Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimantan Selatan I
Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Rumah tangga merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Melalui ikatan pernikahan yang sah, lahirlah keluarga yang menjadi tempat bernaung, mencurahkan kasih sayang, mendidik generasi, dan menegakkan syariat Allah. Islam tidak memandang pernikahan hanya sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi sebagai ibadah yang agung serta amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan diukur dari banyaknya harta, kemewahan, ataupun kedudukan, melainkan dari ketakwaan, kasih sayang, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Ungkapan yang populer di kalangan kaum muslimin, “Baiti Jannati” (Rumahku adalah Surgaku), mengandung harapan agar rumah menjadi tempat paling nyaman, penuh cinta, ibadah, dan ketenangan.
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan padanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga sakinah.
Hakikat Rumah Tangga dalam Islam
Rumah tangga adalah madrasah pertama bagi setiap manusia. Dari rumah lahir para ulama, pemimpin, pejuang, pedagang yang jujur, dan generasi yang membawa manfaat bagi umat.
Sebaliknya, apabila rumah tangga rusak, maka masyarakat pun akan ikut rusak. Oleh sebab itu Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kehidupan keluarga.
Allah menjadikan pernikahan sebagai sunnah para nabi.
Firman Allah SWT:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau, dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38)
Ayat ini menunjukkan bahwa menikah merupakan jalan para nabi.
Rasulullah SAW bersabda:
النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Nikah adalah sunnahku. Barang siapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ibnu Majah)
Islam menginginkan agar rumah tangga menjadi tempat tumbuhnya iman, akhlak, ilmu, kasih sayang, dan ketenteraman.
Makna Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah
Allah menggunakan tiga kata yang sangat indah dalam QS. Ar-Rum ayat 21.
Sakinah berarti ketenangan jiwa. Mawaddah berarti cinta yang mendalam. Rahmah berarti kasih sayang yang melahirkan kepedulian dan pengorbanan.
Ketiga unsur ini harus berjalan bersama. Ketika cinta berkurang karena usia, maka rahmah akan tetap menjaga hubungan suami istri.
Ketika ujian datang, sakinah membuat keduanya tetap tenang menghadapi masalah.
Rumah Tangga Adalah Amanah
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa tugas utama kepala keluarga bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menyelamatkan keluarganya dari azab Allah.
Rasulullah SAW sebagai Teladan Terbaik
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Beliau membantu pekerjaan rumah, menjahit pakaian sendiri, memperbaiki sandal, bergurau dengan istri, berlomba lari dengan Aisyah RA, dan tidak pernah memukul istrinya.
Inilah akhlak seorang pemimpin keluarga.
Teladan Rumah Tangga Para Nabi
1. Nabi Adam AS dan Hawa
Keluarga pertama dalam sejarah manusia dimulai dari Nabi Adam AS dan Hawa. Ketika keduanya tergelincir karena godaan setan, mereka tidak saling menyalahkan.
Mereka bersama-sama bertaubat kepada Allah. Allah mengabadikan doa mereka:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Pelajaran besar dari kisah ini ialah bahwa ketika terjadi kesalahan dalam rumah tangga, suami dan istri hendaknya saling memperbaiki diri, bukan saling menyalahkan.
2. Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar
Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar bersama bayi Ismail di lembah Makkah yang tandus atas perintah Allah, Hajar bertanya,
“Apakah Allah yang memerintahkanmu?”
Ketika dijawab “Ya”, Hajar berkata,
“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Inilah contoh luar biasa tentang kepercayaan seorang istri kepada Allah dan suaminya. Dari keluarga inilah lahir Nabi Ismail AS dan kemudian dibangun Ka’bah.
3. Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA
Ketika Rasulullah pertama kali menerima wahyu di Gua Hira, beliau pulang dalam keadaan gemetar.
Khadijah tidak mencela. Tidak menyalahkan. Tidak meremehkan.
Beliau berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, membantu orang miskin, memuliakan tamu dan menolong orang yang membutuhkan.”
Ucapan itu menjadi penyejuk hati Rasulullah. Beginilah istri yang salehah menjadi penopang dakwah suaminya.
Hak dan Kewajiban Suami
Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.” (QS. An-Nisa’: 34)
Kepemimpinan dalam Islam bukan berarti berkuasa secara zalim, tetapi memimpin dengan kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, dan keteladanan.
Suami wajib: Memberikan nafkah halal. Membimbing keluarga dalam agama. Memperlakukan istri dengan baik. Bersikap adil. Menjadi teladan ibadah dan akhlak.
Hak dan Kewajiban Istri
Istri adalah pendamping yang mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim)
Istri yang salehah akan:
1. Taat kepada Allah.
2. Menghormati suami dalam perkara yang ma’ruf.
3. Menjaga kehormatan diri dan keluarga.
4. Mendidik anak-anak.
5. Menjadi penyejuk hati suami.
Doa Keluarga Sakinah
Allah mengajarkan doa yang sangat indah:
﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Semoga setiap rumah kaum muslimin dipenuhi iman, ilmu, akhlak, kasih sayang, keberkahan rezeki, anak-anak yang saleh dan salehah, serta dikumpulkan kembali di surga Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






