Sekjen Persaudaraan Tani dan Nelayan Indonesia: Jangan Mudah Percaya Konten Pertanian Viral, Bertani Tidak Ada yang Instan

JAKARTA – BELA RAKYAT – Sekretaris Jenderal Persaudaraan Tani dan Nelayan Indonesia (PETANI), Arief Darmawan, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh maraknya konten pertanian di media sosial yang menampilkan hasil panen melimpah, bibit unggul, hingga pupuk yang diklaim mampu menyuburkan tanaman secara instan.

Menurut Arief, tidak sedikit konten yang hanya menonjolkan hasil akhir tanpa menjelaskan proses budidaya secara utuh. Akibatnya, masyarakat, khususnya para pemula yang ingin terjun ke sektor pertanian, berpotensi memiliki ekspektasi yang keliru terhadap dunia pertanian.

“Bertani bukan pekerjaan yang instan. Tanaman membutuhkan proses, ketelatenan, dan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik lahannya. Tidak ada satu produk yang bisa menjamin keberhasilan di semua tempat hanya karena terlihat berhasil di media sosial,” kata Arief, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan budidaya tanaman sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis tanah, kesuburan lahan, curah hujan, suhu, kelembapan udara, ketersediaan air, hingga kondisi agroklimat di setiap wilayah. Karena itu, metode maupun produk yang berhasil di suatu daerah belum tentu memberikan hasil yang sama di daerah lain.

“Setiap wilayah memiliki karakter agroklimat yang berbeda. Pemilihan bibit, pupuk, teknik budidaya, hingga waktu tanam harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Inilah mengapa ilmu pertanian tidak bisa disederhanakan menjadi video berdurasi satu menit,” ujarnya.

Arief juga mengimbau masyarakat yang baru memulai usaha tani agar tidak hanya menjadikan media sosial sebagai sumber utama pembelajaran. Ia menyarankan para petani pemula untuk aktif berkonsultasi dengan penyuluh pertanian, praktisi lapangan, akademisi, maupun pakar pertanian yang memiliki pengalaman dan kompetensi.

“Media sosial dapat menjadi sarana belajar, tetapi jangan dijadikan satu-satunya rujukan. Carilah pendampingan dari penyuluh, praktisi, atau pakar pertanian agar setiap keputusan budidaya didasarkan pada pengetahuan yang benar dan sesuai dengan kondisi lapangan,” tegasnya.

Di sisi lain, Arief mengingatkan para kreator konten pertanian agar lebih mengedepankan tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada publik. Menurutnya, konten yang dibuat semata-mata demi mengejar viralitas atau keuntungan penjualan produk tanpa memberikan edukasi yang utuh dapat merugikan masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat dibuai oleh narasi bahwa cukup membeli bibit tertentu atau pupuk tertentu, lalu hasil panennya pasti melimpah. Cara berpikir seperti itu justru menyesatkan dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani maupun masyarakat yang baru belajar bertani,” katanya.

Ia menilai konten pertanian yang berkualitas seharusnya menjelaskan proses budidaya secara lengkap, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih, teknik penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga faktor risiko yang mungkin dihadapi petani.

“Konten pertanian harus menjadi media edukasi, bukan sekadar etalase promosi produk. Kreator konten memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang jujur, proporsional, dan berbasis praktik yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan mengejar keuntungan sesaat dengan mengorbankan kepercayaan masyarakat,” ujar Arief.

Arief berharap masyarakat semakin kritis dalam menyaring informasi pertanian di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi pertanian, bukan menciptakan ilusi bahwa keberhasilan bertani dapat diraih secara instan.

“Pertanian adalah ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang terus dipelajari. Keberhasilan panen lahir dari proses yang panjang, kerja keras, serta penerapan teknologi yang tepat. Karena itu, masyarakat harus cerdas memilih informasi dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim yang belum tentu sesuai dengan fakta di lapangan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *