Hari Tani Nasional, Ketum Pemuda LIRA: Anak Muda Harus Diberi Ruang Bangun Masa Depan Pertanian

JAKARTA – BELA RAKYAT-  Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Habibie Mahabbah, SIP, MM, mengajak generasi muda menjadikan Hari Tani Nasional sebagai momentum untuk melihat pertanian bukan sekadar profesi, tetapi sebagai bagian penting dari masa depan bangsa. Menurut Habibie, anak muda harus diberi ruang untuk belajar, berinovasi, membangun bisnis pertanian, mengakses permodalan, hingga mengembangkan teknologi pertanian.

Hari Tani Nasional diperingati setiap 24 September. Tanggal tersebut berkaitan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), yang ditetapkan pada 24 September 1960. Pemerintah kemudian menetapkan 24 September sebagai Hari Tani Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 169 Tahun 1963.

Bacaan Lainnya

Habibie mengatakan, peringatan Hari Tani Nasional harus menjadi kesempatan untuk memberikan penghormatan kepada para petani yang selama ini bekerja menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Ia menilai, pekerjaan petani membutuhkan ketekunan, kesabaran dan keberanian menghadapi berbagai ketidakpastian.

Petani adalah bagian penting dari ketahanan pangan dan kehidupan bangsa. Di balik makanan yang kita nikmati setiap hari, ada keringat petani yang bekerja sejak pagi, mengolah tanah, menanam, merawat, sampai memanen,” kata Habibie dalam keterangannya kepada wartawan untuk memperingati Hari Tani Nasional 2026.

Sebagai anak petani, Habibie mengaku memiliki pengalaman langsung tentang nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dari dunia pertanian. Bagi dia, petani mengajarkan karakter yang sangat penting bagi generasi muda, seperti kerja keras, kesabaran, ketekunan, kejujuran, disiplin, keberanian menghadapi risiko, hidup sederhana, tanggung jawab, dan tidak mudah menyerah.

“Sejak kecil saya melihat bagaimana petani bekerja. Mereka tidak bisa memaksa tanaman tumbuh lebih cepat. Ada proses yang harus dijalani, ada musim yang harus ditunggu, ada risiko yang harus dihadapi. Dari situ saya belajar bahwa keberhasilan membutuhkan kesabaran, kerja keras dan konsistensi,” ujarnya.

Habibie juga mengenang pesan almarhum ayahnya yang hingga kini masih dipegangnya. “Saya ingat kata Bapak saya, kerja-kerja petani tak ada korupsi. Jadi penghasilannya berkah. Itu kata Bapak saya,” tutur Habibie mengenang almarhum ayahnya.

Bagi Habibie, pesan tersebut bukan hanya tentang pekerjaan bertani, tetapi juga tentang nilai kejujuran. Ia menilai, petani mengajarkan bahwa mendapatkan penghasilan melalui kerja keras, keringat sendiri dan cara yang halal merupakan bentuk kehormatan yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda.

“Sampai hari ini saya masih melihat bertani sebagai pekerjaan yang mulia. Bertani itu pekerjaan yang memberikan kehidupan kepada banyak orang. Karena itu, jangan sampai anak-anak muda memandang profesi petani sebagai pekerjaan kelas dua,” tegasnya.

Lebih lanjut Habibie menjelasjan, tantangan pertama yang harus dijawab adalah bagaimana membuat generasi muda semakin dekat dengan dunia pertanian. Pertanian harus dibuka sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan. Anak muda perlu mendapatkan kesempatan belajar mengenai teknologi pertanian, pengolahan hasil, pemasaran digital, bisnis pangan, hingga pengembangan produk bernilai tambah.

Mantan Bemdagara Umum PB HMI dan eks Wakil Sekjen DPP KNPI ini juga menekankan pentingnya kesejahteraan petani. Menurut Habibie, petani tidak cukup hanya didorong meningkatkan produksi. Mereka juga membutuhkan akses pasar, harga yang layak, perlindungan usaha, permodalan, infrastruktur pertanian, irigasi, serta kepastian agar hasil kerja keras mereka dapat memberikan penghidupan yang layak bagi keluarga.

Di sisi lain, Habibie mendorong agar agenda reforma agraria dan perlindungan lahan pertanian terus diperhatikan. Menurutnya, kepastian hak atas tanah dan akses yang adil terhadap sumber daya agraria merupakan bagian penting dalam menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan. Semangat UUPA sendiri berkaitan erat dengan penataan hukum agraria dan kepastian hak atas tanah.

Tak hanya itu, Habibie juga mendorong modernisasi pertanian. Digitalisasi, teknologi, informasi cuaca, mekanisasi, pengelolaan irigasi, inovasi benih dan metode produksi, hingga pemasaran berbasis digital menurutnya harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas petani tanpa menghilangkan kearifan lokal yang telah diwariskan antargenerasi.

“Regenerasi petani harus menjadi perhatian. Anak muda harus diberi ruang untuk belajar, mengembangkan bisnis pertanian, mengakses modal dan membangun inovasi. Kalau anak muda masuk ke sektor pertanian dengan ilmu, teknologi dan semangat kewirausahaan, maka pertanian bisa menjadi sektor yang sangat menjanjikan,” kata Habibie.

Ia menambahkan, ketahanan pangan tidak dapat dibebankan hanya kepada petani. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat dan generasi muda harus membangun ekosistem pertanian yang kuat. Bagi Habibie, negara perlu memastikan petani tidak berjalan sendirian menghadapi tantangan zaman.

“Kalau kita ingin pangan kita kuat, maka petaninya juga harus kuat. Kalau kita ingin anak muda membangun Indonesia, maka anak muda harus diberi kesempatan masuk ke sektor pertanian. Jangan hanya bicara ketahanan pangan, tetapi kita lupa memastikan orang yang memproduksi pangan bisa hidup sejahtera,” ujarnya.

Menutup peringatan Hari Tani Nasional 2026, Habibie mengajak generasi muda untuk kembali menghargai tanah, pangan dan profesi petani. Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi diterjemahkan menjadi keberpihakan terhadap kesejahteraan petani, regenerasi petani muda, inovasi teknologi dan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

“Selamat Hari Tani Nasional. Terima kasih kepada para petani Indonesia. Teruslah menjadi manusia yang bekerja dengan jujur, sabar dan penuh tanggung jawab. Bagi anak muda, mari kita belajar dari karakter petani. Kerja keras, sabar, tekun, jujur dan tidak mudah menyerah. Dari tanah dan tangan petanilah masa depan pangan Indonesia tumbuh,” pungkas Habibie.

Puji Kinerja Menteri Pertanian

Tak lupa memuji kinerja kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Di mana, pertama kinerja produksi beras meningkat. Data yang dikutip Kementan dari BPS mencatat produksi padi 2025 mencapai 71,95 juta ton GKP, naik dari 63,51 juta ton pada 2024 atau sekitar 13,29 persen. Produksi beras konsumsi 2025 diproyeksikan 34,77 juta ton.

Kedua, cadangan beras pemerintah meningkat. Pada 23 April 2026, Kementan melaporkan stok Cadangan Beras Pemerintah mencapai 5.000.198 ton, disebut sebagai rekor untuk periode April.

Ketiga, delapan komoditas disebut telah mencapai swasembada pada 2026, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Kementan menyebut data neraca pangan menunjukkan produksi delapan komoditas tersebut melampaui kebutuhan nasional.

Keempat, Dukungan terhadap petani melalui pupuk. Pemerintah menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen, sementara Kementan melaporkan penyaluran pupuk terus berjalan.

Lima. irigasi dan pompanisasi diperkuat. Pemerintah menjalankan program pompanisasi untuk menjaga produksi menghadapi potensi kekeringan; pada Maret 2026 pemerintah menyebut sekitar 1,2 juta hektare telah ditangani dan ada rencana tambahan 1 juta hektare.

Enam, jagung dan komoditas lain juga menjadi sasaran. Pemerintah tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi mendorong kemandirian jagung dan komoditas pangan strategis lainnya.

“Kita juga melihat ada sejumlah langkah pemerintah melalui Kementerian Pertanian di bawah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang perlu diapresiasi, terutama dalam mendorong peningkatan produksi pangan, memperkuat cadangan beras, memperbaiki irigasi dan pompanisasi, serta memberikan dukungan terhadap akses pupuk bagi petani. Data pemerintah menunjukkan produksi beras dan sejumlah komoditas strategis mengalami peningkatan,” papar Habibie.

“Tetapi bagi kami, ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya seberapa banyak produksi meningkat. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana peningkatan produksi tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Petani harus mendapatkan harga yang layak, akses pasar, kepastian usaha, teknologi, permodalan dan ruang yang lebih besar bagi generasi muda.l,” sambung Habibie.

“Kami berharap momentum Hari Tani Nasional menjadi pengingat bahwa petani harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Anak muda juga harus diberi kesempatan masuk ke sektor pertanian dengan teknologi, inovasi dan kewirausahaan. Kalau produksi pangan kuat dan petaninya sejahtera, maka fondasi ketahanan pangan Indonesia juga semakin kuat,” tutup Habibie.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *