Di Indonesia hingga hari ini, jangan berharap korupsi akan sirna dan redup. Jangan berharap kekuasaan yang silih berganti akan membabat korupsi. Yang ada adalah korupsi terus subur dan menyebar massif di segala lini dan level masyarakat.
Sebab yang harus disadari dan diakui secara jujur adalah bahwa korupsi merupakan konsekwensi logis dari aturan main hidup yang berlaku di Indonesia. Aturan main inilah yang melahirkan korupsi dari generasi ke generasi. Aturan main hidup macam apakah di Indonesia itu?
Jika Anda ingin berhasil secara kekayaan dan kekuasaan, atau setidaknya jika Anda ingin hidup tidak susah dan melarat di Indonesia, ada 6 aturan main yang harus Anda lakoni. Ini memang tidak tertulis. Tapi 6 code of conduct ini diakui sebagai suatu kenyataan yang tak terbantahkan. Kita beri saja istilah khas tradisional Indonesianya: Sat Sila (6 Pokok) aturan main kehidupan praktis di Indonesia Nyata, bukan Indonesia Maya. Apa saja itu?
(1) Rajin
Rajin adalah sila pertama aturan main di kehidupan praktis di Indonesia. Jika Anda seorang pegawai negeri, pedagang atau karyawan, rajin adalah indeks utama penilaian dan kualifikasi. Bukan hasil karya atau hasil kinerja. Berapa banyak frekuensi setor muka atau absensi, itulah yang lebih utama ketimbang karya nyatamu. Dan rajin ini, berhubungan dengan kerelaanmu untuk menerima suruhan atasan dan melaksanakannya.
Dari sisi positifnya, rajin adalah ketangguhan untuk menjalani rutinitas proses pekerjaan dan kesanggupan beradaptasi dengan keadaan. Hal ini berlaku pada para pedagang kecil. Ini bukan soal intensitas yang diarahkan melipatgandakan kinerja, tapi soal ketabahan melayani dan menghadapi segala tantangan dan tuntutan pekerjaan yang kerap tidak adil dan manusiawi. Di situlah Anda dinilai rajin apa tidak. Inilah makna rajin dalam aturan main di Indonesia.
Jika Anda rajin dengan makna di atas, satu tangga untuk sukses di Indonesia, telah berada di tangan Anda. Tapi tidak cukup dengan satu itu saja. Di bawah ini ada lagi.
(2) Bisu
Setelah Anda rajin, Anda harus siap dan bersedia dengan senang hati untuk bisu. Bisu yang dimaksud di sini adalah tidak mengutarakan pendapat yang tidak menguntungkan pihak atasan atau pihak-pihak yang related dengan nasib pekerjaan Anda.
Jika Anda meninggalkan sikap bisu dan mulai berani berpendapat mandiri dan bebas, Anda akan melanggar aturan main, dan melanggar aturan main berkonsekwensi menyusahkan Anda sendiri dan bahkan membunuh karir dan ekonomi Anda sendiri. Sebab yang Anda hadapi adalah ekosistem hirarkis yang cenderung anti dengan kejujuran dan saling mengunci satu sama lain agar berkubang dalam situasi korup.
(3) Tuli
Setelah Anda melakoni aturan main bisu, Anda juga harus tuli. Anda tidak boleh mendengar saran-saran yang memperbaiki ke arah kehidupan yang jujur dan adil. Anda hanya berhasil jika Anda melakoni permainan dengan mengesampingkan nasehat-nasehat yang apa adanya yang tanpa tanpa tendensi. Sebaiknya nasehat yang Anda dengarkan ialah nasehat yang licik.
Pendeknya, Anda kejar saja tujuan Anda tanpa harus peduli dengan suara-suara yang mengingatkan. Anda anggap saja persetan dan masa bodoh dengan nasib orang lain, toh pada kenyataannya setiap orang sibuk dengan nasib dan keuntungan dirinya sendiri.
Itulah sila ketiga dari aturan main jika ingin sukses di Indonesia yang jahiliyah.
(4) Jilat
Setelah Anda membiasakan diri dengan tiga aturan main yang sebelumnya, jangan lupa, Anda harus mahir menjilat. Semakin deras dan intensif jilatan Anda pada atasan atau pihak-pihak yang related dengan pekerjaan dan bisnis Anda, semakin terbuka bagi Anda pintu-pintu peluang dan keuntungan. Di Indonesia, keuntungan suatu bisnis atau pun karir bukan ditentukan oleh harga yang kompetitif dan persaingan yang sportif, tapi oleh subjektivitas, like and dislike oleh mereka yang berkuasa atas urusan dan bisnis Anda. Di situlah Anda harus mahir menjilat, mencetak pujian yang menimbulkan sensasi nikmat ego bagi atasan atau objek jilatan Anda. Lebih bagus lagi Anda tidak sekedar menjilat. Tapi melengkapinya dengan suap dan upeti. Itu sila keempat yang berlaku dalam aturan main di Indonesia, jika Anda ingin berhasil sukses dan ingin makmur.
Keterampilan menjilat ini memang tidak main-main. Kadangkala Anda harus membuktikan bahwa jilatan Anda benar-benar tidak isapan jempol. Di situ Anda dituntut membuktikan jilatan Anda related dengan loyalitas dan selera objek jilatan Anda.
Bagi Anda yang tidak terlatih munafik, perkara pekerjaan menjilat ini merupakan kelelahan psikologis yang tak tertahankan. Berlainan dengan bukan seperti Anda. Mereka bisa enjoy dan tebal muka jika jilatan mereka menimbulkan cemoohan dan olok-olok. Ingatlah dalam hal ini tokoh bernama Ali Mukhtar Ngabalin.
(5) Matikan Alarm Hati Nurani
Di dunia praktis Indonesia, hati nurani nyaris tidak berguna. Jangan bawa-bawa hati nurani jika Anda ingin berhasil dalam usaha Anda mengejar kekayaan. Kalau Anda masih mementingkan hati nurani, lebih baik Anda pindah dari negeri yang diolok-olok sebagai Konoha ini.
Hati nurani tidak akan selaras dengan prinsip yang berjalan tentang aturan main di Indonesia.
(6) Fokus pada Duit
Aturan main berikutnya ialah fokus pada duit. Duit adalah hasil akhir dari seluruh kegiatan dan sekaligus ukuran dan pemutus perkara.
Apapun urusannya di Indonesia, jangan lupa semua berakhir pada urusan duit. Bahkan urusan moral dan agama pun dapat diputuskan dan diganti dengan duit, mau benar atau menyeleweng, semua diputuskan oleh duit. Duit inilah poros dari kehidupan apa pun di Indonesia. Semua pendek kata telah termonetisasi atau telah terkonversi dengan duit. Hukum bisa dikonversi dengan duit. Keputusan politik dengan duit. Fatwa agamapun bisa dikonversi dengan duit.
Inilah bangsa yang menyembah duit secara keterlaluan. Sistem hidupnya pun diatur dengan duit. Kasta dan hak pengecualiaan/keistimewaan individu, juga dibentuk sejauh mana Anda punya duit.
Jadi dengan Sat Sila Aturan Main yang berlaku di Indonesia itu, maka korupsi hanyalah konsekwensi saja. Dia bukan sebab. Tapi akibat dari aturan main yang sudah korup dan rusak parah sedemikian rupa.
Matinya Nahi Munkar
Persoalan ini related dengan praktik agama yang rapuh dan korup juga. Salah satu perintah agama dalam hal ini Islam, yakni Nahi Munkar (Melarang Langsung Kemunkaran atau Suatu Perkara yang Asing dari Perintah Tuhan), tidak dikerjakan dan dihidupkan. Malahan terasa ada upaya untuk mengebiri dan meredupkannya.
Indikasi ini menyiratkan betapa korupnya kehidupan agama dan spritual di Indonesia. Bahkan ormas-ormas raksasa seperti NU dan Muhammadiyah tidak tampil menjadi pelopor sekaligus pendorong bagi hidupnya ajaran Nahi Munkar ini. Pantaslah yang berlaku adalah 6 aturan main yang diuraikan di atas.
Padahal Nahi Munkar inilah sebenarnya yang niscaya menghalangi 6 aturan main hidup di Indonesia itu yang telah melahirkan tradisi korupsi di mana-mana secara massif hingga dianggap sebagai kebiasaan yang dinormalisasi.
Walhasil, Indonesia yang kita hidup di dalamnya, kita hadapi dengan kenyataan semacam itu.
Respons Kita
Menghadapi kenyataan tersebut, ada 3 respons.
(1) Adaptasi
Kebanyakan orang akan memilih beradaptasi dengan aturan main yang laksana hukum besi kehidupan korup tersebut. Orang pun akan belajar untuk melakoni kerja rajin dalam pengertian tabah menghadapi rutinitas, tuli, bisu, jilat, matikan alarm hati nurani, dan fokus pada duit, karena orang merasa hanya dengan cara begitu, orang tidak menghadapi risiko dan tantangan berat demi mengejar kekayaan di Indonesia.
(2) Pindah dan Keluar
Berkecimpung di Indonesia, sedang orang yang mempertahankan nurani, iman dan moral agama akan selalu menghadapi kontradiksi batin dan kerentanan untuk jatuh ke dalam 6 aturan main di Indonesia seperti yang diuraikan di atas itu. Dari pada terjebak dalam kerentanan dan kegelisahan yang merusak kesegaran batin, pindah dan keluar dari lingkungan tersebut, merupakan opsi yang masuk akal.
Muhammad Saw dan para pengikutnya merupakan salah satu pionir dalam upaya merespons lingkungan yang korup dan tak bisa diharap untuk diandalkan sebagai basis penciptaan kehidupan yang baik dan luhur, dengan cara keluar dari Mekkah dan pindah ke Madinah. Hanya setelah basisnya kuat dan perkasa, Mekkah pun dibebaskan dari aturan main yang korup tersebut dengan aturan main yang baru sesuai yang ditetapkan oleh Rasulullah. Sejarah Mekkah yang korup pun berakhir.
Sekarang, banyak orang keluar dan pindah ke desa-desa atau lingkungan yang jauh dari pengaruh 6 aturan main yang berlaku di Indonesia, yang sangat pekat pengaruhnya di kota-kota. Tapi di desa-desa terpencil pun, tidak berarti bersih dari 6 aturan main tersebut. Apakah sejarah berakhirnya Mekkah yang korup dapat juga diterapkan di Indonesia? Silakan dipikirkan.
(3) Sabar untuk Memperbaiki
Respons berikutnya ialah tetap berada di lingkungan 6 aturan main tersebut sembari memperkuat rasa sabar dan memperluas barisan yang berniat merubah aturan main tersebut.
Inilah sabar yang aktif dan produktif. Bukan sabar yang pasif. Hanya sekedar menyelamatkan diri sendiri.
Respons yang ketiga ini amatlah sulit. Memerlukan ketahanan moral dan spritual. Dan juga kemampuan kepemimpinan di dalam suatu masyarakat yang pekat dengan intervensi korupsi di segala bidang.
Tetapi memang peluang untuk merangkul dan menggalang orang-orang yang tidak nyaman dengan 6 aturan main yang berlaku tersebut, jauh lebih terbuka dan mudah dilakukan akibat ketersediaan objek, dari pada model respons yang kedua.
Semoga saja, Sat Sila yang nyata menyuburkan habitat yang korup ini, dapat diatasi dan dikikis dengan memulai menyadari kenyataannya dan mengusahakan cara untuk lepas daripadanya.
Oleh: Abul Ghany Al Bakasy, Pengamat Sosial Keagamaan






