Type to search

Tanya DR Suharsono

Bagaimana Cara Pertahankan Karyawan Berprestasi yang Ingin Resign?

Share

Selamat malam Pak DR Suharsonilo

Salam kenal Pak Doktor. Nama saya Robert asal Bandung. Umur 45 tahun.  Punya anak tiga orang semua laki-laki. Istri asli Sumatera Utara.

Ada yang mengganjal dari pikiran saya yang selama ini saya menyimpan  persoalan bersama istri.

Begini ceritanya. Saya punya usaha pelatihan. Saya didik anak buah saya supaya dapat menangani pelatihan-pelatihan saya. Setelah mereka bisa dan mereka mandiri tanpa bimbingan saya. Saya senang karena bisa sedikit bebas waktu (freedom).

Namun dari situ masalah itu muncul. Karena setelah mereka pintar, bisa bekerja dan mandiri tanpa saya. Mereka resign (keluar kerja) dari kantor saya. Mereka beralasan ingin mendirikan usaha yang sama. Ingin sukses seperti saya. Bagaimana caranya agar mereka tetap mau kerja untuk saya? Kalau begini terus saya kehilangan orang-orang terbaik di perusahaan saya ini.

Bahkan dari sini, kadang saya malas mengajari anak buah ilmu-ilmu kepelatihan saya ini, takut mereka keluar.

Tapi, kalau saya tidak ajari mereka skill yang mumpuni. Masa saya kerja terus, kapan istirahat. Masa saya semua yang kerjakan? Kapan saya bebas Pak.

Saya ingin di usia tua (65 tahun) saya nanti ingin pensiun. Ingin nikmati masa tua. Tolong solusinya Pak…

Dengan kondisi ini mustahil saya bisa pensiun karena rata-rata karyawan terbaik saya didik, resign dari kantor saya dan buka pelatihan yang sama seperti saya.

Tolong solusinya Pak DR Suharsono supaya karyawan terbaik saya tetap ikut saya dan tak ikut usaha buka pelatihan.

Terimakasih

Robert, Bandung (085215****)

 

Jawaban:

Pak Robert punya usaha dan masalah seperti saya. Saya juga mengelola kursus-kursus, pelatihan, dan pendidikan. Masalah-masalah SDM yang pak Robert hadapai, saya sudah mengalaminya berkali-kali. Di perusahaan manapun, SDM keluar masuk menjadi hal biasa. Jangan terlalu dipusingkan seolah-olah SDM kita adalah segalanya. SDM memang salah satu faktor utama dalam menjalankan usaha kita.

Namun kita harus menyadari kita dulu mungkin juga seperti mereka. Kita bekerja, belajar dari perusahaan tempat kita bekerja, dan kita keluar karena ingin membangun masa depan yang lebih baik. Inilah dinamika dalam mengelola SDM. Makanya dalam jurusan Manajemen ada mata kuliah Manajemen SDM. Isi mata kuliah tersebut bagaimana mengelola SDM agar dapat memberikan nilai tambah yang maksimal bagi perusahaan.

Saya ingin berbagi beberapa tips bagaimana mengelola dan mempertahankan SDM terbaik di perusahaan kita.

  1. Membangun hubungan yang baik dengan karyawan.

Karyawan adalah partner dalam memajukan perusahaan. Mereka adalah ‘stake holder’ perusahaan. Karyawan yang kompeten akan memajukan perusahaan. Jangan perlakukan mereka sebagai bawahan semata. Perlakukan mereka sebagai partner. Hubungan baik  akan meningkatkan rasa segan pada pimpinan, menghormati pimpinan, meningkatkan rasa memiliki perusahaan, dan mencintai perusahaan. Perlu dibangun pemahaman bahwa kemajuan kehidupan mereka adalah juga kemajuan perusahaan. Kemajuan perusahaan juga merupakan kemajuan kehidupan mereka.

  1. Dibangun sistem pengelolaan yang kuat

Sistem pengelolaan meliputi banyak unsur, salah satunya adalah SDM. Buat sistem pengelolaan yang terpadu. Semuanya saling berkaitan. Kalau sebagian dari salah satu unsur hilang harus dapat digantikan oleh yang lain. Walaupun hasilnya berbeda. Tetapi perusahaan tidak macet. Siapapun yang keluar dari perusahaan tidak akan dapat meniru semuanya. Kalau kita ingin ‘freedom’, kita harus membangun sistem pengelolaan yang kuat. Kita menyiapkan perusahaan kita ‘auto pilot’, dapat berjalan sendiri tanpa kita.

  1. Setiap karyawan harus memiliki multi kompetensi.

Karyawan jangan hanya menguasai satu bidang tugas saja. Dia harus memahami dan dapat melakukan tugas-tugas lain di luar tugas utamanya. Kalau ada karyawan yang keluar, tugasnya dapat digantikan oleh karyawan lain sambil mencari penggantinya yang tetap. Adakan pelatihan-pelatihan secara rutin. Siapkan SDM lapisan kedua. Siapapun yang keluar harus dapat digantikan oleh karyawan lain. Untuk usaha kecil, pimpinannya sendiri yang harus turun tangan.

  1. Karyawan-karyawan terbaik harus diikat.

Karyawan terbaik merupakan asset, jadi harus diupayakan tetap bekerja di perusahaan. Pengikatan dapat berupa bonus khusus, pemberian saham, kepemilikan, partnership, dan lain-lain yang dapat mempertahankan karyawan yang bersangkutan. Seandainya karyawan tetap ingin keluar, dapat kita tawarkan pembukaan cabang perusahaan dengan sistem franchise yang diperlunak. Mereka bebas mengelola, tetapi tetap memakai bendera perusahaan.

  1. Jangan musuhi karyawan yang keluar.

Karyawan keluar karena mereka ingin kehiduapan seperti kita. Hargai dan hormati mereka. Tetap membangun hubungan baik sama mereka. Suatu ketika kita akan butuh mereka, dan mereka akan butuh kita. Dalam beberapa kasus, saya memanggil kembali karyawan yang sudah keluar dan menjadikannya sebagai konsultan atau sebagai senior trainer. Kalau kita memiliki hubungan baik, keterlibatan mereka merupakan penghormatan bagi mereka. Mereka akan melakukannya dengan senang hati.

Saya sudah melakukan kelima hal tadi dalam pengelolaan lembaga yang saya pimpin. Alhasil, saya sudah berhasil membangun sistem pengelolaan yang kuat. Saya sudah memiliki ‘freedom’. Saya sudah tidak menjabat di jabatan struktural. Saya bebas kemana-mana, tetapi saya bisa masuk kemana-mana di perusahaan saya. Saya ingin menikmati kerja keras saya di masa tua saya.

Silahkan mencoba!

 

[ Kali ini DR Suharsono memberi kesematan buat Anda sekalian yang ingin curhat, ada personalan hidup yg susah diselesaikan terkait keluarga, karir, bisnis, keuangan dll.

Daftar pertanyaan bisa dihubungi Nomor what’s App 081364923457

Catatan: identitas bisa disembunyikan dan jawabannya dimuat di belarakyat.com

Terimakasih

Cc: DR SUHARSONO, MM, MPd]

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *