Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada kalanya persoalan ekonomi terasa jauh dari kehidupan kita. Kurs dolar, inflasi, suku bunga, cadangan devisa, dan neraca perdagangan terdengar seperti bahasa para ekonom. Tetapi ketika rupiah melemah, dampaknya segera hadir di pasar, warung, usaha kecil, biaya pendidikan, transportasi, hingga pengeluaran rumah tangga.
Data Bank Indonesia menunjukkan JISDOR berada di sekitar Rp17.703 per US$1 pada 24 Agustus 2026. Angka ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih nyata. Namun, kondisi ekonomi Indonesia tidak berarti sedang berada dalam keruntuhan. Cadangan devisa pada akhir Juli 2026 masih sekitar US$145,3 miliar, sementara inflasi Juli tercatat 2,88 persen, masih dalam sasaran yang ditetapkan.
Artinya, kita tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh lengah. Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian perdagangan, geopolitik, harga energi dan komoditas, serta perubahan arus modal internasional. Ketika dolar menguat dan investor global lebih berhati-hati, negara berkembang seperti Indonesia ikut merasakan tekanannya.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang paling merasakan dampaknya? Bukan mereka yang memiliki banyak dolar, tetapi masyarakat yang penghasilannya terbatas. Ketika biaya produksi naik, harga barang dapat ikut meningkat. Ketika harga naik sementara pendapatan tidak bertambah, daya beli masyarakat menurun. Di sinilah pelemahan rupiah berubah dari sekadar angka menjadi persoalan kehidupan.
Inflasi bukan hanya angka statistik. Ia adalah ketika seseorang mulai mengurangi kebutuhan karena pendapatannya tidak lagi mampu mengejar harga. Karena itu, situasi ekonomi membutuhkan bukan hanya kebijakan pemerintah, tetapi juga ketahanan masyarakat.
Di sinilah seorang Muslim memiliki kompas yang berbeda. Allah berfirman, “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Rupiah boleh melemah, tetapi rezeki Allah tidak ikut melemah.
Dolar hanyalah alat ukur. Pekerjaan adalah ikhtiar. Usaha adalah jalan. Tetapi sumber rezeki tetap Allah SWT. Karena itu, menghadapi ekonomi sulit tidak berarti pasrah. Tawakal bukan meninggalkan usaha, tetapi berusaha sekuat tenaga tanpa menggantungkan hati kepada selain Allah.
Ketika ekonomi bergejolak, setidaknya ada empat sikap yang perlu dibangun. Pertama, perkuat iman, bukan kepanikan. Jangan biarkan berita ekonomi membuat kita kehilangan harapan. Cari informasi yang benar, hindari hoaks, dan jangan mengambil keputusan karena ketakutan.
Kedua, hidupkan qana’ah dan kecerdasan finansial. Bedakan kebutuhan dan keinginan. Kendalikan belanja konsumtif, kurangi utang yang tidak produktif, perkuat tabungan, dan tingkatkan kemampuan mengelola keuangan. Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha. Qana’ah adalah mampu bersyukur tanpa kehilangan semangat untuk memperbaiki kehidupan.
Ketiga, tingkatkan ikhtiar dan kompetensi. Ketika dunia ekonomi berubah, kita juga harus berubah. Belajar keterampilan baru, memanfaatkan teknologi, memperluas jaringan, memperkuat usaha, dan mencari sumber pendapatan yang lebih beragam. Jangan hanya bertanya, “Mengapa ekonomi semakin sulit?” Tanyakan pula, “Apa yang harus saya tingkatkan agar tetap mampu bertahan dan berkembang?”
Keempat, jangan selamat sendiri. Ekonomi yang sulit adalah momentum untuk menghidupkan kembali ukhuwah dan solidaritas. Bantu tetangga yang kesulitan, dukung UMKM, beli produk lokal, berbagi ilmu dan kesempatan, serta jangan menjadikan kesulitan orang lain sebagai peluang untuk mengambil keuntungan secara zalim.
Namun, ketahanan ekonomi tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada rakyat. Pemerintah harus memastikan kebijakan ekonomi mampu menjaga daya beli, stabilitas harga, lapangan kerja, UMKM, pangan, dan kepercayaan masyarakat. Stabilitas makro memang penting, tetapi tujuan akhirnya harus kembali kepada kesejahteraan manusia.
Apa artinya pertumbuhan ekonomi jika rakyat semakin sulit membeli kebutuhan pokok? Apa artinya investasi meningkat jika kesempatan kerja tidak cukup luas? Apa artinya cadangan devisa kuat jika sebagian masyarakat kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar ekonomi tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi juga terasa kuat dalam kehidupan rakyat.
Sehingga dengan demikian, pelemahan rupiah bukan hanya ujian terhadap ekonomi, tetapi juga ujian terhadap karakter. Ketika sulit, apakah kita tetap jujur? Ketika pendapatan berkurang, apakah kita tetap bersyukur? Ketika harga naik, apakah kepedulian kita justru ikut turun? Ketika masa depan terasa tidak pasti, kepada siapa hati kita bergantung?
Di sinilah tauhid menemukan makna praktisnya. Rupiah boleh anjlok. Harga boleh naik. Ekonomi boleh bergejolak. Tetapi iman, akhlak, ikhtiar, dan persaudaraan jangan ikut runtuh.
Kita mungkin tidak mampu mengendalikan kurs dolar. Tetapi kita masih mampu mengendalikan cara kita menghadapinya. Kita mungkin tidak mampu menentukan harga pasar. Tetapi kita dapat menentukan harga diri, kejujuran, dan kemanusiaan kita.
Karena itu, jangan hanya berusaha membuat rupiah kuat. Mari juga membuat keluarga lebih tangguh, masyarakat lebih peduli, usaha lebih produktif, dan iman lebih kokoh.
Sebab ketika angka-angka ekonomi bergetar, seorang Muslim membutuhkan sesuatu yang lebih kokoh daripada angka: itulah Tauhid.
Rupiah boleh anjlok, ekonomi boleh bergejolak, tetapi tauhid jangan. Karena ketika dunia goyah oleh angka, hati seorang Mukmin harus tetap teguh karena Allah.





