AD-DUNYA MAZRA’ATUL AKHIRAH: Dunia Adalah Ladang Menuju Akhirat yang Sangat Singat

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS/ Kalsel I

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak manusia mengejar harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan dunia. Tidak sedikit yang menghabiskan seluruh waktunya demi dunia, namun melupakan tujuan utama penciptaannya.

Padahal kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Umur manusia yang rata-rata hanya puluhan tahun tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.

Para ulama sering mengutip ungkapan:

الدنيا مزرعة الآخرة

“Ad-Dunya Mazra’atul Akhirah.” “Dunia adalah ladang untuk akhirat.”

Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Walaupun kalimat tersebut bukan hadis sahih yang kuat sebagai sabda Nabi ﷺ, maknanya benar dan selaras dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasil amal tersebut.

Ibarat seorang petani, siapa yang menanam padi akan memanen padi. Siapa yang menanam duri tidak mungkin memanen bunga. Demikian pula manusia. Apa yang ditanam berupa iman, amal saleh, kejujuran, sedekah, ilmu, dan ibadah akan dipanen sebagai pahala. Sebaliknya, kemaksiatan, kezaliman, kesombongan, dan kedurhakaan akan dipanen sebagai penyesalan.

Allah Menciptakan Dunia Sebagai Tempat Ujian

Allah berfirman:

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup bukan sekadar menjadi kaya, terkenal, atau berkuasa. Yang menjadi ukuran Allah adalah amal terbaik, bukan umur terpanjang atau harta terbanyak.

Dunia Sangat Singkat

Allah berfirman:

“Kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta serta anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kemudian Allah mengibaratkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, lalu menguning, kemudian hancur menjadi jerami.

Betapa banyak orang yang dahulu sangat terkenal, memiliki kekuasaan besar, kekayaan melimpah, tetapi kini hanya tinggal nama di batu nisan.

Rumah mewah ditinggalkan. Mobil mewah diwariskan. Jabatan berpindah. Harta dibagi. Sedangkan amal akan menemani hingga hari kiamat.

Dunia Hanya Sementara

Allah berfirman:

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Semua yang kita banggakan hari ini suatu saat akan hilang. Yang abadi hanyalah amal saleh.

Jangan Tertipu Dunia

Allah berfirman:

“Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16–17)

Banyak orang rela begadang demi pekerjaan, tetapi berat bangun untuk shalat Subuh. Banyak yang rela antre demi konser, tetapi malas menghadiri majelis ilmu.

Banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial, tetapi hanya beberapa menit membaca Al-Qur’an. Inilah tanda ketika dunia mulai menguasai hati.

Seimbangkan Dunia dan Akhirat

Allah berfirman:

“Carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Islam tidak melarang menjadi kaya. Islam tidak melarang menjadi pejabat.

Islam tidak melarang menjadi pengusaha. Yang dilarang adalah ketika dunia masuk ke dalam hati sehingga melupakan Allah.

Harta di tangan adalah nikmat. Harta di hati bisa menjadi musibah.

Hadis Tentang Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Seorang musafir tidak akan membangun rumah permanen di tempat singgah. Ia hanya membawa bekal secukupnya. Begitulah seorang mukmin.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Perbandingan dunia dengan akhirat seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut. Lihatlah berapa air yang menempel di jarinya dibandingkan dengan air laut.” (HR. Muslim)

Setetes air di jari dibanding lautan luas. Begitulah dunia dibanding akhirat.

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh berdakwah selama sekitar 950 tahun. Namun ketika ditanya bagaimana dunia, beliau menjawab bahwa dunia seperti seseorang yang masuk dari satu pintu rumah lalu keluar dari pintu lainnya.

Selama apa pun hidup manusia, tetap terasa sangat singkat dibanding kehidupan akhirat.

Kisah Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman adalah raja yang sangat kaya. Beliau memiliki kerajaan terbesar.

Manusia. Jin. Burung. Angin. Semuanya tunduk atas izin Allah. Namun beliau tetap menjadi hamba yang bersyukur.

