Kaya Bukan Berarti Mulia, Miskin Bukan Berarti Hina

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Banyak orang mengira kaya itu berarti mulia, dan miskin itu berarti hina. Padahal Al-Qur’an justru menjelaskan sebaliknya, keduanya adalah ujian. Allah berfirman bahwa saat diberi kelapangan manusia merasa dimuliakan, dan saat disempitkan ia merasa dihinakan (QS. Al-Fajr: 15–16). Padahal semuanya itu adalah ibtila (ujian).

Rezeki sudah ditetapkan oleh Allah, tapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha. Allah juga menjanjikan bahwa apa yang dinafkahkan akan diganti (QS. Saba’: 39). Jadi, ukuran rezeki itu bukan cuma soal banyaknya, tapi juga berkahnya dan cara mendapatkannya.

Allah menegaskan bahwa hidup ini memang diuji, baik dengan hal yang menyenangkan maupun yang tidak (QS. Al-Anbiya: 35). Kaya itu ujian syukur, miskin itu ujian sabar. Bahkan, kekayaan kadang justru lebih berat karena bisa membuat orang lalai dari Allah.

Islam tidak otomatis memuliakan orang kaya atau merendahkan orang miskin. Yang dinilai adalah sikap hati. Harta jadi masalah kalau sudah menguasai hati, bukan sekadar berada di tangan. Dan miskin harta tidak selalu buruk, tapi miskin hati bisa jauh lebih berbahaya.

Al-Qur’an juga mengingatkan orang yang dulu berjanji akan taat jika diberi rezeki, tapi kemudian ingkar setelah mendapatkannya (QS. At-Taubah: 75–77). Jadi masalahnya bukan pada hartanya, tapi pada konsistensi hati setelah harta datang.

Rezeki itu bukan cuma uang. Kesehatan, keluarga, ilmu, dan ketenangan juga rezeki. Karena itu, jangan terlalu sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, sebab kita tidak pernah tahu apa ujian di balik hidup mereka.

Kalau lagi lapang, jangan sombong. Kalau lagi sempit, jangan putus asa. Tetap bersyukur, terus berusaha, berbagi semampunya, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Karena semua kondisi itu pada dasarnya adalah ujian.

Sehingga dengan demikian maka kaya dan miskin hanyalah dua bentuk ujian yang berbeda. Yang dinilai Allah bukan apa yang kita punya, tapi apa yang kita lakukan dengan titipan-Nya.

#Wallahu A‘lam Bish-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *