BEKASI | BELA RAKYAT — Semangat kebangsaan yang berkelindan dengan kreativitas generasi muda menggema dari Pelataran Museum Bekasi, Gedung Juang 45, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Rabu (24/6/2026). Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80, Polres Metro Bekasi menggelar Festival Band Pelajar 2026 yang menjadi ruang ekspresi sekaligus panggung pembinaan talenta bagi pelajar tingkat SMA se-Bekasi. Kegiatan tersebut berlangsung berdampingan dengan Bazar UMKM Kabupaten Bekasi, menghadirkan denyut ekonomi rakyat dan geliat seni budaya dalam satu harmoni kebangsaan.
Penyelenggaraan kegiatan ini mencerminkan implementasi semangat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menempatkan Polri tidak hanya sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia serta penguatan kohesi sosial. Festival tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan kultural mampu menjadi instrumen efektif dalam membangun kedekatan antara institusi negara dan generasi muda.
Sebanyak 22 band pelajar tingkat SMA dari berbagai sekolah di Bekasi turut ambil bagian dalam kompetisi yang berlangsung meriah namun sarat nilai edukatif tersebut. Di tengah semarak puluhan tenda pelaku UMKM yang menawarkan beragam produk unggulan daerah, panggung musik menjadi medium yang menyatukan semangat kreativitas, persatuan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Di sinilah seni tampil bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa peradaban yang menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Salah satu penampilan yang menyita perhatian dewan juri maupun penonton adalah Omnitune Band dari SMA Marsudirini Bekasi. Dengan mengenakan busana tradisional khas Sumba yang memancarkan kekayaan identitas Nusantara, grup musik muda tersebut tampil penuh percaya diri membawakan lagu wajib “Indonesia Pusaka” dan lagu pilihan “Sirih Kuning”, sebuah lagu rakyat Betawi yang sarat makna tentang kesetiaan, penghormatan, serta akar budaya masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Melalui interpretasi musikal yang segar, Omnitune berhasil menghadirkan dialog artistik antara tradisi dan modernitas.
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Sumarni, S.I.K., M.H, menyampaikan bahwa Festival Band Pelajar merupakan bagian dari komitmen Polri untuk memberikan ruang positif bagi generasi muda dalam menyalurkan bakat dan kreativitasnya. Menurutnya, momentum HUT Bhayangkara ke-80 harus menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada aspek keamanan, tetapi juga pada pembentukan karakter, budaya, dan kapasitas generasi penerus yang kelak akan menentukan arah masa depan Indonesia. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus menjadi wadah lahirnya talenta-talenta muda yang berprestasi sekaligus berkarakter kebangsaan. Ujarnya kepada awak media, Rabu (24/6/2026).
Sementara itu, Kapolsek Tambun Selatan, Kompol Wuryanti, mengapresiasi antusiasme seluruh peserta yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya. Secara khusus, ia menilai Omnitune Band sebagai salah satu peserta yang memiliki potensi besar untuk bersaing memperebutkan gelar juara. Menurutnya, keberanian kelompok tersebut dalam mengaransemen lagu Indonesia Pusaka dan Sirih Kuning dengan nuansa Rock Progressive yang mengingatkan pada karakter musikal grup legendaris seperti Power Metal maupun Alas Roban menunjukkan kapasitas musikal yang matang, kreatif, dan memiliki identitas tersendiri.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Bunda Ike selaku manajer Omnitune Band. Ia mengungkapkan rasa bangga atas dedikasi para personel muda yang selama berbulan-bulan berlatih dengan disiplin dan penuh semangat. Menurutnya, panggung Festival Band Pelajar Bhayangkara bukan semata ajang perlombaan, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk keberanian, kerja sama, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.

“Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak muda Bekasi mampu menghadirkan karya yang modern tanpa kehilangan akar budaya Nusantara.” Pungkasnya.
Omnitune Band sendiri diperkuat oleh Kezia Judith sebagai vokalis, Rafie Pasha dan Arthur JS pada gitar, Othniel Silalahi pada bass, serta Al Hadiid NPRM pada drum. Dengan energi muda yang berpadu dengan eksplorasi musikal berani, mereka menghadirkan pesan bahwa masa depan Indonesia akan selalu menemukan harapan pada generasi yang berani berkarya, menghormati warisan budaya, dan memandang masa depan dengan keyakinan. Dari Gedung Juang 45 yang sarat jejak sejarah perjuangan bangsa, nada-nada yang mereka mainkan seakan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya diwariskan, melainkan juga harus terus dihidupkan melalui kreativitas, prestasi, dan kecintaan kepada Indonesia.
(CP/red)






