Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Banyak manusia sibuk memoles baju luarnya yang akan usang, tapi lupa memoles hatinya yang akan menghadap Allah.”
Tujuh nasehat singkat dari Maulana Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ini adalah cermin untuk memoles hati itu. Mari kita tadabburi satu per satu.
1. JANGAN MENCARI KESALAHAN ORANG LAIN
Kita hidup di zaman di mana mencari aib orang terasa lebih nikmat daripada memperbaiki diri. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai orang yang beriman dengan lisannya namun belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka.” (HR. Abu Daud)
Kesalahan kita sendiri bertumpuk seperti gunung, mengapa sibuk menghitung debu di baju orang lain? Orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain adalah tanda Allah telah mencabut rasa malu atas dosanya sendiri. Sibukkan diri dengan istighfar, bukan dengan investigasi aib manusia.
2. JANGAN MENGHINA ORANG LAIN
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Allah, Tuhan semesta alam, tidak pernah menghina kita saat kita bermaksiat di tengah malam, saat kita lalai shalat, saat kita kotor penuh dosa. Dia justru menutupi dan memanggil kita dengan lembut: “Wahai hamba-hamba-Ku…” Lalu siapakah kita berani menghina ciptaan-Nya?
Menghina fisik, menghina nasab, menghina pekerjaan seseorang adalah bentuk kesombongan yang halus.
3. JANGAN SUKA MEMBUKA AIB ORANG LAIN
Ini adalah dosa yang merusak ukhuwah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)
Renungkan: Allah saja Maha Tahu semua aib, maksiat, dan kebusukan kita sejak baligh hingga hari ini, namun Dia tutupi rapat-rapat. Bahkan di hari Kiamat, Allah masih menutupi aib hamba-Nya yang bertaubat. Jika Allah yang Maha Suci saja Maha Penutup Aib (As-Sattar), mengapa kita yang penuh aib justru menjadi pembuka aib?
4. JANGAN MEREMEHKAN ORANG LAIN
Kita tidak pernah tahu amalan apa yang membuat seseorang dicintai Allah. Bisa jadi tukang sapu jalanan yang kita remehkan, justru tangis taubatnya di sepertiga malam lebih dicintai Allah daripada shalat kita yang penuh riya’.
Allah menghargai sekecil apapun usaha. Allah berfirman: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Jangan remehkan orang karena miskin hartanya, karena boleh jadi kaya takwanya. Jangan remehkan karena bodoh ilmunya, karena boleh jadi tulus hatinya.
5. JANGAN SAKITI HATI ORANG LAIN, TERUTAMA YANG TERANIAYA
Lisan bisa lebih tajam dari pedang. Luka fisik bisa sembuh, luka hati bisa dibawa sampai mati.
Rasulullah SAWmengingatkan tentang doa orang yang teraniaya:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada hijab (penghalang) antara dia dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hati-hati dengan air mata istrimu, dengan keluh kesah orang tuamu, dengan sakit hati tetanggamu, dengan tangis karyawanmu, dengan kecewa saudaramu. Doa mereka yang teraniaya naik langsung ke langit tanpa filter.
6. JANGAN BANGGA DENGAN AMAL IBADAH KITA
Ini penyakitnya ahli ibadah. Merasa sudah banyak shalat, banyak puasa, banyak sedekah, banyak haji.
Padahal hakikatnya, kita tidak pernah tahu apakah amal kita diterima. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah membangun Ka’bah, rumah Allah yang paling mulia, beliau tetap berdoa dengan gemetar: “Ya Rabb kami, terimalah dari kami…” (QS. Al-Baqarah: 127)
Bangga diri (ujub) akan menghapus pahala amal itu sendiri. Iblis diusir dari surga bukan karena kurang ibadah, tapi karena merasa lebih baik. Jaga amal dalam kerendahan hati.
7. JANGAN SOMBONG DENGAN APA YANG KITA MILIKI
Harta, jabatan, paras cantik/tampan, gelar tinggi, nasab mulia, ilmu banyak — semua itu titipan. Bukan milik.
Allah bisa ambil dalam sekejap. Qarun ditenggelamkan dengan hartanya. Firaun ditenggelamkan dengan kekuasaannya.
Ingatlah selalu: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya.” (QS. An-Nahl: 53)
Jika semua dari Allah, apa yang mau kita sombongkan?
PENUTUP
Tujuh larangan ini sejatinya adalah tujuh kunci untuk membersihkan hati. Jika kita bisa menjauhi tujuh hal ini, insyaAllah hidup kita akan lebih tenang, damai, dan dicintai oleh Allah dan manusia.
Mari kita mulai hari ini dengan berjanji pada diri sendiri: tidak mencari aib, tidak menghina, tidak membuka aib, tidak meremehkan, tidak menyakiti, tidak ujub, dan tidak sombong.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tawadhu’, bersih hatinya, lembut lisannya.
Wallahu A’lam Bishawab.
Semoga bermanfaat.






