Doa adalah Nafas, Bukan Hanya sebagai Obat Saat Dibutuhkan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Marilah kita awali dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya. Di pagi hari ini, Allah masih memberikan kita nikmat yang paling mahal, yaitu nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan. Sungguh, jika kita hitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan sebuah renungan yang mungkin menampar kita semua, termasuk diri saya pribadi.

Ada sebuah nasihat ulama yang sangat indah: “Jangan pernah kamu jadikan doa itu seperti obat yang hanya kamu perlukan ketika sakit. Tapi jadikanlah doa itu seperti air yang kamu perlukan setiap hari, setiap jam, setiap detik.”

Jamaah sekalian, mari kita jujur pada diri kita sendiri. Kapan terakhir kali kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan menangis?

Apakah ketika anak kita sakit panas tak kunjung turun?

Apakah ketika usaha kita hampir bangkrut?
Apakah ketika kita terlilit hutang dan ditagih orang?

Apakah ketika jodoh tak kunjung datang, ketika rumah tangga di ujung perceraian?

Mengapa kita baru mencari Allah saat kita terjepit? Mengapa kita baru mengingat sajadah saat air mata sudah tak terbendung?

Saat rezeki lancar, bisnis untung besar, jabatan naik, tubuh sehat bugar, kita merasa semua itu hasil kerja keras kita sendiri. Kita lupa siapa yang memberikan kesehatan itu. Kita lupa siapa yang melancarkan rezeki itu. Kita sombong tanpa sadar.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita dengan sangat keras.

PONDASI PERTAMA: DOA ADALAH PERINTAH, BUKAN PILIHAN

Allah tidak pernah menyuruh kita untuk berdoa dengan kata “jika sempat”. Allah memerintahkan dengan tegas.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
​
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Ayat ini luar biasa. Ada 3 pelajaran besar di dalamnya:

1. Perintah Langsung: “UD’UNI” – Berdoalah kepada-Ku!

Ini adalah perintah dari Raja di atas segala raja. Bukan tawaran. Seorang hamba yang baik pasti akan melaksanakan perintah Tuannya.

2. Janji Pasti: “ASTAJIB LAKUM” – Niscaya Aku Kabulkan!

Allah tidak mengatakan “mungkin”. Allah mengatakan “PASTI AKU KABULKAN”. Janji manusia bisa diingkari, tapi janji Allah mustahil diingkari. Keyakinan inilah yang harus kita tanamkan. Jangan berdoa dengan keraguan.

3. Ancaman Keras: Orang yang enggan berdoa disebut MUSTAKBIR – orang sombong.

Allah menyamakan orang yang tidak mau berdoa dengan orang yang tidak mau beribadah. Dan tempatnya adalah neraka Jahanam dalam keadaan hina. Na’udzubillah.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ad-du’aa-u huwal ‘ibadah” – Doa itu adalah ibadah itu sendiri. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

Dan dalam hadits lain: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa.” (HR. Tirmidzi)

Mengapa doa begitu mulia? Karena di dalam doa ada pengakuan total bahwa kita ini lemah, fakir, hina, dan sangat membutuhkan Allah. Itulah hakikat penghambaan.

Dan Allah juga berfirman:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
​
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 8)

Jangan berharap kepada manusia. Manusia hari ini memujimu, besok bisa mencacimu. Hari ini membantumu, besok bisa meninggalkanmu. Gantungkan harapanmu hanya kepada Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

PONDASI KEDUA: 3 CARA ALLAH MENGABULKAN DOA – TIDAK ADA DOA YANG SIA-SIA

Seringkali kita mengeluh, “Ustadz, saya sudah berdoa bertahun-tahun, kok belum dikabulkan?”

Jamaah sekalian, Rasulullah sudah menjawab kegelisahan ini 14 abad yang lalu.

Beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus silaturahim, melainkan Allah akan berikan kepadanya salah satu dari tiga hal:

(1) Dikabulkan segera di dunia,

(2) Disimpan sebagai tabungan kebaikan di akhirat,

(3) Dipalingkan darinya keburukan yang sebanding.” (HR. Ahmad)

Jadi, setiap doa yang keluar dari lisan kita yang tulus, pasti didengar dan pasti dikabulkan dalam 3 bentuk ini:

Bentuk Pertama: Dikabulkan Langsung. Kita minta kesembuhan, Allah beri kesembuhan. Kita minta rezeki, Allah lapangkan rezeki.

Bentuk Kedua: Ditabung di Akhirat. Allah tahu, jika doamu dikabulkan sekarang, kamu akan celaka. Kamu minta jabatan, padahal jabatan itu akan membuatmu korupsi dan masuk neraka. Maka Allah tidak kabulkan di dunia, tapi Allah ganti dengan istana di surga kelak. Bukankah itu jauh lebih baik?

Bentuk Ketiga: Dijauhkan dari Musibah. Kamu berdoa minta mobil baru, tapi Allah tidak beri mobil baru. Ternyata, di hari yang sama Allah selamatkan kamu dari kecelakaan maut yang seharusnya menimpamu. Kamu tidak tahu, tapi Allah tahu.

Maka, jangan pernah putus asa dalam berdoa. Rasulullah melarang kita untuk tergesa-gesa. Apa itu tergesa-gesa? Yaitu berkata: “Aku sudah berdoa, tapi kok belum dikabulkan juga,” lalu dia berhenti berdoa.

Teruslah berdoa. Sesederhana apapun doamu, Allah mendengarnya. Bahkan desahan hatimu yang tidak terucap pun Allah Maha Mendengar.

PONDASI KETIGA: MENGAPA DOA KITA TERHALANG?

Jika doa adalah senjata, mengapa senjata kita tumpul? Para ulama menjelaskan ada beberapa penghalang doa:

1. Hati yang Lalai dan Makanan Haram

Bagaimana mungkin doa akan naik ke langit jika perut kita diisi dengan harta haram, riba, dan hasil menipu? Rasulullah menceritakan seorang musafir yang kusut, berdebu, menengadahkan tangan ke langit “Ya Rabb, Ya Rabb”, tapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, bagaimana mungkin doanya dikabulkan? (HR. Muslim)

2. Tidak Yakin dan Tidak Khusyuk

Berdoa sambil main HP, berdoa sambil pikiran kemana-mana. Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.

3. Memutus Silaturahim dan Berdoa untuk Dosa

Doa untuk keburukan orang lain, doa agar keluarga pecah, tidak akan dikabulkan.

4. Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Jika kita diam melihat kemungkaran, doa kita akan terhalang.

PONDASI KEEMPAT: JADIKAN AIR ITU MENGALIR DI WAKTU MUSTAJAB

Jika doa itu adalah air, maka ada waktu-waktu di mana air itu menjadi mata air Zam-zam yang paling jernih dan mustajab. Jangan sia-siakan:

1. Sepertiga Malam Terakhir.

Inilah waktu yang paling agung. Saat semua manusia tertidur pulas. Allah turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)
Bangunlah, jamaah. Ambil wudhu, shalat Tahajud 2 rakaat saja, lalu tumpahkan semua isi hatimu.

2. Di Antara Adzan dan Iqamah

Jangan sibuk ngobrol saat jeda ini. Gunakan untuk berdoa. Rasulullah bersabda doa di waktu ini tidak akan ditolak.

3. Saat Sujud Terakhir dalam Shalat.

Posisi terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat sujud. Perbanyaklah doa di sana.

4. Saat Berpuasa, Saat Hujan Turun, dan Saat Hari Jumat

Di hari Jumat ada satu jam, jika seorang muslim berdoa di jam itu, pasti dikabulkan.

Mulai malam ini, jangan lagi kita menjadi hamba yang musiman. Hamba yang datang hanya saat butuh.

Jadilah hamba yang setia. Saat sehat, berdoalah: “Ya Allah, jadikan sehatku untuk ibadah.”

Saat kaya, berdoalah: “Ya Allah, jadikan kayaku untuk membantu agama-Mu.”
Saat lapang, berdoalah: “Ya Allah, jangan jadikan kelapangan ini membuatku lupa kepada-Mu.”

Jadikan doa itu seperti nafas. Tanpa nafas kita mati. Tanpa doa, hati kita mati.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang lisannya selalu basah karena doa dan dzikir. Hamba yang dicintai Allah karena selalu mengetuk pintu-Nya, baik di kala suka maupun duka.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *