyarakat Bugis-Makassar, keberanian bukan hanya soal mengangkat senjata, tetapi juga keberanian menjaga iman, memelihara akhlak, dan menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Di sinilah sosok Andi Mappanyukki menjadi simbol penting. Beliau bukan hanya pejuang dan bangsawan besar Sulawesi Selatan, tetapi juga figur yang lahir dari garis keturunan dua kerajaan besar Nusantara, yakni *Gowa dan Bone.*

Beliau adalah putra dari Raja Gowa ke-XXXIV, I Makkulau Daeng Serang Karaengta Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Bundu’na (Somba Ilang), serta I Cella We’tenripadang Arung Alita, putri tertua La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmad, Arumpone Bone. Dari darah itulah mengalir perpaduan keberanian, kepemimpinan, dan keteguhan menjaga martabat bangsa serta agama.

Sejak muda, beliau menyaksikan bagaimana tanah Bugis-Makassar dibentuk oleh kehormatan, perjuangan, dan nilai-nilai Islam. Maka ketika Belanda menawarkan kerja sama yang berpotensi melemahkan martabat rakyatnya, Andi Mappanyukki memilih menolak. Sikap itu membuat beliau diturunkan dari jabatan Raja Bone oleh kolonial Belanda dan diasingkan bersama permaisurinya, I Mane’ne Karaengta Ballasari, serta keluarganya selama bertahun-tahun di Rantepao, Tana Toraja.

Tetapi sejarah membuktikan, pengasingan hanya mampu menjauhkan tubuh seseorang, bukan memadamkan prinsip dan kehormatannya. Bahkan menjelang kemerdekaan Indonesia, beliau turut menjadi penasihat BPUPKI. Dan setelah Indonesia merdeka, beliau dengan tegas menyatakan bahwa Kerajaan Bone adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketika sebagian pihak masih mempertahankan kepentingan kedaerahan, beliau justru memilih persatuan bangsa di atas kepentingan kelompok dan kerajaan.

Inilah karakter pemimpin sejati, rela kehilangan kekuasaan demi mempertahankan harga diri dan keutuhan bangsa. Dan yang lebih penting lagi, perjuangan beliau tidak berhenti pada politik dan kebangsaan. Semangat itu diwariskan dalam bentuk kepedulian terhadap pembangunan umat, penguatan masjid, pendidikan Islam, dan syiar keagamaan.

Karena bagi para leluhur Bugis-Makassar, masjid bukan sekadar bangunan. Masjid adalah pusat peradaban. Tempat lahirnya ilmu, akhlak, persatuan, dan kekuatan moral umat. Allah berfirman:
> إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”(QS. At-Taubah: 18)

Karena itu, jika dahulu para leluhur Bugis-Makassar membangun benteng untuk melawan penjajah, maka generasi penerusnya membangun masjid untuk menjaga ruh dan karakter umat. Kemunduran suatu bangsa sering dimulai ketika masjid kehilangan ruhnya. Ketika masjid hanya ramai saat seremoni, tetapi sepi dari pembinaan akhlak dan ilmu. Ketika generasi muda lebih akrab dengan dunia digital daripada rumah Allah. Ketika adzan terdengar, tetapi hati manusia tidak lagi tergugah.

Inilah tantangan besar generasi hari ini. Musuh kita bukan lagi kapal perang kolonial, tetapi kemalasan, dekadensi moral, hilangnya jati diri, budaya instan, kecanduan digital, korupsi, narkoba, dan mental ingin terkenal tanpa perjuangan.

Hari ini banyak orang ingin dihormati, tetapi tidak mau berkorban. Ingin dikenal besar, tetapi tidak tahan proses. Ingin dipuji sebagai penerus pahlawan, tetapi takut menghadapi kesulitan. Padahal darah kepahlawanan tidak diwariskan melalui nama keluarga semata. Ia diwariskan melalui karakter.

Jika leluhur Bugis-Makassar dahulu berani melawan meriam dan penjajahan, maka generasi hari ini harus berani melawan kebodohan, kemunafikan, perpecahan, penyimpangan moral, dan kerusakan sosial yang mengancam masa depan bangsa. Jangan sampai kita hanya bangga menyebut diri “keturunan pejuang”, tetapi hidup tanpa perjuangan.

Sebab kehormatan Bugis-Makassar tidak diukur dari gelar, jabatan, atau harta. Ia diukur dari keberanian menjaga amanah, membela kebenaran, menghormati orang tua, memuliakan ilmu, menghidupkan masjid, dan tidak menjual harga diri demi kepentingan sesaat. Allah SWT. berfirman:
> إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini seakan menjadi tamparan bagi generasi hari ini. Bahwa masa depan Bugis-Makassar, bahkan masa depan Indonesia, tidak akan berubah hanya dengan nostalgia sejarah. Ia berubah ketika generasi mudanya kembali membangun mental pejuang dan spiritualitas yang kokoh.

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai berbicara di media sosial tetapi lemah dalam tindakan. Kita membutuhkan generasi yang kuat ilmunya, kokoh akhlaknya, luas pikirannya, kuat ibadahnya, dan besar pengorbanannya.

Karena sesungguhnya pahlawan tidak selalu lahir di medan perang. Kadang ia lahir di ruang kelas, di masjid, di kampus, di sawah, di laut, dan di tempat-tempat sunyi, ketika seseorang memilih jujur saat orang lain berkhianat, memilih membangun saat orang lain merusak, memilih mempersatukan saat orang lain memecah belah, dan memilih mengabdi saat orang lain sibuk mengejar keuntungan pribadi. Rasulullah SAW.bersabda:
> خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ahmad)

Inilah warisan sejati para pejuang Bugis-Makassar, berani membela bangsa, teguh menjaga agama, dan ikhlas membangun umat. Maka wahai generasi Bugis-Makassar… jangan biarkan darah kepahlawanan itu membeku. Jangan warisi hanya namanya, tetapi warisilah keberaniannya. Jangan sekadar bangga pada sejarah leluhurmu, tetapi jadilah alasan generasi setelahmu bangga kepada kalian.

Karena sebuah bangsa akan runtuh bukan ketika kehilangan kekayaan… tetapi ketika kehilangan karakter pejuangnya. Dan selama masjid masih dimakmurkan, ilmu masih diajarkan, akhlak masih dijaga, serta nilai siri’ na pacce masih hidup dalam jiwa generasinya… maka cahaya kepahlawanan dari Timur itu tidak akan pernah padam.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *