3 Musibah Setiap Hari yang Kita Lalaikan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhansyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Pernahkah kita merenung, setiap pagi ketika kita membuka mata, sebenarnya ada tiga musibah besar yang sedang menimpa kita? Bukan gempa, bukan banjir, bukan pula kehilangan pekerjaan. Musibah ini datang setiap hari, tanpa suara, tanpa pemberitahuan, dan paling berbahayanya, kita menganggapnya biasa saja.

Para ulama salaf mengatakan, hakikat musibah terbesar bukanlah yang menimpa badan, tapi yang menimpa hati hingga kita tidak lagi merasa itu adalah musibah. Mari kita bedah satu per satu.

1. MUSIBAH UMUR: Setiap Hari Jatah Hidup Kita Berkurang

Kita selalu bersedih jika harta berkurang Rp. 10.000. Kita cemas jika saldo ATM menyusut. Tapi kita tidak pernah cemas ketika jatah umur kita berkurang 24 jam.

Setiap hari matahari terbenam, artinya satu hari lagi kita semakin dekat dengan liang kubur. Kita semakin jauh dari dunia, dan semakin dekat dengan akhirat. Namun anehnya, kita merayakan bertambahnya umur dengan pesta, padahal hakikatnya umur kita sedang berkurang.

Allah SWT berfirman:
وَالْعَصْرِۙ – اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1-2)
Imam Asy-Syafi’i berkata, seandainya manusia merenungi surat ini saja, niscaya cukuplah bagi mereka.

Kisah Sejarah:

Suatu hari Al-Hasan Al-Bashri, seorang tabi’in yang zuhud, bertemu dengan seorang pria yang sudah berusia 60 tahun.

“Wahai tuan, berapa umur anda?” tanya Hasan Al-Bashri.

“60 tahun,” jawab pria itu.

“Berarti selama 60 tahun anda sedang berjalan menuju Allah, dan sebentar lagi anda akan sampai,” ujar Hasan.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” pria itu terperanjat.

“Tahukah anda makna kalimat itu? Artinya anda adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika anda tahu anda akan kembali, maka persiapkanlah jawabannya.”

Pria itu menangis dan bertanya, “Lalu apa solusinya?”

Al-Hasan menjawab, “Perbaiki sisa umurmu, niscaya Allah akan ampuni umurmu yang telah lalu. Jika kau rusak sisa umurmu, kau akan dihukum karena umurmu yang lalu dan yang tersisa.”

Hari ini, cek kalender. Umur kita 30, 40, 50 tahun. Itu bukan bertambah, tapi sisa. Seperti es batu yang terus mencair, tidak peduli apakah es itu dipakai atau tidak.

2. MUSIBAH HARTA: Setiap Hari Harta Kita Dimakan Dan Akan Dihisab

Musibah kedua adalah harta. Setiap hari ada saja harta kita yang keluar, rusak, atau habis kita makan. Makanan yang kita makan pagi ini, besok sudah jadi kotoran. Baju bagus yang kita banggakan, setahun lagi jadi lapuk. Mobil mewah, setiap hari nilainya turun.

Nabi SAW bersabda: “Seorang hamba berkata: Hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu rusak, dan apa yang ia sedekahkan lalu kekal. Selain itu akan pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.” (HR. Muslim)

Kita bekerja keras siang malam mengejar harta yang 99% nya akan kita tinggalkan untuk ahli waris, yang mungkin mereka perebutkan setelah kita mati. Dan semua itu akan dihisab, dari mana kau peroleh dan ke mana kau belanjakan.

Kisah Sejarah:
Lihatlah Qarun. Namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai simbol kekayaan. Allah berfirman tentang kunci-kunci gudangnya saja harus dipikul oleh orang-orang yang kuat.

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qash: 76)

Apa akhir kisah Qarun? Allah benamkan dia beserta seluruh hartanya ke dalam bumi. Hingga hari ini, tidak ada satu rupiah pun yang bisa ia bawa ke hadapan Allah. Itulah musibah harta. Kita sangka harta itu milik kita, padahal kita hanya dititipi. Kita sangka harta itu menambah kemuliaan, padahal bisa menjadi beban hisab terberat di hari kiamat.

Maka ulama berkata: “Bukanlah musibah ketika hartamu berkurang, tapi musibah adalah ketika hartamu berkurang namun tidak menjadi pahala sedekah.”

3. MUSIBAH DOSA: Setiap Hari Dosa Kita Bertambah, Sementara Kita Lalai Bertaubat

Inilah musibah yang paling mengerikan, namun paling ringan di mata manusia. Umur berkurang, harta berkurang, tapi dosa terus bertambah. Mata melihat yang haram di media sosial, lisan meng-ghibah teman kerja, hati berburuk sangka. Semua tercatat, tidak ada yang terlewat.

Kita merasa aman karena Allah masih menutupi aib kita. Padahal itu adalah istidraj. Allah menunda hukuman agar kita kembali, tapi kita malah menganggap penundaan itu sebagai tanda Allah ridha.

Allah berfirman:”Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah). Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah menimpa seorang mukmin suatu musibah berupa rasa sakit, rasa capek, kekhawatiran, kesedihan, kesusahan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Artinya, jika sakit dan sedih saja bisa menghapus dosa, bagaimana jika kita tidak pernah sakit tapi dosa terus menumpuk? Itulah kerugian yang nyata.

Kisah Sejarah:
Suatu malam, Umar bin Khattab RA memukul kakinya sendiri sambil menangis dan berkata, “Apa yang akan kau katakan nanti di hadapan Allah, wahai Umar?”

Padahal beliau adalah orang yang dijamin surga. Lalu bagaimana dengan kita yang tidak ada jaminan apa-apa, namun tidur nyenyak seolah surga sudah di tangan?

Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar, pernah menangis hingga jenggotnya basah. Muridnya bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku khawatir ketika di hari kiamat nanti Allah menolak amalanku dan berkata, ‘Pergilah wahai orang yang penuh dosa’.”

Jika ulama yang tahajudnya tidak pernah putus saja takut dosanya tidak diampuni, lalu apa yang membuat kita yang tahajudnya sebulan sekali merasa aman?

Penutup: Apa Obatnya?

Tiga musibah ini tidak bisa kita hindari, tapi bisa kita obati.

Obat musibah umur adalah memanfaatkannya untuk taat sebelum ia habis. Rasulullah bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu…” (HR. Al-Hakim).

Obat musibah harta adalah membuatnya kekal dengan sedekah dan infak di jalan Allah. Karena harta yang kita simpan akan habis, tapi harta yang kita sedekahkan akan menemani kita di alam kubur.

Dan obat musibah dosa adalah taubat di sepertiga malam.

Ketika semua manusia tertidur, Allah turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Ku-kabulkan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, akan Ku-ampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)

Maka wahai saudaraku,

Jika hari ini umur kita berkurang satu hari lagi, sudahkah kita menambah amal?
Jika hari ini harta kita berkurang, sudahkah ia berubah menjadi pahala?
Jika hari ini dosa kita bertambah, sudahkah kita mencucinya dengan istighfar dan air wudhu di sepertiga malam?

Jangan tunggu esok untuk bertaubat. Karena musibah terbesar bukanlah kematian, tapi ketika kita mati dan tidak sempat bertaubat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Waktunya bangun. Ambil wudhu. Hamparkan sajadah. Dan menangislah di hadapan Allah sebelum kita ditangisi orang lain.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan yang membacanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *