VIENNA – Kiprah alumni Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp UNAIR) kembali menembus panggung global melalui sosok Belinda, seorang perawat profesional yang kini berkarier di bidang neurologi di Vienna, Austria. Perjalanan karier internasionalnya tidak hanya mencerminkan kompetensi akademik yang unggul, tetapi juga ketekunan dan keberanian dalam mengambil peluang di tingkat global.
Belinda Anisa Rifanti, S.Kep., Ns. merupakan alumni FKp UNAIR yang berhasil meraih kesempatan bekerja di Austria melalui program International Nurse Development Scholarship (INDS) Batch 1, sebuah program beasiswa internasional yang membuka akses bagi perawat Indonesia untuk mengembangkan karier di Eropa. Informasi mengenai program ini diperolehnya melalui Dekanat FKp UNAIR yang bekerja sama dengan Binawan, lembaga yang memfasilitasi proses seleksi dan persiapan peserta.
Program INDS merupakan inisiatif dari Wiener Gesundheitsverbund (WIGEV), institusi layanan kesehatan terbesar di Vienna, yang mengundang tenaga perawat dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Jordania.
Dalam program ini, WIGEV bekerja sama dengan FH Campus Wien untuk memberikan pelatihan intensif yang mencakup penguasaan Bahasa Jerman, pemahaman budaya Austria, serta peningkatan kompetensi keperawatan sesuai standar internasional.
Perjalanan Belinda dalam program ini berlangsung dengan tahapan yang terstruktur. Ia memulai dengan pelatihan Bahasa Jerman hingga level A2 selama lima bulan di LPK Binawan. Selanjutnya, ia melanjutkan pelatihan selama sembilan bulan di FH Campus Wien yang mencakup Bahasa Jerman level B1, pembelajaran budaya Austria, serta penguatan ilmu keperawatan.
Tahap berikutnya adalah masa magang selama satu tahun sebagai asisten perawat, di mana ia juga melanjutkan pembelajaran Bahasa Jerman hingga level B2. Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, Belinda resmi menjalani kontrak kerja selama empat tahun sebagai Registered Nurse di Austria, dengan peluang untuk melanjutkan karier secara jangka panjang.
Saat ini, Belinda berkiprah sebagai perawat di bidang neurologi di WIGEV, sebuah posisi yang menuntut keahlian klinis tinggi serta kemampuan adaptasi dalam lingkungan layanan kesehatan internasional. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan profesionalnya.
“Bekerja di bidang neurologi di Austria memberikan pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak hanya belajar tentang sistem kesehatan yang maju, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang berfokus pada pasien secara komprehensif,” ujarnya kepada telusur.co.id. Sabtu, (26/9/2026).
Keunggulan program INDS menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Belinda dalam meniti karier global. Program ini tidak memungut biaya dari peserta, kecuali untuk kebutuhan administratif awal seperti pembuatan paspor, SKCK, dan transportasi.
Selain itu, seluruh proses administrasi yang kompleks seperti pengurusan apostille dan visa difasilitasi oleh Binawan. Selama masa pelatihan di Indonesia, peserta juga mendapatkan insentif berupa gaji serta fasilitas asrama dan konsumsi.
Tidak hanya itu, program ini juga terbuka bagi lulusan baru profesi Ners, sehingga memberikan peluang luas bagi generasi muda perawat untuk langsung mengembangkan karier di luar negeri.
Proses pendampingan yang intensif juga menjadi nilai tambah, di mana peserta tetap mendapatkan monitoring hingga tiba di Austria, bahkan disambut langsung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Vienna.
Belinda menambahkan bahwa, keberhasilannya tidak lepas dari dukungan institusi asalnya.
“FKp UNAIR memberikan fondasi yang kuat, baik dari sisi akademik maupun profesional. Hal ini sangat membantu saya dalam beradaptasi dan bersaing di tingkat internasional,” ungkapnya.
Kisah Belinda menjadi representasi nyata dari alumni FKp UNAIR yang mampu bersaing di kancah global dan berkontribusi dalam sistem kesehatan internasional.
Dengan kompetensi yang terus berkembang serta pengalaman lintas budaya, ia tidak hanya membawa nama baik institusi, tetapi juga menunjukkan bahwa perawat Indonesia memiliki daya saing tinggi di dunia global, khususnya dalam bidang spesialis seperti neurologi.
Ke depan, diharapkan semakin banyak alumni keperawatan Indonesia yang mengikuti jejak Belinda untuk berkiprah di tingkat internasional, sekaligus membawa inovasi dan pengalaman global kembali ke tanah air demi penguatan sistem kesehatan nasional. (ari)






