KOTA BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Ketika orang tua harus berangkat bekerja demi mengejar nafkah, ada satu pertanyaan yang tak boleh dibiarkan menggantung: siapa yang memastikan anak-anak tumbuh dalam pengasuhan yang aman, bermutu, dan penuh kasih? Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) hibah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di TK Al-Istiqomah, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu (19/8/2026). Program tersebut menempatkan kebutuhan anak usia dini bukan sekadar sebagai urusan domestik keluarga, melainkan bagian penting dari tanggung jawab sosial dan pembangunan sumber daya manusia.
Program PkM tersebut dilaksanakan Tim PkM Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Bani Saleh, dipimpin Widi Astuti, M.Pd. selaku ketua tim, bersama anggota dosen Ilham Jaya, M.Pd., serta mahasiswa Elsa Ratu Maryam dan Anna Fitria. Gagasan yang dibangun tidak berhenti pada konsep penitipan anak, tetapi diarahkan menjadi model pengasuhan yang aman, terstruktur, edukatif, dan berpihak pada kebutuhan tumbuh kembang anak. Semangat itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menempatkan pendidikan sebagai proses untuk mengembangkan potensi peserta didik sekaligus membangun manusia yang beriman, berakhlak, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Widi Astuti, M.Pd., selaku Ketua Tim PkM, mengatakan, “Day care berbasis masyarakat ini kami kembangkan berangkat dari realitas sosial yang ada di lingkungan Aren Jaya, khususnya keluarga yang kedua orang tuanya harus bekerja atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti itu, pengasuhan anak usia dini sering kali dialihkan kepada kakek, nenek, atau anggota keluarga lainnya yang sudah lanjut usia. Kami melihat kondisi tersebut bukan sebagai kesalahan keluarga, melainkan sebagai tantangan sosial yang membutuhkan solusi bersama. Karena itu, melalui program ini kami ingin menghadirkan sebuah model pengasuhan yang dapat membantu keluarga, sekaligus memastikan anak tetap memperoleh haknya untuk tumbuh, berkembang, bermain, belajar, berinteraksi, dan mendapatkan perlindungan dalam lingkungan yang aman dan terarah,” jelas Widi kepada awak media, Rabu (19/8/2026).
Lebih jauh, Widi Astuti, M.Pd. menegaskan, “Kami tidak ingin day care hanya dipahami sebagai tempat menitipkan anak ketika orang tua bekerja. Day care yang kami bangun harus menjadi lingkungan pengasuhan yang memiliki arah, tujuan, standar layanan, serta perhatian terhadap perkembangan anak secara utuh. Orang tua dapat bekerja dengan lebih tenang, sementara anak mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan usianya. Bagi kami, pengasuhan bukan sekadar memastikan anak sudah makan, tidur, dan bersih, tetapi juga bagaimana anak memperoleh stimulasi, kesempatan bermain, komunikasi, interaksi sosial, pembiasaan positif, serta ruang untuk mengekspresikan dirinya secara sehat,” tegasnya.

Ia menambahkan, “Model layanan tersebut menempatkan anak sebagai pusat pengasuhan dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan, mulai dari sosial-emosional, kognitif, motorik, seni, agama dan moral, hingga bahasa. Aktivitas bermain, pembiasaan, komunikasi, kreativitas, dan interaksi sosial menjadi instrumen penting agar pengasuhan tidak berubah menjadi rutinitas mekanis. Pendekatan tersebut juga relevan dengan kerangka regulasi pendidikan yang terus diperbarui pemerintah, termasuk Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, yang saat ini berstatus berlaku dan mengatur antara lain perencanaan, pelaksanaan, serta penilaian proses pembelajaran,” imbuhnya.
Masih menurut Widi Astuti, M.Pd., “Harapan kami, model ini tidak hanya selesai sebagai sebuah program PkM atau berhenti ketika kegiatan hibah berakhir. Kami ingin membangun fondasi yang dapat diteruskan oleh masyarakat dan lembaga mitra. Karena itu, SOP, administrasi, pola layanan, pembagian peran, serta pemahaman mengenai kebutuhan perkembangan anak menjadi bagian penting dalam proses pengembangan. Kami ingin masyarakat memiliki model yang dapat dipelajari, dievaluasi, diperbaiki, kemudian direplikasi di lingkungan lain yang menghadapi persoalan serupa. Dengan demikian, program ini memiliki keberlanjutan dan manfaat yang lebih luas,” tuturnya.

“Secara filosofis, pengembangan day care berbasis masyarakat juga menyentuh mandat negara dalam perlindungan anak. UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta memperoleh perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Karena itu, pengasuhan yang berkualitas bukan kemewahan sosial, melainkan bagian dari ikhtiar memastikan hak-hak anak benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di Aren Jaya, gagasan tersebut sedang diterjemahkan dari bahasa regulasi menjadi kerja nyata: membangun ruang tempat anak tidak sekadar ditunggu kepulangannya, tetapi didampingi pertumbuhannya,” terangnya.
Pada akhirnya, Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan layanan penitipan anak. Ia adalah upaya merajut kembali tanggung jawab keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, dan negara dalam satu simpul kepentingan: masa depan anak. Widi Astuti, M.Pd. menutup dengan pernyataan, “Kami berharap program ini menjadi langkah kecil yang melahirkan perubahan besar. Anak-anak hari ini adalah manusia yang akan menentukan wajah masyarakat di masa depan. Kalau sejak usia dini mereka mendapatkan pengasuhan yang aman, stimulasi yang tepat, pendidikan yang baik, dan lingkungan yang penuh kepedulian, maka sesungguhnya kita sedang menanam investasi peradaban. Kami ingin Aren Jaya menjadi contoh bahwa ketika perguruan tinggi, sekolah, keluarga, dan masyarakat bergerak bersama, persoalan pengasuhan dapat diubah menjadi kekuatan untuk membangun generasi yang lebih sehat, mandiri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.” Pungkas Widi Astuti.
(CP/red)






