Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS /Kalimantan Selatan I
Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, dan hiruk-pikuk media sosial, manusia sering merasa lelah, cemas, kehilangan arah, bahkan mengalami kehampaan batin.
Banyak orang berusaha mencari ketenangan melalui harta, jabatan, popularitas, hiburan, atau perjalanan ke berbagai tempat. Namun, semua itu sering kali hanya memberikan kebahagiaan sesaat.
Islam sejak lebih dari 14 abad yang lalu telah memberikan solusi yang sangat agung untuk menjaga ketenangan jiwa, yaitu shalat lima waktu.
Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan dialog seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika seorang muslim berdiri menghadap kiblat, ia sedang meninggalkan sejenak seluruh urusan dunia untuk menghadap Allah SWT.
Karena itulah shalat menjadi tiang agama, pembeda antara keimanan dan kekufuran, sekaligus amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat.
Shalat adalah Tiang Agama
Rasulullah SAW bersabda: “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Mengapa shalat disebut tiang agama? Bayangkan sebuah rumah megah tanpa tiang. Seindah apa pun bangunannya, rumah itu pasti akan roboh.
Begitu pula kehidupan seorang muslim. Harta boleh banyak. Ilmu boleh tinggi. Jabatan boleh hebat. Popularitas boleh luar biasa.
Namun jika shalatnya rusak, maka pondasi agamanya pun rapuh. Karena itu para ulama mengatakan:
“Barang siapa menjaga shalatnya, maka ia telah menjaga agamanya. Barang siapa menyia-nyiakannya, maka selain shalat akan lebih mudah ia sia-siakan.”
Perintah Shalat Langsung dari Allah
Seluruh syariat Islam diturunkan melalui Malaikat Jibril. Namun shalat memiliki kedudukan yang berbeda.
Perintah shalat diwajibkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW ketika peristiwa Isra’ Mi’raj.
Awalnya Allah mewajibkan 50 kali shalat. Atas rahmat Allah melalui nasihat Nabi Musa AS, jumlahnya menjadi lima waktu, tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh kali.
Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Ini bisa menjadi pelajaran besar kepada umat manusia di akhir zaman ini.
Dalil Al-Qur’an tentang Shalat
Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Firman Allah lainnya:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan peliharalah shalat wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
Amalan Pertama yang Akan Dihisab
Rasulullah SAW bersabda: “Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i)
Apabila shalatnya baik, maka besar harapan seluruh amal lainnya ikut baik. Sebaliknya, bila shalatnya rusak, maka amal lain pun terancam ikut rusak.
Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar salah satu ibadah, melainkan fondasi seluruh amal. Jika shakat kita baik dan kokoh maka seluruh amal ibadah kita juga kuat dengan pondasi itu.
Mengapa Banyak Orang Sulit Menjaga Shalat?
Allah telah mengingatkan:
“Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu.” (QS. Maryam: 59)
Kesibukan, pekerjaan, permainan, media sosial, dan urusan dunia sering membuat manusia lupa bahwa panggilan adzan jauh lebih penting daripada notifikasi telepon genggam.
Padahal lima kali sehari Allah memanggil hamba-Nya untuk kembali mengingat-Nya. Namun kenapa kita kadang melalaikan panggilan itu?
Shalat Menenangkan Hati
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Shalat adalah bentuk zikir yang paling sempurna. Di dalamnya ada bacaan Al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, doa, istighfar, dan sujud.
Karena itu tidak mengherankan apabila banyak orang yang rutin menjaga shalat memiliki hati yang lebih tenang ketika menghadapi ujian hidup.
Mereka tetap sedih ketika kehilangan orang tercinta. Itu adalah cinta sejati selaku manusia yang tergambar.
Mereka tetap menangis saat diuji. Namun mereka tidak kehilangan harapan karena selalu memiliki tempat bersandar, yaitu Allah SWT.
Ruhiyah Juga Perlu Makan
Setiap hari kita memberi makan tubuh. Sarapan. Makan siang. Makan malam. Minum vitamin. Berolahraga.
Namun sering kali kita lupa bahwa ruh juga membutuhkan makanan.
Makanan ruh adalah: Shalat. Membaca Al-Qur’an. Dzikir. Istighfar. Doa. Majelis ilmu. Sedekah. Mengingat Allah.
Jika tubuh lapar kita akan lemas. Jika ruh lapar, hati menjadi gelisah, mudah marah, iri, dengki, putus asa, bahkan merasa hidup kosong meskipun memiliki banyak harta.
Karena itu Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati memiliki kehidupan sebagaimana tubuh memiliki kehidupan. Hati yang hidup selalu dekat dengan Allah.
Kisah Bilal bin Rabah
Bilal bin Rabah RA memiliki kecintaan luar biasa kepada shalat.
Rasulullah SAW sering berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud)
Perhatikan kalimat tersebut. Bukan “istirahat dari shalat.” Tetapi “istirahat dengan shalat.”
Artinya shalat justru menjadi sumber ketenangan. Beda dengan kita dari manusia di akhir zaman, belum jadikan shalat sebagai sarana mencari ketenangan.
Kisah Umar bin Khattab
Ketika Umar bin Khattab RA ditikam menjelang wafatnya, beliau pingsan karena luka yang sangat berat.
Saat waktu shalat tiba, para sahabat membangunkannya dengan mengatakan:”Wahai Amirul Mukminin, waktu shalat telah tiba.”
Beliau langsung sadar dan berkata:”Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Meski tubuh penuh luka, beliau tetap mendirikan shalat. Betapa cinta dan teguhnya hati beliau terhadap menjaga dan mendirikan shalat.
Kisah Ali bin Abi Thalib
Dikisahkan ketika anak panah menancap di tubuh Ali bin Abi Thalib RA, para sahabat menunggu beliau masuk shalat sebelum mencabutnya.
Karena kekhusyukan beliau, rasa sakit hampir tidak beliau rasakan. Kisah ini sering disampaikan oleh para ulama sebagai gambaran betapa dalamnya kekhusyukan para sahabat.
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal
Dalam berbagai riwayat tentang kehidupannya, Imam Ahmad dikenal tetap menjaga shalat berjamaah meskipun mengalami sakit dan tekanan berat ketika menghadapi ujian dalam mempertahankan akidah.
Beliau memahami bahwa pertolongan Allah datang kepada orang-orang yang terus menjaga hubungan dengan-Nya.
Kisah Ulama Salaf
Banyak ulama terdahulu menangis ketika tertinggal takbiratul ihram bersama imam. Ada pula yang merasa sangat bersalah apabila tertinggal shalat berjamaah satu kali.
Bandingkan dengan keadaan sebagian dari kita yang terkadang meninggalkan shalat tanpa merasa bersalah.
Fakta Kehidupan Masa Kini
Di berbagai negara, banyak muslim tetap menjaga shalat meskipun bekerja di rumah sakit, bandara, pabrik, kapal, kantor, bahkan di tengah perjalanan.
Kita sering melihat pekerja berhenti sejenak ketika adzan berkumandang. Ada sopir yang menepikan kendaraan.
Ada pedagang yang menutup toko beberapa menit. Ada mahasiswa yang mencari musala di kampus.
Ada dokter yang bergantian agar tetap dapat menunaikan shalat.Semua itu menunjukkan bahwa siapa pun sebenarnya mampu menjaga shalat apabila memiliki kemauan.
Shalat Membentuk Karakter
Orang yang menjaga shalat akan belajar: Disiplin waktu. Kebersihan melalui wudhu. Kesabaran. Kerendahan hati saat sujud.
Kejujuran kepada Allah. Ketaatan terhadap aturan. Nilai-nilai tersebut kemudian tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Menunggu Hidayah
Sebagian orang berkata: “Nanti kalau sudah mendapat hidayah saya akan rajin shalat.”
Padahal hidayah sering datang justru ketika seseorang mulai melangkahkan kaki menuju ketaatan. Mulailah shalat meskipun masih banyak kekurangan.
Jangan menunggu menjadi baik untuk shalat. Tetapi shalatlah agar Allah menjadikan kita lebih baik.
Shalat adalah Bekal Menghadapi Kematian
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Ada yang meninggal ketika tidur.
Ada yang sedang bekerja. Ada yang sedang bepergian. Ada pula yang wafat dalam keadaan sujud.
Alangkah indahnya apabila akhir kehidupan kita dipenuhi dengan menjaga shalat.
Penutup
Shalat lima waktu bukanlah beban, melainkan hadiah dari Allah SWT. Ia adalah kesempatan lima kali sehari untuk membersihkan hati, menghapus dosa, memperbarui harapan, dan menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta.
Mari jadikan shalat sebagai prioritas utama. Jangan biarkan kesibukan dunia mengalahkan panggilan adzan. Sesibuk apa pun kita mencari rezeki, jangan lupa bahwa rezeki juga datang dari Allah yang memerintahkan kita untuk shalat.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga shalat tepat waktu, diberikan kekhusyukan dalam setiap rakaat, diteguhkan iman hingga akhir hayat, dan dikumpulkan bersama Rasulullah SAW, para nabi, para syuhada, orang-orang saleh, serta memperoleh surga-Nya tanpa hisab yang berat.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat. Jadikan shalat sebagai penyejuk hati kami, cahaya dalam kehidupan kami, penolong kami di dunia, dan pemberat amal kebaikan kami pada Hari Kiamat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”






