Hizkia: Konser Andrea Bocelli Momentum Perkuat Soft Power RI

JAKARTA – BELA RAKYAT – Rencana konser penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dinilai sebagai langkah strategis untuk mendongkrak citra budaya Indonesia di mata dunia.

Pengamat Sosial Hizkia Darmayana mengatakan, Borobudur bukan hanya candi dan destinasi wisata. Lebih dari itu, Borobudur adalah simbol keagungan peradaban Nusantara, mahakarya arsitektur, dan kekayaan spiritual yang nilainya diakui dunia.

Karena itu, ketika panggung musik kelas dunia digelar di situs warisan dunia tersebut, efeknya tidak sekadar hiburan, tapi menjadi jembatan untuk memperkenalkan Indonesia lebih luas.
“Ini jangan dilihat cuma sebagai konser musik. Ini pertemuan antara musik kelas dunia dengan warisan peradaban Indonesia. Ini peluang emas untuk semakin memperkenalkan Borobudur ke panggung global,” tegas Hizkia kepada Bela Rakyat, Senin (12/10/2026).
Menurut Hizkia, nama besar Andrea Bocelli punya magnet yang kuat lintas negara dan lintas generasi. Kehadirannya di Borobudur diyakini akan menyedot perhatian media internasional dan membangun asosiasi positif bahwa Indonesia adalah rumah bagi budaya yang agung dan pengalaman seni berkelas.

Hizkia menyebut, momentum ini harus dibaca sebagai strategi diplomasi kebudayaan. Di tengah persaingan global, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militer dan ekonomi, tetapi dari soft power – kemampuan menarik simpati dunia lewat budaya, nilai, dan citra positif.

“Modal kita luar biasa. Borobudur, seni tradisi, musik, kuliner, bahasa, sampai keberagaman budaya kita itu senjata strategis. PR kita adalah bagaimana mengelola modal itu secara kreatif, profesional dan berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menekankan, diplomasi budaya bukan cuma soal menampilkan tarian tradisional di luar negeri. Diplomasi budaya juga bisa hadir lewat kolaborasi cerdas antara situs warisan, seniman dunia, industri kreatif, dan pariwisata, selama tetap menjaga marwah dan nilai sejarah situs itu sendiri.

Namun Hizkia mengingatkan, aspek pelestarian harus jadi harga mati. Penyelenggaraan konser internasional di Borobudur wajib mengedepankan daya dukung kawasan, keamanan struktur candi, kelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap nilai spiritual situs tersebut.

“Ukuran sukses bukan cuma megah panggungnya dan terkenal artisnya. Tapi apa warisan jangka panjangnya? Apakah dunia jadi lebih kenal Borobudur? Apakah ekonomi kreatif lokal ikut terangkat? Apakah posisi budaya Indonesia makin kuat di pergaulan internasional? Itu yang paling penting,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *