Habibie Mahabbah Dorong Pemuda Jadi Kekuatan Kritis, Aspirasi Rakyat Harus Mendapat Ruang

JAKARTA – BELA RAKYAT –  Generasi muda memiliki peran strategis dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Tidak hanya menjadi penerus kepemimpinan bangsa, pemuda juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal kebijakan publik, menyuarakan aspirasi masyarakat, serta mendorong lahirnya solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi rakyat.

Ketua Umum DPP Pemuda LIRA periode 2026–2031 Habibie Mahabbah, SIP, MM menjadi salah satu figur dalam kepemimpinan organisasi kepemudaan yang memiliki ruang untuk memperkuat partisipasi anak muda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Bacaan Lainnya

“Anak muda itu punya peran strategis dalam membangun bangsa dan negara. Dan jangan sampai anak muda tak dilibatkan mengisi ruang partisipasi itu,” kata Habibie kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang terus berkembang, keberadaan pemuda yang kritis dan berintegritas menjadi kebutuhan penting. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengikuti perkembangan situasi, tetapi juga mampu memahami persoalan secara mendalam dan menyampaikan pandangan berdasarkan fakta serta pertimbangan yang rasional.

“Anak muda ini punya cara partisipasi sendiri. Pandangan politiknya masih jernih, nilai perjuangan paling kukuh,” papar Habibie.

Menurut Habinir, sikap kritis merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan lembaga publik dalam memperbaiki kebijakan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memastikan kepentingan masyarakat mendapatkan perhatian.

Namun, lanjutnya, kritik perlu dibangun di atas informasi yang benar dan argumentasi yang kuat. Pemuda harus mampu membedakan fakta dan opini, memeriksa kebenaran informasi, serta menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi. Dengan demikian, suara generasi muda dapat memberikan kontribusi positif bagi kehidupan publik.

Organisasi kepemudaan memiliki posisi strategis untuk mengembangkan budaya berpikir kritis tersebut. Melalui diskusi, kajian kebijakan, pendidikan politik, dan kegiatan sosial, organisasi dapat menjadi ruang pembelajaran bagi kader untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus melatih kemampuan menyampaikan aspirasi secara konstruktif.

Bagi Habibie, Pemuda LIRA perlu penguatan kapasitas kader dapat menjadi salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian dalam menjalankan roda organisasi. Kader tidak hanya perlu memahami dinamika internal organisasi, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai persoalan sosial, pelayanan publik, pendidikan, ketenagakerjaan, dan berbagai isu yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Aspirasi rakyat juga perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan. Masyarakat yang menghadapi kesulitan dalam memperoleh layanan publik, mengakses pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau memenuhi kebutuhan dasar membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalannya kepada pihak yang berwenang,” jelas Habibie.

Dalam konteks tersebut, terang Habibie, generasi muda dapat mengambil peran sebagai penghubung aspirasi masyarakat. Peran itu dapat dilakukan dengan mendengarkan keluhan warga, menghimpun informasi, memeriksa fakta, serta menyampaikan rekomendasi kepada lembaga terkait melalui jalur yang sesuai dengan ketentuan hukum.

“Partisipasi pemuda juga tidak harus selalu diwujudkan melalui demonstrasi atau pernyataan terbuka. Dialog dengan pemangku kepentingan, penyusunan kajian, pengawasan pelayanan publik, dan kegiatan pendampingan masyarakat merupakan bentuk kontribusi yang dapat memberikan dampak nyata apabila dilakukan secara konsisten,” tegss Habibie.

Habibie, sebagai Ketua Umum DPP Pemuda LIRA periode 2026–2031, memiliki kesempatan untuk mendorong organisasi agar semakin dekat dengan kebutuhan generasi muda dan persoalan masyarakat. Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui agenda yang memperkuat kaderisasi, meningkatkan literasi kebijakan, dan membuka ruang partisipasi bagi anggota di berbagai daerah.

Di sisi lain, terang mantan Bemdahara Umum PB HMI ini pemanfaatan media digital memberikan peluang bagi anak muda untuk memperluas jangkauan gagasan dan aspirasi. Meski demikian, penggunaan media sosial harus disertai tanggung jawab, etika komunikasi, dan komitmen terhadap kebenaran informasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Kekuatan organisasi kepemudaan pada akhirnya tidak hanya diukur dari besarnya jumlah anggota atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Kemampuan membangun gagasan, menjaga integritas, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menghadirkan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan juga menjadi ukuran penting keberhasilan sebuah gerakan,” ujarnya.

Karena itu, harapnya, generasi muda perlu terus didorong untuk berani berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan pandangan, dan aktif berkontribusi dalam penyelesaian persoalan bangsa. Sikap kritis yang disertai tanggung jawab akan membantu menciptakan ruang demokrasi yang lebih sehat dan produktif.

“Aspirasi rakyat harus mendapatkan ruang yang layak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Organisasi kepemudaan memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses tersebut melalui kerja nyata, pengawasan yang bertanggung jawab, dan keterlibatan yang konsisten dalam mendorong perbaikan bagi masyarakat,” pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *