Oleh: I Nyoman Parta, Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Dapil Bali (Dikutip dari Akun Facebook-nya)
Di media sosial dan percakapan sehari-hari dipenuhi kabar bernada cemas tentang masa depan Bali. Ada yang khawatir tanah semakin banyak berpindah tangan, ritual mulai dianggap beban, gaji tak sebanding dengan biaya hidup, persaingan semakin keras, hingga meningkatnya kasus bunuh diri dan persoalan kesehatan mental.
Di tengah pembangunan yang terus berjalan, sebagian orang mulai bertanya, ke mana Bali sedang menuju?
Kegelisahan itu patut didengar. Namun kita juga tidak boleh tenggelam dalam ketakutan. Perubahan tidak mungkin dihentikan.
Jalan baru dibangun untuk mengatasi kemacetan, tetapi lahan pertanian jadi berkurang. Investasi membuka lapangan kerja, tetapi persaingan pun jadi makin ketat. Tidak ada pembangunan tanpa konsekuensi.
Yang penting, pembangunan pada muaranya harus membuat manusia Bali hidup lebih baik, lebih tenang, dan lebih bahagia. Bali tidak boleh hanya indah untuk pariwisata atau ekonomi nasional, tetapi juga harus tetap menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya sendiri.
Karena itu, yang terpenting adalah mempersiapkan manusianya. Anak-anak Bali harus sekolah baik. Para pemuda harus terampil agar mampu bersaing dan menjadi pelaku di tanahnya sendiri. Tapi itu belum cukup. Kita juga harus memperkuat semangat menyama braya dalam arti yang sesungguhnya, hadir bukan hanya saat suka, tetapi juga saat kesulitan melanda.
Buang jauh-jauh sikap Antipati, Iri hati, Dengki, dan Sirik, AIDS , Kebiasaan saling menjatuhkan. Ancaman terbesar bagi Bali bukan dari luar, tapi dari warganya yang kehilangan rasa saling percaya.,
Desa adat dan tradisi harus tetap dijaga. Adat memang perlu direvitalisasi agar selaras dengan napas jaman sehingga ritual tak terasa sebagai beban. Betapa pun selama berabad-abad adat, ritual, dan kebersamaan telah menjadikan Bali mampu bertahan
Mungkin ada saatnnya kita belajar dari Lumba -lumba Hewan laut itu dikenal sangat sosial dan suka membantu, bahkan kadang “menolong” manusia yang terdampar atau kesulitan di laut. Lumba-lumba juga simbol kecerdasan dan kerja sama. Lumba-lumba itu seperti keluarga besar.
Kalau ada anggota kelompok yang sakit atau terluka, Lumba-lumba lain bakal bantu jaga dan lindungi. Mereka juga kerja sama untuk berburu dan hadapin predator. Solid banget, Dengan saling melindungi dan kerja sama membuat Lumba-lumba lebih kuat hadapi ancaman. Kelebihan lain dari Lumba lumba adalah kemampunnya menghadapi perubahan cuaca di laut,
Bali. Tidak mungkin menolak perubahan, tetapi yang tidak boleh tetjadi manusia Bali kehilangan jati diri dan rasa persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan Bali
Bali tidak akan kalah oleh perubahan. Bali justru akan terluka oleh sikap saling curiga, sikap acuh tak acuh cuek bebek masyarakatnnya dan sikap ngaguang kite atau semau gue pemimpin nya
Yang akan menjaga Bali bukan pembangunan semata, namun yang pasti bisa menjaga Bali adalah manusia-manusianya yang tetap memegang teguh rasa persaudaraan, tradisi, dan menjadikan Bali sebagai rumah yang nyaman untuk dihuni bersama rumah yang selalu penuh harapan
Menyongsong hari suci Galungan dan Kuningan, ada baiknya mengingat kembali pesan sederhana para tetua: suud meboya : Jangan terlalu larut dalam prasangka, pun jangan terlalu menggampangkan segala sesuatu