Beliau tidak sombong. Beliau menggunakan kekuasaan untuk menegakkan keadilan dan beribadah kepada Allah.

Pelajarannya, kekayaan bukan masalah jika menjadi jalan menuju surga.

Kisah Qarun

Qarun adalah orang yang sangat kaya. Allah berfirman bahwa kunci-kunci gudang hartanya saja dipikul oleh banyak orang yang kuat.

Namun Qarun berkata: “Sesungguhnya aku diberi harta karena ilmuku.”

Ia sombong. Tidak mau bersyukur.

Akhirnya Allah menenggelamkan Qarun beserta rumah dan hartanya ke dalam bumi. (QS. Al-Qashash: 76–82)

Pelajaran besarnya adalah bahwa kesombongan menghancurkan manusia.

Kisah Umar bin Khattab

Ketika menjadi khalifah, Umar bin Khattab memimpin wilayah yang sangat luas. Namun beliau tidur di bawah pohon tanpa pengawal.

Beliau menangis ketika menerima amanah. Beliau takut jika seekor keledai tergelincir di Irak, Allah akan meminta pertanggungjawabannya.

Inilah pemimpin yang menjadikan dunia sebagai ladang akhirat.

Kisah Utsman bin Affan

Ketika kaum muslimin kesulitan air, Utsman membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya.

Saat Perang Tabuk beliau menyumbangkan ratusan unta beserta perlengkapannya.

Hartanya tidak habis. Justru menjadi investasi akhirat.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Saat diperintahkan bersedekah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab: “Allah dan Rasul-Nya.”

Keimanan seperti inilah yang menjadikan dunia hanya sebagai sarana.

Hasan Al-Bashri

Beliau berkata: “Dunia hanyalah tiga hari. Kemarin telah berlalu. Besok belum tentu datang. Yang engkau miliki hanyalah hari ini.”

Maka gunakan hari ini untuk memperbanyak amal. Merugilah orang yang tidak memanfaatkan waktu memgamalkan amalan-amalan mengandung pahala.

Empat Bekal Terbaik

Shalat tepat waktu. Membaca Al-Qur’an setiap hari. Bersedekah walaupun sedikit. Berakhlak mulia kepada sesama. Empat amalan sederhana ini menjadi investasi yang tidak pernah rugi.

Lima Penyesalan Manusia Menjelang Mati

Banyak orang ketika menghadapi sakaratul maut tidak menyesal karena kurang kaya.

Mereka menyesal karena: Kurang shalat. Kurang bersedekah. Kurang berbakti kepada orang tua.

Kemudian, kurang membaca Al-Qur’an. Terlalu sibuk mengejar dunia.

Kematian Pasti Datang

Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Tidak ada seorang pun yang mampu menolak kematian.

Raja. Presiden. Pengusaha. Artis. Ulama. Semuanya akan kembali kepada Allah.

Yang membedakan hanyalah bekal amal. Amal yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Maka selama masih hidup, mari menanam sebanyak mungkin amal yang pahalanya terus mengalir.

Muhasabah Renungkanlah. Berapa jam kita bekerja? Berapa jam kita membuka media sosial? Berapa lama kita membaca Al-Qur’an? Berapa banyak sedekah kita?

Selanjutnya, berapa banyak orang yang telah kita bantu? Jika hari ini adalah hari terakhir hidup kita, sudahkah kita siap bertemu Allah?

Penutup

Dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanyalah perjalanan. Kubur bukan akhir.

Kubur adalah pintu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah di dunia tetapi lupa membangun istana di surga.

Jangan sampai kita mengumpulkan harta bertumpuk-tumpuk, tetapi datang kepada Allah dengan hati yang kosong dari iman dan amal.

Mari jadikan setiap detik kehidupan sebagai ladang amal. Setiap senyuman menjadi sedekah.

Dan setiap ilmu menjadi cahaya. Setiap bantuan menjadi pemberat timbangan amal. Setiap sujud menjadi jalan menuju ridha Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan dunia sebagai ladang untuk memanen kebahagiaan abadi di akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *