Anak yang Mendahului Kita ke Surga — Buah Hati yang Menunggu di Pintu Jannah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Sebuah Tausiyah Penghibur Jiwa Bagi Orang Tua yang Kehilangan

Bacaan Lainnya

Pagi ini, mari kita bicara dengan hati. Bukan dengan logika dunia, tapi dengan iman.

Tidak ada perpisahan yang lebih menyesakkan dada selain perpisahan orang tua dengan anaknya. Rumah yang tadinya riuh dengan tawa kecil, tangisan manja, dan langkah kaki mungil, tiba-tiba menjadi sunyi. Baju kecilnya masih tergantung, mainannya masih berserakan, tapi pemiliknya telah pergi.

Namun Islam, agama kasih sayang ini, tidak pernah membiarkan air mata itu jatuh sia-sia.
1. Mereka Tidak Berdosa, Mereka Telah Selesai Tugasnya

Anak-anak kita yang wafat sebelum baligh, mereka belum mukallaf. Pena catatan amal belum diangkat untuk mencatat dosa atas mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pena diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil hingga ia baligh, dari orang tidur hingga ia terbangun, dan dari orang gila hingga ia waras.”

Artinya, anak kita pergi dalam keadaan putih, bersih, suci. Seperti kertas yang belum pernah ternoda tinta hitam. Ia tidak merasakan hisab yang berat, tidak merasakan ketakutan di Padang Mahsyar seperti kita orang dewasa. Ia langsung berada dalam rahmat Allah.

Ia tidak lagi merasakan sakit demam, tidak lagi merasakan lapar, tidak lagi merasakan takut gelap. Dunia yang fana dengan segala ujiannya telah selesai baginya.

2. Di Mana Mereka Sekarang? Bersama Nabi Ibrahim Alaihissalam

Ini yang membuat hati kita harusnya cemburu, bukan hanya sedih.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi beliau melihat surga. Beliau melihat Nabi Ibrahim عليه السلام, Khalilurrahman, dan di sekeliling beliau ada anak-anak kecil yang banyak sekali.

Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, Ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Mereka adalah anak-anak yang meninggal dalam keadaan fitrah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Anak-anak kaum Muslimin.”

Bayangkan, Wahai Ayah, Wahai Bunda. Anakmu yang kau tangisi setiap malam, sekarang sedang bermain-main di taman surga. Diasuh langsung oleh Nabi Ibrahim عليه السلام, bapaknya para Nabi. Mendapatkan susu surga, buah surga, bermain di sungai-sungai surga.

Ia tidak kesepian. Ia tidak di tanah yang gelap sendirian. Ia berada di tempat terbaik, dengan pengasuh terbaik.

3. Mereka Akan Menjemput dan Menunggu di Pintu Surga

Inilah janji yang paling menggetarkan jiwa orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana yang antum kutip:
عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من مسلم يموت له ثلاثة، لم يبلغوا الحنث، إلا أدخله الله الجنة بفضل رحمته إياهم». متفق عليه.

“Tidaklah seorang Muslim ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan sebab limpahan rahmat-Nya kepada mereka.”

Dalam riwayat lain, bahkan disebutkan satu, dua anak pun bisa menjadi penghalang dari api neraka, jika orang tuanya sabar dan ikhlas.

Bahkan ada hadits yang sangat indah, yang diriwayatkan Imam Bukhari: Sesungguhnya anak yang meninggal sebelum baligh itu akan berdiri di pintu surga, ia tidak akan masuk sampai orang tuanya masuk bersamanya. Ia merengek, ia menarik baju ayah dan ibunya. Ia berkata, “Ya Rabbi, orang tuaku!”

Ia menjadi syafi’, pemberi syafaat. Anak yang dulu di dunia kita gendong, di akhirat kitalah yang akan digandeng olehnya menuju surga.

4. Perpisahan Ini Sementara, Pertemuan Kembali Itu Pasti

Allah tidak memutuskan nasab keimanan. Kasih sayang orang tua dan anak tidak putus dengan kematian. Justru kematian itu adalah jembatan menuju pertemuan yang abadi tanpa perpisahan lagi.

Allah berfirman dengan janji yang sangat indah:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan kumpulkan anak cucu itu bersama mereka (di dalam surga).” (QS. At-Thur: 21)

Di dunia kita berpisah dengan tangis. Di surga nanti kita berkumpul kembali dengan tawa. Di dunia pelukan kita terbatas oleh waktu, di surga pelukan itu kekal selamanya. Tidak ada lagi demam, tidak ada lagi rumah sakit, tidak ada lagi kain kafan kecil yang membuat hati hancur.

5. Lalu Apa Tugas Kita yang Ditinggalkan?

Sabar. Kata itu mudah diucap, berat diamalkan. Sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Rasulullah ﷺ pun menangis ketika Ibrahim, putra beliau, meninggal. Air mata menetes, hati bersedih. Namun lisan tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah.

Sabar itu adalah ketika hati hancur, tapi lisan tetap berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.

“Ya Allah, berilah pahala atas musibahku dan gantikan dengan yang lebih baik.”

Bagi ibu yang kehilangan, bagi ayah yang kehilangan, ketahuilah:

Jangan pernah merasa Allah tidak sayang. Justru Allah sayang kepada anak itu, Allah ambil ia sebelum dunia merusaknya. Allah sayang kepada antum, Allah ingin mengangkat derajat antum setinggi-tingginya dengan ujian ini, yang tidak bisa dicapai hanya dengan shalat dan puasa sunnah.

Jadikan rindu sebagai doa. Setiap kali rindu itu datang menusuk, jangan dilawan dengan ratapan. Ubah rindu itu menjadi doa: “Ya Allah, sampaikan salam rinduku kepada anakku di surga-Mu. Jagakan dia untukku.”

Jadikan anak itu sebagai investasi akhirat. Terus kirimkan pahala untuknya dengan amal jariyah atas namanya, sedekah atas namanya. Meski ia sudah dijamin surga, doa orang tua akan meninggikan derajatnya di sana.

Wahai orang tua yang diuji,

Anakmu tidak hilang. Ia hanya mendahuluimu pulang ke kampung halaman kita yang sesungguhnya. Ia sedang menunggu di depan pintu rumah kita yang abadi, sambil membawa bendera kecil bertuliskan, “Aku menunggu Ayah, aku menunggu Ibu.”

Tugas kita sekarang adalah menjaga langkah, menjaga iman, agar kita bisa sampai ke pintu itu dan disambut oleh tangannya yang mungil.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita yang telah wafat sebagai dhakhrun (simpanan pahala), sebagai farathan (yang mendahului menyiapkan tempat), dan sebagai syafaat bagi kita.

Semoga Allah lembutkan hati kita, kuatkan sabar kita, dan pertemukan kita kembali di Jannatul Firdaus, dalam pelukan yang tidak akan pernah terlepas lagi.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *