JANGAN MEMIMPIN KALAU BELUM HIJRAH: Mau Menjadi Pemimpin atau Menjadi Penguasa?

(Refleksi 1 Muharram 1448 H.)

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar, Sulsel

Ada banyak orang yang ingin menjadi pemimpin. Ada yang mengejarnya dengan ambisi, ada yang menunggunya dengan harapan, bahkan ada yang rela mengorbankan banyak hal demi meraihnya.

Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak semua orang yang berhasil memperoleh jabatan berhasil pula memikul amanahnya. Sebab memimpin sesungguhnya bukan soal naik ke atas, melainkan soal seberapa kuat seseorang menundukkan dirinya sendiri.

Jabatan sering kali mengubah cara seseorang berjalan, berbicara, bahkan cara ia memandang manusia lain. Ketika kursi semakin tinggi, sebagian orang justru semakin sulit melihat penderitaan yang berada di bawahnya. Ketika kewenangan semakin besar, sebagian hati diam-diam mulai merasa dirinya lebih penting daripada orang lain.

Padahal Rasulullah SAW. telah memberikan peringatan yang sangat mengguncang:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini seolah ingin mengatakan bahwa sebelum seseorang ditanya tentang keberhasilannya memimpin manusia, ia terlebih dahulu akan ditanya tentang keberhasilannya memimpin dirinya sendiri.

Maka pertanyaannya bukanlah, “Berapa banyak orang yang berada di bawah kepemimpinan kita?” Pertanyaannya adalah, “Berapa banyak manusia yang merasakan manfaat dari kepemimpinan kita?”

Betapa banyak pemimpin yang berhasil membangun gedung, tetapi gagal membangun hati. Berhasil mengumpulkan loyalitas, tetapi kehilangan keteladanan. Berhasil membuat orang tunduk, tetapi gagal membuat orang percaya.Di sinilah hijrah kepemimpinan menjadi sangat penting.

Hijrah pertama adalah berpindah dari mentalitas “bos” menuju mentalitas “pelayan”. Sebab dalam Islam, pemimpin bukanlah orang yang paling banyak dilayani, melainkan orang yang paling banyak melayani.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. ketika menjadi khalifah masih memerah susu kambing milik janda-janda miskin di Madinah. Umar bin Khattab RA. memikul sendiri karung gandum untuk rakyatnya pada malam hari. Mereka tidak merasa rendah karena melayani, justru mereka menjadi mulia karena pelayanan itu.

Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata:
قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
“Nilai seseorang ditentukan oleh manfaat yang ia berikan.”

Maka renungkanlah sejenak. Ketika jabatan kita berakhir hari ini, apakah orang-orang akan kehilangan pemimpinnya atau justru merasa terbebas dari beban?

Hijrah kedua adalah berpindah dari pencitraan menuju ketulusan. Di zaman media sosial, tidak sedikit orang yang lebih sibuk terlihat bekerja daripada benar-benar bekerja. Foto-foto kegiatan tersebar ke mana-mana, tetapi jeritan orang yang membutuhkan perhatian sering tidak terdengar.

Allah Swt. berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadahnya kepada Allah.”(QS. Al-Kahfi: 110)

Pertanyaannya sederhana namun menampar hati, jika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada pujian, apakah kita masih mau berbuat baik?

Hijrah ketiga adalah berpindah dari kemarahan menuju kelembutan. Sebagian orang mengira wibawa lahir dari suara yang keras dan wajah yang menakutkan. Padahal manusia mungkin tunduk karena takut, tetapi mereka akan setia karena cinta.

Allah mengingatkan Nabi-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka.”(QS. Ali Imran: 159)

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW. mengubah dunia bukan dengan bentakan, tetapi dengan akhlak yang membuat musuh pun akhirnya jatuh cinta.

Hijrah berikutnya ( ke-4) adalah meninggalkan kesombongan intelektual. Banyak organisasi mati bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang yang merasa dirinya paling benar.

Umar bin Khattab RA. pernah berkata:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kekuranganku.”

Kalimat ini keluar dari seorang khalifah yang menguasai hampir separuh dunia. Jika Umar saja masih siap dikoreksi, mengapa kita sering tersinggung ketika dinasihati?. Bukankah terkadang yang kita pertahankan bukanlah kebenaran, melainkan gengsi?

Hijrah yang tak kalah penting ( ke-5) adalah berpindah dari mental memiliki menuju mental menjaga. Jabatan bukan hak milik, melainkan titipan. Fasilitas bukan kehormatan, melainkan amanah.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
إِنَّمَا الدُّنْيَا وَدِيعَةٌ عِنْدَكَ فَأَدِّهَا إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ عَلَيْهَا
“Dunia hanyalah titipan di tanganmu, maka tunaikanlah amanah itu kepada Pemiliknya.”

Karena sesungguhnya banyak manusia jatuh bukan ketika miskin, melainkan ketika diberi kekuasaan.

Lalu ada hijrah yang sering terlupakan ( ke-6), yaitu hijrah dari kesombongan menuju rasa syukur. Tidak sedikit orang yang ketika berada di bawah terlihat sangat tawadhu, tetapi ketika berada di atas berubah menjadi sulit disentuh.

Padahal Allah berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.”(QS. Ali Imran: 140)

Hari ini di atas, esok bisa di bawah, hari ini memimpin, esok dipimpin, hari ini dihormati, esok dilupakan. Karena itu orang bijak tidak mabuk oleh pujian dan tidak hancur oleh kehilangan jabatan.

Dan hijrah yang paling agung ( yang ke-7), adalah berpindah dari orientasi dunia menuju orientasi akhirat. Sebab banyak orang berhasil secara administratif, tetapi gagal secara spiritual. Laporan pekerjaannya sempurna, tetapi hubungannya dengan Allah berantakan.

Padahal Abdullah bin Mas’ud RA. pernah mengingatkan:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ الْآخِرَةِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ الدُّنْيَا
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai fokus utamanya, maka Allah akan mencukupkan urusan dunianya.”

Di sinilah ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur oleh apa yang berhasil ia bangun, tetapi juga oleh apa yang berhasil ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Maka sebelum menandatangani sebuah keputusan, sebelum memarahi bawahan, sebelum menggunakan kewenangan, sebelum menikmati fasilitas jabatan, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah keputusan ini lahir dari amanah atau dari ego?”

“Jika Rasulullah SAW. berada di posisi saya, apakah beliau akan melakukan hal yang sama?
, Jika malam ini saya dipanggil Allah, apakah saya siap mempertanggungjawabkannya?”

Karena sesungguhnya jabatan hanyalah persinggahan. Ia bukan mahkota yang membuat manusia menjadi lebih mulia. Ia hanyalah ujian yang menentukan apakah seseorang layak dimuliakan atau justru dihinakan di hadapan Allah.

Jabatan itu seperti sandal. Ia diciptakan untuk dipakai berjalan menuju kemaslahatan. Bukan untuk diletakkan di atas kepala sebagai simbol kesombongan. Sandal yang kotor masih bisa dibersihkan. Tetapi kepala yang kotor oleh kesombongan, keserakahan, dan pengkhianatan amanah, itulah awal dari runtuhnya seorang pemimpin.

Maka jangan buru-buru ingin memimpin manusia sebelum berhasil memimpin diri sendiri, jangan tergesa-gesa mengejar jabatan sebelum berhijrah dari ego yang menguasai hati. Sebab pemimpin yang belum berhijrah sering kali hanya melahirkan kekuasaan, tetapi pemimpin yang telah berhijrah akan melahirkan peradaban.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا قَبْلَ أَنْ تُصْلِحَ مَنَاصِبَنَا، وَأَصْلِحْ سَرَائِرَنَا قَبْلَ أَنْ تُصْلِحَ ظَوَاهِرَنَا

“Ya Allah, perbaikilah hati kami sebelum Engkau memperbaiki jabatan kami, dan perbaikilah batin kami sebelum Engkau memperbaiki penampilan lahir kami.”

#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *