JAKARTA – BELA RAKYAT – Komisaris Independen PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua DPR ke-20 Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan industri properti harus ditempatkan sebagai salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik, perang dagang, ketidakpastian harga energi, perubahan iklim, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia telah memengaruhi arus investasi dan daya beli masyarakat.
Dalam situasi tersebut, sektor properti memiliki multiplier effect yang sangat besar karena mampu menggerakkan lebih dari 180 subsektor industri, mulai dari semen, baja, kaca, keramik, kayu, furnitur, logistik, jasa keuangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah. Ketika sektor properti tumbuh sehat, roda perekonomian nasional ikut bergerak, lapangan kerja tercipta, konsumsi meningkat, dan investasi dapat berkembang.
“Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memerlukan sektor ekonomi yang memiliki daya tahan kuat sekaligus mampu menggerakkan banyak sektor lainnya. Industri properti memenuhi karakter tersebut. Karena itu, penguatan sektor properti harus menjadi bagian dari strategi nasional menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan investasi, sekaligus memperluas kesempatan kerja,” ujar Bamsoet usai mengikuti Board of Commissioners Meeting PT Lippo Karawaci Tbk di Menara Matahari Lippo Village Central Karawaci Tangerang, Banten, Rabu (5/8/26).
Pertemuan pucuk pimpinan induk perusahaan Lippo Group itu dipimpin langsung oleh Komisaris Utama Prof Dr Ginandjar Kartasasmita. Hadir juga jajaran komisaris antara lain Theo Sambuaga, Ketut Budi Wijaya dan Bambang Soesatyo. Dari jajaran direksi hadir Chief Executive Officer (CEO) PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), John Riady, Presiden Direktur Indra Yuwana, Agus Arismunandar dan jajaran direksi lainnya.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Polhukam KADIN Indonesia dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, transformasi industri properti dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan sudut pandang yang sangat signifikan. Pengembang besar kini tidak lagi sekadar membangun kawasan hunian, melainkan mengembangkan ekosistem perkotaan terpadu yang mengintegrasikan real estat, layanan kesehatan, pendidikan dan gaya hidup dalam satu kawasan. Model pembangunan seperti ini menciptakan efisiensi ekonomi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat daya saing kota-kota di Indonesia.
“PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan konsep kota mandiri (integrated township) di Indonesia melalui berbagai proyek township, jaringan Lippo Malls, Hotel Aryaduta, serta Siloam Hospitals, yang kini telah berkembang menjadi salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Indonesia ,” kata Bamsoet.
Dosen Pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan dan Universitas Jayabaya ini memaparkan, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan pertumbuhan laba yang signifikan meski pendapatan tercatat menurun sepanjang semester I-2026. Pertumbuhan laba bersih perseroan bahkan mencapai sekitar 179% dibanding periode yang sama tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangannya, LPKR mencatat pendapatan sebesar Rp 3,60 triliun hingga semester I-2026. Angka tersebut turun sekitar 12% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 4,11 triliun.
Laba bersih perseroan tercatat naik signifikan menjadi Rp 385 miliar. Angka tersebut tumbuh 179% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 138 miliar. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi.
Pertumbuhan kinerja keuangan ini ditopang oleh capaian pra penjualan yang tercatat sebesar Rp 3,70 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 754 miliar. EBITDA perseroan tercatat naik 20% dibandingkan Rp 627 miliar pada semester | 2025. Adapun posisi kas LPKR tercatat sebesar Rp 1,41 triliun hingga akhir Juni 2026.
“Ke depan, daya saing pengembang tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak rumah yang dijual. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membangun kawasan yang produktif, sehat, nyaman, terintegrasi, serta mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kota mandiri merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengingatkan, tantangan industri properti ke depan juga semakin kompleks. Digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), pembangunan rendah emisi karbon, efisiensi energi, hingga tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) akan menjadi standar baru dalam industri properti dunia. Karena itu, perusahaan properti harus mempercepat transformasi menuju smart city yang memanfaatkan teknologi digital dalam pengelolaan energi, keamanan, transportasi, pelayanan publik, hingga pengelolaan lingkungan. Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan transformasi tersebut untuk meningkatkan daya saing kawasan perkotaan sekaligus menarik investasi berkualitas dari dalam maupun luar negeri.
“Saya optimistis industri properti akan terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang semakin kuat agar investasi terus tumbuh, kawasan-kawasan ekonomi baru berkembang, serta manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas. Ketahanan ekonomi nasional akan semakin kokoh apabila ditopang sektor properti yang sehat, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkas Bamsoet. (Dwi)






