Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS / Kalimantan Selatan I
Tausyiah Keislaman Memaknai Kemerdekaan, Mensyukuri Nikmat Allah, dan Melanjutkan Perjuangan dengan Amal Saleh
Mukadimah: Kemerdekaan adalah Nikmat yang Harus Disyukuri
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat persaudaraan, dan berbagai nikmat yang tidak mungkin mampu kita hitung satu per satu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti jalan kebenaran hingga akhir zaman.
Momentum kemerdekaan bukan sekadar kesempatan untuk mengibarkan bendera Merah Putih, mengikuti upacara, memasang atribut kemerdekaan, mengadakan perlombaan, atau mengucapkan “Dirgahayu Republik Indonesia”.
Kemerdekaan jauh lebih dalam daripada itu. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri kita sendiri:
Setelah bangsa ini merdeka, apa yang sudah kita lakukan untuk mengisinya?
Apakah kemerdekaan membuat kita semakin dekat kepada Allah?
Apakah kemerdekaan membuat kita semakin rajin menuntut ilmu?
Apakah kemerdekaan membuat kita semakin peduli kepada fakir miskin, anak yatim, orang tua, tetangga dan masyarakat?
Apakah kemerdekaan membuat kita semakin jujur dalam bekerja?
Apakah kemerdekaan membuat kita semakin menjaga persatuan?
Ataukah kita justru menggunakan kebebasan untuk saling menghina, menyebarkan fitnah, menipu, korupsi, bermusuhan, menyebarkan kebencian dan merusak persaudaraan?
Di sinilah Islam mengajarkan kepada kita bahwa kebebasan selalu berjalan bersama amanah dan tanggung jawab.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan manusia. Kemerdekaan juga harus menjadi momentum untuk membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, keserakahan, kebencian, permusuhan, ketidakjujuran dan berbagai perilaku yang menjauhkan manusia dari ridha Allah SWT.
I. Kemerdekaan adalah Nikmat Allah yang Harus Disyukuri
Allah SWT berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” QS. Ibrahim: 7
Ayat ini mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan. Syukur mempunyai konsekuensi.
Jika kita mengatakan bahwa kemerdekaan adalah nikmat, maka pertanyaannya: Bagaimana cara kita mensyukurinya?
Syukur atas kemerdekaan bukan hanya berkata, “Alhamdulillah Indonesia merdeka.” Syukur harus diwujudkan melalui tindakan.
Seorang pelajar bersyukur atas kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh.
Seorang guru bersyukur dengan mendidik generasi bangsa dengan ikhlas.
Seorang pedagang bersyukur dengan berdagang secara jujur.
Seorang pejabat bersyukur dengan menjalankan amanah dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.
Seorang anggota legislatif bersyukur dengan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Seorang pengusaha bersyukur dengan membuka lapangan pekerjaan dan menjalankan usaha secara adil.
Seorang pekerja bersyukur dengan bekerja profesional.
Orang kaya bersyukur dengan berbagi.
Orang yang memiliki ilmu bersyukur dengan mengajarkannya.
Orang yang memiliki jabatan bersyukur dengan melayani, bukan memperalat masyarakat.
Dan setiap warga negara bersyukur dengan menjaga kedamaian serta persatuan.Itulah syukur yang hidup.
II. Sejarah Kemerdekaan Mengajarkan Kita tentang Pengorbanan
Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, kita tidak boleh melupakan sejarah. Kemerdekaan Republik Indonesia tidak lahir dari ruang kosong.
Ada perjuangan panjang yang berlangsung selama berabad-abad. Ada rakyat yang mengalami penderitaan akibat penjajahan. Ada ulama yang mendidik umat.Ada santri yang ikut berjuang. Ada pemuda yang menggerakkan persatuan.
Kemudian, ada tokoh bangsa yang berjuang melalui pendidikan, organisasi, diplomasi, politik, pers, maupun perjuangan bersenjata.
Ada para pejuang yang kehilangan harta. Ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai. Ada orang-orang yang gugur sebelum sempat menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan.
Kemudian pada 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Tetapi perjuangan belum selesai. Setelah proklamasi, perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih berlangsung.
Sejarah mencatat berbagai pertempuran dan perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Salah satu momentum yang sangat dikenang adalah 10 November 1945 di Surabaya, ketika rakyat Indonesia menghadapi pertempuran besar melawan pasukan Sekutu dan Belanda.
Di balik sejarah itu terdapat satu pelajaran penting: Kemerdekaan selalu memiliki harga yang harus dibayar dengan pengorbanan.
Karena itu, jangan sampai generasi yang lahir dalam keadaan merdeka menjadi generasi yang tidak menghargai kemerdekaan.
Jangan sampai kita menikmati hasil perjuangan orang terdahulu, tetapi tidak mau berjuang untuk generasi yang akan datang.
III. Islam Mengajarkan Kita Menghargai Perjuangan dan Pengorbanan
Islam sangat menghargai pengorbanan untuk kebaikan.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” QS. Al-Ma’idah: 2
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan berbangsa. Membangun Indonesia tidak mungkin dilakukan sendirian.
Pemerintah membutuhkan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pemerintah.
Orang kaya membutuhkan orang miskin dan sebaliknya. Orang berilmu membutuhkan orang yang belajar.
Pengusaha membutuhkan pekerja. Pekerja membutuhkan lapangan pekerjaan.
Generasi tua membutuhkan generasi muda.Generasi muda membutuhkan keteladanan generasi sebelumnya. Semua mempunyai peran.
Karena itu, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi semangat ta’awun, yaitu saling membantu dalam kebaikan.
IV. Kemerdekaan Bukan Berarti Bebas Melakukan Apa Saja
Ini bagian yang sangat penting.Sering kali kita memahami kemerdekaan sebagai kebebasan.
Memang manusia memiliki kebebasan. Tetapi dalam Islam, kebebasan tidak pernah berarti bebas tanpa batas.
Seorang Muslim boleh berbicara, tetapi tidak boleh memfitnah. Boleh mengkritik, tetapi tidak boleh melakukan kezaliman. Boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh menghina.
Bahkan boleh mencari kekayaan, tetapi tidak boleh mencuri. Boleh memiliki kekuasaan, tetapi tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan.
Boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak boleh menyebarkan kebohongan. Boleh menggunakan media sosial, tetapi tidak boleh menjadikan jari sebagai alat untuk menyakiti orang lain.
Rasulullah SAW mengingatkan: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat relevan dengan zaman digital. Hari ini, seseorang bisa mengetik sebuah kalimat hanya dalam beberapa detik. Tetapi dampaknya bisa bertahun-tahun.
Satu unggahan dapat menyebar kepada ribuan bahkan jutaan orang. Satu fitnah dapat menghancurkan reputasi seseorang.
Satu provokasi dapat memecah persaudaraan. Karena itu, kemerdekaan berbicara harus disertai kemerdekaan dari kebohongan.
Jangan sampai kita merdeka dari penjajahan, tetapi menjadi budak emosi. Jangan sampai kita merdeka secara politik, tetapi menjadi budak keserakahan. Jangan sampai kita merdeka secara negara, tetapi diperbudak oleh hawa nafsu.
V. Merdeka dari Kebodohan
Salah satu bentuk penjajahan yang paling berbahaya adalah kebodohan. Orang yang bodoh mudah ditipu. Orang yang tidak mau belajar mudah diprovokasi. Orang yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis mudah percaya kepada berita palsu.
Karena itu, Islam sejak awal sangat menekankan pentingnya ilmu. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dimulai dengan perintah:
اقْرَأْ
“Bacalah.” QS. Al-‘Alaq: 1
Ini merupakan pesan yang luar biasa. Peradaban yang kuat dibangun oleh manusia yang mau membaca, belajar, berpikir dan mencari kebenaran.
Karena itu, kalau kita ingin benar-benar mengisi kemerdekaan, mari kita bangun generasi yang mencintai ilmu.
Jangan malu belajar. Jangan malu bertanya. Jangan malu membaca. Jangan merasa paling pintar. Dan jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Generasi merdeka harus menjadi generasi pembelajar.
VI. Merdeka dari Kemalasan
Allah SWT tidak mengajarkan manusia untuk menjadi pemalas. Islam menghargai ikhtiar.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk memiliki kekuatan, bekerja, berusaha dan memberikan manfaat.
Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)
Kekuatan di sini tidak harus dipahami hanya sebagai kekuatan fisik. Kita membutuhkan kekuatan iman.
Kekuatan ilmu. Kekuatan ekonomi. Kekuatan mental. Kekuatan moral. Kekuatan persatuan. Kekuatan teknologi. Dan kekuatan untuk menghadapi tantangan zaman.
Karena itu, semangat kemerdekaan harus membangkitkan etos kerja. Jangan hanya pandai mengeluh tentang keadaan negeri.
Mari bertanya: Apa kontribusi saya?
Jangan hanya bertanya: “Negara sudah memberikan apa kepada saya?”
Tetapi tanyakan juga: “Apa yang sudah saya berikan kepada bangsa dan negara?”
VII. Merdeka dari Perpecahan
Bangsa Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa. Berbeda suku. Berbeda bahasa daerah. Berbeda budaya. Berbeda latar belakang.
Dan dalam kehidupan beragama pun kita hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda keyakinan.
Islam mengajarkan kita untuk menjaga hubungan kemanusiaan dengan baik dan tidak melakukan kezaliman.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” QS. Al-Hujurat: 13
Perbedaan bukan alasan untuk saling menghancurkan. Perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bekerja sama dalam kebaikan dan membangun kehidupan yang damai.
Dalam konteks Indonesia, persatuan bukan sekadar slogan. Persatuan adalah kebutuhan.
Bayangkan jika bangsa ini terus-menerus bertengkar. Bayangkan jika masyarakat saling curiga. Bayangkan jika perbedaan pilihan politik berubah menjadi permusuhan. Bayangkan jika perbedaan pendapat membuat persaudaraan putus.
Bangsa yang seperti itu akan sulit maju. Karena itu, jangan biarkan perbedaan menjadi pintu masuk perpecahan.
VIII. Kisah Piagam Madinah: Membangun Kehidupan Bersama
Salah satu pelajaran sejarah Islam yang sangat menarik adalah ketika Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah.
Madinah merupakan masyarakat yang majemuk. Di sana terdapat berbagai kelompok dan komunitas.
Rasulullah SAW membangun tatanan kehidupan bersama yang mengatur hubungan berbagai kelompok di Madinah. Dalam sejarah, dokumen tersebut dikenal sebagai Piagam Madinah.
Salah satu pelajaran penting dari sejarah ini adalah bahwa masyarakat yang berbeda dapat membangun kehidupan bersama berdasarkan prinsip keadilan, tanggung jawab, keamanan dan kesepakatan.
Ini memberi pelajaran kepada kita bahwa membangun bangsa membutuhkan sikap dewasa.
Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan kebencian. Dan tidak semua orang yang berbeda pilihan harus dianggap sebagai musuh. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
IX. Merah Putih dalam Hati, Tauhid dalam Diri
Ada ungkapan yang indah: “Merah Putih dalam hati, tauhid dalam diri.”
Maknanya bukan mencampuradukkan antara agama dan simbol negara. Tauhid tetap menjadi fondasi seorang Muslim.
Kecintaan kepada bangsa dan negara diwujudkan dengan perilaku yang baik sebagai warga negara.
Seorang Muslim yang baik tidak cukup hanya rajin beribadah secara personal. Ia juga harus memberikan manfaat kepada manusia.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Hadis ini sangat populer dalam tradisi keilmuan Islam sebagai dorongan agar manusia menghadirkan manfaat bagi sesamanya.
Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah keberadaan saya memberikan manfaat? Apakah keluarga saya menjadi lebih baik karena saya?Apakah tetangga saya merasa aman karena saya? Apakah teman saya mendapatkan manfaat dari saya? Apakah masyarakat menjadi lebih baik karena pekerjaan saya?Apakah ilmu saya memberikan manfaat Apakah harta saya memberikan manfaat Apakah jabatan saya memberikan manfaat? Inilah salah satu bentuk nyata mengisi kemerdekaan.
X. Para Pahlawan Berjuang, Generasi Hari Ini Melanjutkan
Generasi terdahulu memiliki medan perjuangan mereka. Ada yang berjuang melawan penjajahan. Ada yang berjuang melalui pendidikan. Ada yang berjuang melalui organisasi. Ada yang berjuang dengan diplomasi.
Ada yang mengorbankan harta. Ada yang mengorbankan tenaga. Ada yang mengorbankan nyawa.
Sementara generasi kita menghadapi tantangan yang berbeda. Musuh kita bukan selalu berupa pasukan bersenjata.
Tantangan kita bisa berupa: kebodohan, kemiskinan, korupsi, narkoba, judi, hoaks, intoleransi, radikalisme, kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, pengangguran, kemalasan dan krisis akhlak.
Karena itu, perjuangan generasi sekarang juga harus berubah bentuk.
Jika dulu perjuangan membutuhkan senjata, sekarang perjuangan membutuhkan ilmu.
Jika dulu perjuangan membutuhkan keberanian di medan perang, sekarang kita membutuhkan keberanian melawan ketidakjujuran.
Jika dulu pahlawan mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan, sekarang kita harus mempertaruhkan waktu, tenaga, pikiran dan kemampuan untuk membangun negeri.
XI. Pemuda adalah Kekuatan Bangsa
Allah SWT berfirman dalam kisah Ashabul Kahfi:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” QS. Al-Kahf: 13
Perhatikan. Allah menyebut mereka sebagai pemuda-pemuda yang beriman.
Ini menunjukkan bahwa pemuda bukan sekadar objek pembangunan. Pemuda adalah kekuatan perubahan.
Karena itu, pemuda Indonesia harus memiliki tiga kekuatan: Iman. Ilmu. Karya.
Iman agar memiliki arah. Ilmu agar memiliki kemampuan. Karya agar memberikan manfaat.
Jangan menjadi generasi yang hanya sibuk membuat konten tetapi tidak memiliki kontribusi.
Jangan menjadi generasi yang berani berkomentar tetapi takut bekerja.
Jangan menjadi generasi yang sibuk mencari kesalahan orang lain tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Jadilah generasi yang kalau melihat masalah berkata: “Apa yang bisa saya lakukan?”
XII. Kemerdekaan Harus Melahirkan Keadilan Sosial
Kemerdekaan juga harus dirasakan oleh masyarakat. Tidak boleh ada kelompok yang merasa tidak memiliki masa depan.
Tidak boleh ada anak yang tidak bisa sekolah karena kemiskinan. Tidak boleh ada orang tua yang merasa sendirian. Tidak boleh ada masyarakat kecil yang kehilangan akses terhadap kesempatan hidup yang layak. Islam sangat menekankan keadilan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” QS. An-Nahl: 90
Keadilan harus dimulai dari diri sendiri. Adil dalam berbicara. Adil dalam menilai. Adil dalam bekerja. Adil dalam memimpin. Adil dalam menggunakan kekuasaan. Adil dalam berdagang. Adil kepada keluarga. Adil kepada tetangga. Dan adil kepada siapa pun.
Sebab pembangunan bangsa tanpa keadilan akan melahirkan ketimpangan. Kemajuan ekonomi tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan. Teknologi tanpa moral dapat melahirkan kejahatan baru. Kekuasaan tanpa amanah dapat berubah menjadi kezaliman.
Karena itu, pembangunan harus berjalan bersama iman, ilmu dan akhlak.
XIII. Amanah Jabatan dan Tanggung Jawab Pemimpin
Bagi mereka yang diberikan amanah menjadi pemimpin, pejabat, anggota legislatif, pengusaha, tokoh masyarakat atau pemegang tanggung jawab publik, momentum kemerdekaan seharusnya menjadi saat untuk melakukan introspeksi.
Jabatan bukan kehormatan semata. Jabatan adalah amanah.
Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar RA ketika membicarakan kepemimpinan:
“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah.” (HR. Muslim)
Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Jangan menggunakan jabatan untuk memperkaya diri. Jangan menggunakan kekuasaan untuk menekan rakyat. Jangan menjadikan kepentingan pribadi di atas kepentingan masyarakat. Jangan mengkhianati kepercayaan.
Sebab pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah SWT. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan hilang. Kekuasaan akan berganti.
Tetapi amal akan dibawa menghadap Allah SWT.
XIV. Media Sosial: Medan Perjuangan Generasi Digital
Kita hidup di era digital. Dulu orang berjuang dengan koran, radio dan pertemuan-pertemuan.
Sekarang satu orang dapat berbicara kepada jutaan manusia melalui internet. Ini adalah nikmat sekaligus ujian. Media sosial bisa menjadi ladang pahala.
Tetapi bisa juga menjadi ladang dosa. Satu video yang menginspirasi orang untuk berbuat baik bisa menjadi amal.
Satu tulisan yang memberikan ilmu bisa menjadi amal. Satu informasi yang membantu orang lain bisa menjadi amal.
Tetapi satu fitnah juga bisa menjadi dosa. Satu berita bohong juga bisa menjadi dosa. Satu penghinaan juga bisa menjadi dosa.
Maka mari kita jadikan kemerdekaan digital sebagai kesempatan untuk menyebarkan: ilmu, kebaikan, persatuan dan optimisme.
Sebelum menekan tombol “kirim”, tanyakan: Benarkah informasi ini? Bermanfaatkah? Apakah akan menyakiti orang lain? Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
Kalau jawabannya tidak, lebih baik diam.
XV. Mengisi Kemerdekaan Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Jangan berpikir mengisi kemerdekaan harus selalu melakukan sesuatu yang besar. Tidak.
Kadang-kadang mengisi kemerdekaan dimulai dari hal yang sangat sederhana. Menjaga kebersihan lingkungan. Membantu tetangga. Menghormati orang tua. Mendidik anak. Menyantuni anak yatim. Memberi makan orang miskin. Menjadi guru yang ikhlas. Menjadi pekerja yang jujur.
Menjadi pedagang yang tidak curang. Membayar pajak sesuai ketentuan. Mematuhi hukum. Tidak merusak fasilitas umum. Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak menyebarkan hoaks.
Tidak melakukan ujaran kebencian. Menghormati perbedaan. Menjaga persaudaraan. Semua itu adalah bagian dari kontribusi.
Karena perubahan besar sering kali dimulai dari kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten.
XVI. Surat Al-‘Asr dan Pelajaran tentang Waktu
Allah SWT berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” QS. Al-‘Asr: 1–3
Surat yang pendek ini sebenarnya sangat dalam. Allah bersumpah dengan waktu. Mengapa? Karena kehidupan manusia adalah perjalanan waktu.
Kemerdekaan juga merupakan perjalanan waktu. Sudah 81 tahun Indonesia merdeka.
Pertanyaannya bukan hanya: “Berapa lama Indonesia sudah merdeka?”
Tetapi: “Apa yang sudah kita lakukan selama kita hidup di dalam kemerdekaan?”
Waktu tidak akan kembali. Masa muda tidak kembali. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Karena itu, mari gunakan waktu untuk amal saleh.
XVII. Jangan Hanya Merayakan Kemerdekaan, Tetapi Jadilah Bagian dari Kemajuan
Ada perbedaan antara merayakan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan. Merayakan kemerdekaan bisa dilakukan satu hari.
Mengisi kemerdekaan harus dilakukan setiap hari. Merayakan kemerdekaan bisa dengan memasang bendera.
Mengisi kemerdekaan dengan menjadi warga negara yang baik. Merayakan kemerdekaan bisa dengan perlombaan.
Mengisi kemerdekaan dengan meningkatkan kualitas diri. Merayakan kemerdekaan bisa dengan upacara.
Mengisi kemerdekaan dengan menjaga amanah. Merayakan kemerdekaan bisa dengan membuat slogan. Mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
Karena itu, setelah bulan kemerdekaan selesai, semangat kita jangan ikut selesai. Bendera mungkin kembali disimpan. Atribut mungkin dilepas. Lomba mungkin berakhir.
Tetapi perjuangan membangun bangsa harus terus berjalan.
XVIII. Tiga Bekal Mengisi Kemerdekaan: Iman, Ilmu, dan Akhlak
Mari kita simpulkan. Ada tiga bekal penting yang harus dimiliki generasi bangsa.
1. Iman
Iman memberikan arah. Dengan iman, manusia tahu bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia. Ada Allah yang mengawasi. Ada akhirat yang menanti. Ada pertanggungjawaban atas setiap amal.
2. Ilmu
Ilmu memberikan kemampuan. Dengan ilmu, kita mampu menghadapi perubahan.
Dengan ilmu, kita dapat membangun teknologi. Dengan ilmu, kita dapat meningkatkan ekonomi. Dengan ilmu, kita dapat melawan kebodohan.
3. Akhlak
Akhlak menjaga agar ilmu dan kekuasaan tidak disalahgunakan. Orang pintar tanpa akhlak bisa berbahaya.
Orang kaya tanpa akhlak bisa serakah. Orang berkuasa tanpa akhlak bisa zalim. Teknologi tanpa akhlak bisa disalahgunakan.
Karena itu, iman memberikan arah, ilmu memberikan kemampuan, dan akhlak menjaga semuanya tetap berada di jalan kebaikan.
XIX. Refleksi untuk Kita Semua
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apa arti kemerdekaan bagi saya? Apakah hanya libur? Apakah hanya upacara? Apakah hanya lomba? Atau apakah kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik?
Jika kita seorang anak, mari berbakti kepada orang tua. Jika kita seorang pelajar, mari belajar. Jika kita seorang pemuda, mari berkarya.
Jika kita seorang guru, mari mendidik. Jika kita seorang pengusaha, mari membuka kesempatan dan berlaku jujur. Jika kita seorang pejabat, mari menjaga amanah.
Jika kita seorang tokoh masyarakat, mari menjadi teladan. Jika kita seorang ulama, mari membimbing umat dengan ilmu dan hikmah. Jika kita seorang warga biasa, mari menjadi warga yang baik.
Sebab bangsa ini tidak hanya dibangun oleh orang-orang besar. Bangsa ini dibangun oleh jutaan orang biasa yang melakukan kebaikan setiap hari.
XX. Doa untuk Indonesia
Di momentum kemerdekaan ini, marilah kita menundukkan kepala dan hati. Mari kita doakan para pahlawan dan orang-orang yang telah berjasa bagi bangsa.
Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan mereka dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Mari kita berdoa agar Indonesia menjadi negeri yang aman, damai, adil dan makmur.
Semoga Allah memberikan kepada para pemimpin negeri ini kekuatan untuk menjalankan amanah.
Semoga Allah menjauhkan bangsa Indonesia dari perpecahan.
Semoga Allah melindungi negeri ini dari bencana, peperangan, kezaliman dan berbagai fitnah.
Semoga anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak dan memiliki semangat membangun bangsa.
Semoga para pemuda Indonesia menjadi generasi yang kuat.
Bukan hanya kuat fisiknya, tetapi kuat imannya. Bukan hanya tinggi pendidikannya, tetapi tinggi akhlaknya. Bukan hanya hebat pekerjaannya, tetapi besar manfaatnya.
Penutup: Merdeka untuk Mengabdi
Mari kita kembali kepada pesan utama tausyiah ini: “Kemerdekaan bukan sekadar bebas. Kemerdekaan adalah amanah.”
Para pendahulu kita telah memberikan warisan yang sangat mahal.
Mereka berjuang agar generasi berikutnya dapat hidup dalam kebebasan. Maka jangan kita sia-siakan.
Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah mempertahankan makna kemerdekaan melalui iman, ilmu, akhlak, persatuan, kejujuran, kerja keras dan kepedulian kepada sesama.
Jangan hanya menjadi penonton pembangunan. Jadilah bagian dari pembangunan. Jangan hanya mengkritik negeri.
Berikan solusi. Jangan hanya menuntut hak. Laksanakan kewajiban. Jangan hanya bertanya apa yang negara berikan kepada kita.
Tanyakan kepada diri kita: “Apa yang sudah saya berikan kepada negeri ini?”
Dan lebih jauh lagi: “Apa yang sudah saya lakukan sebagai hamba Allah untuk memberikan manfaat kepada manusia?”
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling hakiki bukan hanya ketika sebuah bangsa terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari perbudakan hawa nafsu dan kembali tunduk kepada Allah SWT, kemudian menggunakan kebebasan yang dimilikinya untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Mari kita jadikan semangat kemerdekaan sebagai semangat pengabdian. Merdeka untuk belajar. Merdeka untuk berkarya. Merdeka untuk berbuat baik. Merdeka untuk bersatu.
Merdeka untuk melayani. Merdeka untuk membangun. Dan yang paling penting: Merdeka untuk menjadi manusia yang bertakwa dan bermanfaat.
Karena para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan. Sekarang giliran kita mewariskan masa depan.
Semoga Indonesia menjadi negeri yang semakin maju, adil, makmur, aman, bersatu dan diridhai Allah SWT. Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Wallahu a’lam bish-shawab.
Doa Penutup
Allahumma ihfaz Indonesia. Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia.
Jadikanlah Indonesia negeri yang aman, damai, adil dan makmur. Satukan hati seluruh rakyat Indonesia. Jauhkan kami dari perpecahan, fitnah, permusuhan, kezaliman dan kebencian. Berikan kepada para pemimpin kami kekuatan, kebijaksanaan dan kejujuran dalam menjalankan amanah.
Berikan kepada generasi muda kami ilmu yang bermanfaat, iman yang kuat dan akhlak yang mulia. Jadikanlah kami manusia yang mampu mensyukuri kemerdekaan dengan amal saleh.
Jadikanlah ilmu kami bermanfaat. Jadikanlah pekerjaan kami ibadah. Jadikanlah harta kami sarana kebaikan. Jadikanlah jabatan kami amanah. Jadikanlah kehidupan kami penuh kebermanfaatan.
Dan ketika suatu hari nanti kami meninggalkan dunia ini, semoga kami meninggalkan kebaikan yang terus mengalir bagi generasi setelah kami.
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






