Oleh: Syafruddin Mualla, Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB) dan Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Bulukumba membutuhkan investasi. Tidak ada keraguan mengenai hal itu.
Investasi dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, membangun industri, meningkatkan produktivitas, memperluas perdagangan, sekaligus mengolah potensi daerah menjadi sumber kekuatan ekonomi baru.
Tetapi bagi saya, ada satu prinsip yang harus menjadi perhatian ketika kita berbicara tentang investasi di Bulukumba: **investasi harus membuat pengusaha lokal tumbuh, bukan membuat mereka menjadi penonton.
Kita tentu menyambut investor. Kita membutuhkan modal, teknologi, jaringan pasar, manajemen dan pengalaman dari dunia usaha nasional maupun internasional. Namun, investasi akan jauh lebih berarti apabila kehadirannya membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan dunia usaha lokal.
Karena itu, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada berapa besar nilai investasi yang masuk.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak perusahaan lokal yang tumbuh? Berapa banyak UMKM yang masuk rantai pasok? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap? Berapa besar bahan baku lokal yang diserap industri? Dan berapa besar nilai tambah yang tetap berputar di Bulukumba?
Dari Daerah Penghasil Menjadi Daerah Pengolah
Bulukumba memiliki modal dasar ekonomi yang kuat.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan PDRB Bulukumba pada 2024 mencapai sekitar Rp20,22 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,60 persen. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi sekitar 34,97 persen terhadap PDRB.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Bulukumba bukan daerah yang kekurangan potensi. Kita memiliki pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, perdagangan dan industri maritim.
Persoalannya adalah bagaimana mengubah kekuatan tersebut menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.
Selama ini sebagian komoditas kita masih keluar dalam bentuk bahan mentah atau produk dengan nilai tambah rendah.
Kelapa dijual sebagai kelapa. Ikan dijual sebagai ikan segar. Rumput laut dijual sebagai bahan baku. Begitu pula dengan sejumlah komoditas pertanian lainnya.
Padahal, nilai ekonomi yang lebih besar justru terdapat pada proses pengolahan, pengemasan, distribusi, pemasaran dan ekspor.
Karena itu, Bulukumba harus mulai bergerak dari daerah penghasil menjadi daerah pengolah.
Kita membutuhkan industri pengolahan kelapa, industri hasil laut, cold storage, pengolahan rumput laut, kakao, pergudangan, logistik, packaging dan berbagai industri pendukung lainnya.
Dengan industrialisasi, satu komoditas tidak hanya menghasilkan satu transaksi. Ia dapat menciptakan rantai ekonomi yang panjang dan melibatkan banyak pelaku usaha.
Potensi Laut Jangan Berhenti di Laut
Salah satu kekuatan besar Bulukumba adalah sektor kelautan dan perikanan.
Bulukumba memiliki garis pantai sekitar 128 kilometer dengan produksi perikanan tangkap sekitar 58.965 ton pada 2024.
Potensi tersebut harus kita lihat bukan hanya sebagai sumber ikan, tetapi sebagai basis industri kelautan.
Jika ikan hanya ditangkap kemudian dijual sebagai ikan segar, nilai tambah yang tinggal di daerah tentu terbatas. Sebaliknya, jika dikembangkan menjadi industri pengolahan, maka akan muncul kebutuhan terhadap cold storage, pabrik es, transportasi berpendingin, pengemasan, pergudangan, distribusi dan pasar ekspor.
Di setiap mata rantai tersebut terdapat peluang bagi pengusaha lokal.
Hal yang sama dapat diterapkan pada kelapa, kakao, rumput laut dan berbagai hasil pertanian. Investasi harus menjadi pintu masuk bagi industrialisasi daerah.
55.811 UMKM: Besar Secara Jumlah, Harus Naik Kelas
Kekuatan lain yang tidak boleh kita abaikan adalah UMKM. Data Sistem Informasi Data Tunggal UMKM yang disampaikan Kementerian UMKM mencatat sekitar 55.811 UMKM di Bulukumba.
Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di dalamnya terdapat ribuan pelaku usaha, keluarga dan tenaga kerja yang menggerakkan ekonomi masyarakat.
Namun, kita tidak boleh puas hanya karena jumlah UMKM besar.
Yang harus kita kejar adalah UMKM yang naik kelas.
Dari mikro menjadi kecil. Dari kecil menjadi menengah. Dari menengah menjadi perusahaan yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan ekspor.
Untuk itu, UMKM membutuhkan akses pembiayaan, legalitas, manajemen, teknologi, sertifikasi, pemasaran dan kualitas produk. Tetapi yang tidak kalah penting adalah akses terhadap pasar dan rantai pasok industri. Di sinilah investasi memiliki peran besar.
Ketika industri masuk ke Bulukumba, UMKM lokal harus mendapatkan peluang menjadi pemasok makanan, packaging, jasa transportasi, maintenance, percetakan, konstruksi, perdagangan dan berbagai kebutuhan industri lainnya.
Investor Bukan Lawan Pengusaha Lokal
Saya ingin menegaskan bahwa pengusaha lokal tidak boleh melihat investor sebagai lawan. Sebaliknya, investor harus kita tempatkan sebagai mitra strategis pembangunan ekonomi daerah.
Investor membawa modal, teknologi, jaringan pasar dan pengalaman.
Sementara pengusaha lokal memiliki pengetahuan mengenai daerah, jaringan usaha, sumber daya lokal dan pemahaman terhadap karakter masyarakat.
Jika keduanya dipertemukan dengan baik, maka akan terbentuk kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar.
Karena itu, kita perlu mendorong Investment–Business Matching Bulukumba.
Ketika investor datang, kita jangan hanya menunjukkan lahan dan potensi sumber daya alam. Kita juga harus mampu mengatakan:
“Inilah perusahaan Bulukumba yang siap menjadi partner Anda.” Ada kontraktor lokal yang siap bekerja. Ada supplier yang siap memasok. Ada perusahaan transportasi. Ada distributor. Ada UMKM. Ada penyedia jasa. Ada tenaga kerja yang siap dilatih.
Dengan demikian, investasi tidak berdiri sendiri. Investasi memiliki akar dan keterkaitan dengan ekonomi daerah.
Ukuran Investasi Harus Lebih dari Sekadar Nilai Modal
Selama ini keberhasilan investasi sering dilihat dari besarnya nilai modal yang masuk.
Menurut saya, ukuran tersebut penting, tetapi belum cukup.
Kita harus melihat berapa banyak perusahaan lokal yang menjadi supplier, berapa banyak UMKM yang masuk rantai pasok, berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap, berapa besar nilai kontrak yang diperoleh perusahaan daerah, berapa besar bahan baku lokal yang diserap, dan berapa banyak perusahaan lokal yang naik kelas.
Dengan ukuran tersebut, kita bisa melihat apakah investasi benar-benar memberikan multiplier effect atau tidak.
Sebab investasi yang baik bukan hanya membangun pabrik atau kawasan.
Investasi yang baik adalah investasi yang melahirkan perusahaan baru, menciptakan pengusaha baru, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas UMKM dan membangun ekosistem ekonomi baru.
KADIN Harus Menjadi Jembatan
Sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan, saya melihat KADIN memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pemerintah, investor dan dunia usaha.
KADIN harus menjadi jembatan yang menghubungkan peluang investasi dengan kemampuan perusahaan lokal.
Pemerintah menyediakan kebijakan dan kemudahan investasi. Investor membawa modal, teknologi dan jaringan pasar.
KADIN dan organisasi dunia usaha membangun konektivitas bisnis. Sementara pengusaha lokal menjadi bagian dari rantai nilai investasi tersebut. Inilah sinergi yang harus kita bangun.
Bulukumba Harus Melahirkan Pengusaha Besar
Pada akhirnya, tujuan pembangunan ekonomi bukan hanya membuat investor datang ke Bulukumba.
Kita juga harus menciptakan kondisi agar pengusaha Bulukumba tumbuh menjadi perusahaan besar.
Saya ingin melihat perusahaan lokal menjadi kontraktor besar, supplier industri, perusahaan logistik, eksportir, perusahaan pengolahan, pengembang kawasan dan investor baru.
Kita harus menciptakan sebuah siklus: investasi masuk → industri tumbuh → pengusaha lokal menjadi mitra → UMKM naik kelas → tenaga kerja terserap → nilai tambah meningkat → ekonomi daerah tumbuh.
Inilah ekosistem yang harus kita bangun bersama. Bulukumba tidak cukup hanya menjadi tempat investor menanam modal.
Bulukumba harus menjadi tempat lahir dan tumbuhnya para pengusaha besar. Kita membutuhkan investor dan kita harus membuka pintu investasi selebar-lebarnya.
Tetapi ketika pintu itu terbuka, pengusaha lokal harus masuk dan menjadi pemain dalam pertumbuhan ekonomi daerahnya sendiri.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan investasi bukan hanya tentang berapa besar modal yang datang.
Keberhasilan investasi adalah ketika modal tersebut mampu membuat ekonomi Bulukumba tumbuh, perusahaan lokal berkembang, UMKM naik kelas, lapangan kerja bertambah, nilai tambah tinggal di daerah, dan semakin banyak pengusaha besar lahir dari Bulukumba.





