UNESA Kenalkan Warisan Budaya dan Transformasi Digital Administrasi kepada Peserta Thailand

SURABAYA – Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menyelenggarakan International Community Service Program (PkM) bersama Global Business Administration Technological College (TGBC), Thailand.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini pada Rabu (09/9/2026), menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai transformasi digital dalam administrasi sekaligus memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada peserta dari Thailand.

Bacaan Lainnya

Program ini mengangkat tema “Digital Transformation in Administrative Processes, Indonesian Cultural Heritage Management and Administrative Literacy.” Berdasarkan data presensi yang tersedia, tercatat 15 peserta dari TGBC yang terdiri atas tiga dosen dan 12 mahasiswa.

Acara dibuka oleh, Ketua Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran FEB UNESA, Dr. Brillian Rosy, S.Pd., M.Pd. Tim PkM UNESA dalam kegiatan ini terdiri atas Dr. Novi Trisnawati, S.Pd., M.Pd.; Dr. Brillian Rosy, S.Pd., M.Pd.; Dr. Farij Ibadil Maula, S.Pd., M.Pd.; Fitriana Rahmawati, S.Pd., M.Pd.; dan Thusy Tiara Saraswati, S.Pd., M.Pd.

Sebagai pemateri, Fitriana Rahmawati menyampaikan materi mengenai transformasi digital dalam proses administrasi, pengelolaan warisan budaya Indonesia, dan literasi administrasi.

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif, salah satunya melalui pertanyaan pembuka mengenai pengalaman peserta berkunjung ke Indonesia sebelum memasuki pembahasan mengenai budaya dan destinasi wisata.

Peserta kemudian diperkenalkan dengan dua bentuk warisan budaya, yaitu warisan budaya berwujud (tangible cultural heritage) dan warisan budaya tak berwujud (intangible cultural heritage). Warisan budaya berwujud yang dibahas meliputi batik, gerabah, Candi Borobudur, Gedung Sate, dan Lawang Sewu, sedangkan warisan budaya tak berwujud mencakup gotong royong, wayang, dan Tari Kecak.

Pada pembahasan batik, Fitriana mengenalkan sejumlah motif, seperti Kawung, Mega Mendung, Sekar Jagad, Parang, Sido Mukti, dan Jumputan. Ia juga mengenakan batik bermotif Jumputan sebagai contoh langsung dalam penyampaian materi.

Selain warisan budaya, Fitriana juga memperkenalkan berbagai destinasi wisata Indonesia dari sejumlah wilayah. Di Sumatra, peserta diperkenalkan dengan Danau Toba dan Belitung. Di Pulau Jawa, destinasi yang dibahas meliputi Yogyakarta, Borobudur, Prambanan, Kawah Ijen, serta Bromo Tengger Semeru.

Di Bali dan Nusa Tenggara, materi mencakup Canggu, Uluwatu, Ubud, Nusa Penida, Pulau Komodo, Lombok, Padar, Pink Beach, Gili Trawangan, Mandalika, Gunung Rinjani, Sumba, dan Wae Rebo. Sementara itu, di kawasan timur Indonesia, peserta mengenal Tana Toraja, Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat.

“Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai keragaman alam dan budaya Indonesia,” ungkap Fitriana pada keterangan tertulisnya yang diterima telusur.co.id. Jumat, (25/9/2026) malam.

Pada kesempatan yang sama, Novi Trisnawati membahas mengenai budaya dan pariwisata kemudian dikaitkan dengan transformasi digital dalam administrasi melalui penggunaan e-ticketing dan e-SIMAKSI untuk mendukung proses administrasi di destinasi wisata.

“Digitalisasi ini diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi operasional, transparansi data pengunjung, kepastian reservasi, serta mendukung perlindungan ekosistem budaya secara berkelanjutan,” imbuh Novi.

Peserta juga mendapatkan informasi mengenai dokumen dan persyaratan yang perlu diperhatikan dalam perjalanan ke Indonesia, seperti paspor, visa apabila diperlukan, tiket pulang atau perjalanan lanjutan, bukti akomodasi, asuransi perjalanan, dan persyaratan kesehatan.

“Beberapa destinasi juga memiliki ketentuan tambahan, seperti pemesanan tiket secara daring, dokumen kesehatan, perlengkapan tertentu, serta ketentuan konservasi sesuai dengan destinasi yang dikunjungi,” sambung Novi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test, dilanjutkan dengan penyampaian materi dan sesi tanya jawab, kemudian ditutup dengan post-test sebagai bagian dari evaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Sesi tanya jawab memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi dan memperdalam pemahaman mengenai Indonesia, termasuk kondisi geografis, budaya, dan keberagaman masyarakatnya.

Melalui kegiatan ini, kata Novi, peserta memperoleh pengetahuan mengenai transformasi digital dalam proses administrasi sekaligus mengenal keberagaman budaya dan destinasi Indonesia.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dan budaya antara UNESA dan TGBC Thailand melalui pembelajaran dalam konteks internasional,” tutup Novi. (ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *