BEKASI | BELA RAKYAT — Demokrasi desa tak selalu lahir dari panggung yang megah. Kadang ia tumbuh dari sebuah ruangan sederhana, dari tangan yang mengambil undian, dari selembar kertas, lalu dari empat angka yang perlahan menjelma menjadi simbol perjalanan menuju sebuah amanah. Kamis, 27 Agustus 2026, Desa Cibuntu memasuki salah satu babak penting Pilkades melalui pengundian nomor urut calon kepala desa. Hermansyah, S.H., M.H. mendapat nomor 1; Dwi Haryanto nomor 2; Nadih Rusmana nomor 3; dan Dadang Rukmana nomor 4. Empat nomor, empat jalan perjuangan, tetapi hanya satu amanah yang kelak dititipkan rakyat.
Pengundian nomor urut bukan sekadar seremoni administratif. Di balik angka-angka itu tersimpan harapan, kecemasan, dan masa depan sebuah desa. Pilkades merupakan ruang demokrasi yang harus dijaga dalam bingkai kepastian hukum, keterbukaan, kesetaraan, ketertiban, serta penghormatan terhadap hak masyarakat dalam menentukan pemimpinnya. Secara nasional, penyelenggaraan pemerintahan desa berlandaskan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah, antara lain, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024, sementara pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Bekasi memiliki pijakan regulasi daerah. Pilkades Cibuntu menjadi bagian dari Pilkades Serentak Kabupaten Bekasi 2026 yang mencakup 154 desa.
Nomor 1 Hermansyah, nomor 2 Dwi Haryanto, nomor 3 Nadih Rusmana, nomor 4 Dadang Rukmana. Angka boleh berbeda, tetapi kedudukan sebagai calon dan hak untuk mendapatkan perlakuan yang setara harus tetap sama. Nomor urut bukan mahkota kemenangan, bukan pula ramalan tentang siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Ia hanyalah tanda dalam perjalanan panjang menuju pilihan rakyat. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak sedang memilih sekadar angka atau nama, melainkan memilih arah: ke mana Cibuntu hendak dibawa, bagaimana pembangunan dijalankan, pelayanan diperbaiki, potensi desa dikembangkan, dan masa depan warga diperjuangkan.
Di tengah perjalanan demokrasi itu, H. Ata Suryadi, S.H., Ketua Panitia Pilkades Desa Cibuntu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, memikul amanah untuk memastikan setiap tahapan berjalan tertib dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam keterangannya kepada awak media, ia menegaskan komitmennya untuk berusaha semaksimal mungkin mewujudkan demokrasi desa yang langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER), sekaligus menjaga kondusivitas selama proses Pilkades Cibuntu berlangsung. Baginya, panitia bukan hanya bekerja menyelesaikan tahapan administratif, tetapi juga ikut menjaga kepercayaan masyarakat agar demokrasi tidak kehilangan marwahnya. Satu prosedur yang transparan dapat menumbuhkan kepercayaan; sebaliknya, satu persoalan yang tidak terang dapat meninggalkan bayang-bayang panjang dalam ingatan publik.
Bagi Hermansyah, S.H., M.H., calon nomor urut 1, angka yang diperolehnya memiliki makna tersendiri. Ia menyampaikan rasa syukur karena proses pengundian berlangsung lancar dan nomor 1 menjadi nomor yang sejak awal diharapkannya, “Alhamdulillah kegiatan pengundian nomor berjalan dengan lancar. Ini merupakan salah satu tahapan dalam Pilkades dan saya mendapatkan nomor 1 seperti yang dicita-citakan bersama. Angka 1 itu merupakan simbolik ketauhidan terhadap Sang Pencipta, dan semoga saya diijabah oleh Allah SWT untuk menjadi Cibuntu 1. Bagi dirinya, angka bukan sekadar identitas di atas surat suara, tetapi doa yang ingin dibawa menuju pengabdian,” tutur Hermansyah kepada awak media, Kamis (27/8/2026).
Sementara Dwi Haryanto, atau yang akrab disapa Bang Lepay, calon nomor urut 2, melihat nomor yang diperolehnya sebagai jawaban atas harapan yang telah ia bawa selama berbulan-bulan, “Apa yang diimpikan dari berbulan-bulan lalu, dirinya ingin dapat nomor 2 dan hari ini dikabulkan oleh-Nya. Saya ingin Desa Cibuntu berubah menjadi lebih baik ke depannya. Jika saya terpilih, langkah awal yang ingin saya lakukan adalah membenahi, bebenah Cibuntu,” ujarnya.
Sementara itu, Nadih Rusmana, calon nomor urut 3, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran tahapan tersebut. “Pengundian nomor urut Cakades hari ini berjalan dengan baik, Alhamdulillah. Saya ingin membuat Cibuntu lebih baik lagi ke depannya,” kata Nadih. Dua pernyataan itu membawa satu benang merah: nomor hanyalah awal, sedangkan pekerjaan sesungguhnya adalah menghadirkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
Adapun Dadang Rukmana, calon nomor urut 4, mengapresiasi kerja panitia yang menurutnya telah menjalankan tahapan dengan baik, “Alhamdulillah kegiatan pengundian nomor urut calon kepala desa hari ini berjalan dengan baik dan lancar, dikarenakan panitia Pilkades di desa kita berintegritas tinggi dan mereka bekerja dengan baik dari tahap awal hingga sekarang. Baru satu-satunya panitia yang menjalankan pengundian nomor urut Cakades se-Kabupaten Bekasi. Perihal nomor urut saya sangat bersyukur dapat nomor urut 4, awal dari segala keberhasilan saya itu di nomor 4.” Pungkas Dadang.
Empat suara kandidat itu kini bertemu pada satu ruang demokrasi yang sama: ruang untuk meyakinkan rakyat dengan gagasan, rekam jejak, integritas dan keberanian mengambil tanggung jawab. Menjelang 20 September 2026, ketika angka-angka itu akhirnya berhenti menjadi sekadar nomor dan berubah menjadi pilihan rakyat, ujian sesungguhnya pun dimulai. Pilkades bukan arena untuk saling meniadakan, melainkan jalan untuk menunjukkan siapa yang paling siap menerima amanah. Politik uang, fitnah, hoaks, provokasi dan ujaran yang memecah persaudaraan hanya akan membuat demokrasi kehilangan cahaya. Sebaliknya, kompetisi yang sehat akan mengajarkan bahwa berbeda pilihan bukan berarti berbeda saudara. Pada akhirnya, Cibuntu tidak hanya membutuhkan seorang pemenang, tetapi seorang pemimpin yang mampu merangkul seluruh warga, baik yang memilih maupun yang tidak memilihnya. Empat nomor telah lahir dari sebuah pengundian, tetapi hanya satu amanah yang kelak dipikul. Ketika suara rakyat telah dijatuhkan, angka 1, 2, 3 dan 4 akan kembali menjadi bagian dari sejarah. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan: mampukah siapa pun yang terpilih menjaga kepercayaan rakyat, merawat persaudaraan, dan menjadikan jabatan bukan sebagai mahkota kekuasaan, melainkan jalan panjang pengabdian bagi Cibuntu?
(CP/red)






