Hari Tasyriq: Hari-hari Kemuliaan, Dzikir, Syukur, dan Penguatan Spirit Pengorbanan dalam Islam

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi. Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Bacaan Lainnya

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada umat Islam berbagai musim kebaikan dan momentum ibadah yang penuh keberkahan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Di antara hari-hari istimewa dalam Islam yang sering kali kurang dipahami secara mendalam oleh sebagian kaum Muslimin adalah Hari-Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini datang setelah Hari Raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam syariat Islam.

Hari Tasyriq bukan sekadar hari biasa setelah Idul Adha. Ia adalah hari-hari yang dipenuhi dzikir, takbir, syukur, ibadah, kebersamaan, serta penguatan nilai pengorbanan dan kepedulian sosial melalui ibadah kurban. Pada hari-hari ini pula umat Islam dilarang berpuasa karena Allah SWT menjadikannya sebagai hari raya kaum Muslimin.

Tulisan ini mencoba menguraikan secara panjang dan mendalam tentang makna Hari Tasyriq, sejarahnya, dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, hukum-hukum yang berkaitan dengannya, hikmah spiritual dan sosialnya, hingga bagaimana umat Islam seharusnya menghidupkan hari-hari agung tersebut dalam kehidupan modern saat ini.

Pengertian Hari Tasyriq

Secara bahasa, kata “Tasyriq” berasal dari bahasa Arab:

التشريق

yang memiliki hubungan dengan kata:

الشَّرْق yang berarti matahari terbit atau timur.

Para ulama menjelaskan bahwa penamaan “Hari Tasyriq” memiliki kaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab dahulu yang menjemur daging kurban di bawah sinar matahari agar tahan lama. Aktivitas menjemur daging tersebut disebut:

تَشْرِيقُ اللَّحْم (menjemur daging).

Karena pada hari-hari tersebut kaum Muslimin sibuk menyembelih hewan kurban dan mengolah dagingnya, maka hari-hari setelah Idul Adha dinamakan Hari Tasyriq.

Secara istilah syariat, Hari Tasyriq adalah: 11 Dzulhijjah,  12 Dzulhijjah, 13 Dzulhijjah yakni tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha.

Hari-hari ini memiliki banyak keutamaan dan hukum-hukum khusus yang membedakannya dari hari-hari lain.

Hari Tasyriq dalam Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 203:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan:

أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ (hari-hari yang berbilang) adalah Hari-Hari Tasyriq.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak dzikir kepada Allah pada hari-hari Tasyriq, terutama takbir setelah salat.

Hari-hari tersebut dipenuhi dengan syiar Islam: takbir, tahmid, tahlil, dzikir, penyembelihan kurban, sedekah, dan kebersamaan sosial.

Karena itu Hari Tasyriq bukan sekadar hari makan dan minum, tetapi juga hari mengingat Allah SWT.

Hadis tentang Hari Tasyriq

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, Hari Nahr (Idul Adha), dan Hari-Hari Tasyriq adalah hari raya kita umat Islam, dan hari-hari tersebut adalah hari makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i)

Hadis ini menunjukkan bahwa Hari Tasyriq termasuk bagian dari hari raya umat Islam.

Karena itulah puasa diharamkan pada hari-hari tersebut, sebab hari raya adalah momentum kegembiraan dan syukur.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ

“Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat penting karena menunjukkan keseimbangan Islam: ada ibadah ruhani, ada syukur jasmani, ada dzikir, ada kebersamaan sosial, ada kenikmatan yang halal, dan ada penguatan hubungan manusia dengan Allah.

Sejarah Hari Tasyriq pada Masa Nabi Ibrahim AS

Pembahasan Hari Tasyriq tidak bisa dilepaskan dari sejarah besar pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Kisah kurban bermula ketika Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi dari Allah SWT agar menyembelih putranya tercinta, Nabi Ismail AS.

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Nabi Ismail AS dengan penuh keimanan menjawab:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Peristiwa ini menjadi simbol: ketaatan total kepada Allah, keikhlasan, pengorbanan, cinta kepada Allah di atas segalanya.

Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan besar.

Peristiwa agung ini menjadi asal-usul syariat kurban yang terus dijalankan umat Islam hingga hari ini.

Hari Tasyriq menjadi kelanjutan dari momentum pengorbanan tersebut, di mana umat Islam: menyembelih hewan kurban, membagikan daging kepada fakir miskin, memperkuat solidaritas sosial, serta memperbanyak dzikir kepada Allah.

Larangan Berpuasa pada Hari Tasyriq

Salah satu hukum penting terkait Hari Tasyriq adalah haramnya berpuasa pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنْ صَوْمِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Rasulullah melarang puasa pada hari-hari Tasyriq.” (HR. Muslim)

Larangan ini mencakup: puasa sunnah, puasa qadha, puasa nazar, dan puasa lainnya.

Kecuali sebagian ulama memberikan pengecualian bagi jamaah haji yang tidak mendapatkan hewan dam.

Mengapa dilarang puasa? Karena Hari Tasyriq adalah: hari syukur, hari makan, hari berbagi, hari menikmati rezeki Allah, dan hari memperlihatkan syiar Islam.

Islam bukan agama yang hanya menekankan ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan menikmati nikmat Allah secara halal.

Waktu Penyembelihan Hewan Kurban

Banyak masyarakat mengira bahwa penyembelihan kurban hanya dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Padahal syariat memberikan keluasan waktu hingga akhir Hari Tasyriq.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa waktu penyembelihan kurban dimulai: setelah salat Idul Adha pada 10 Dzulhijjah, hingga terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah.

Artinya, umat Islam masih dapat berkurban pada: 11 Dzulhijjah, 12 Dzulhijjah, 13 Dzulhijjah sebelum Maghrib.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Semua Hari Tasyriq adalah waktu penyembelihan.” (HR. Ahmad)

Hikmah diperpanjangnya waktu kurban: memberi kemudahan bagi umat, memperluas distribusi daging, memberi kesempatan lebih luas untuk berbagi, dan memperbesar syiar Islam.

Takbir pada Hari Tasyriq

Salah satu amalan paling utama pada Hari Tasyriq adalah memperbanyak takbir.

Takbir merupakan syiar kemenangan iman dan pengagungan kepada Allah SWT.

Lafaz takbir yang umum dibaca:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Para ulama menjelaskan bahwa takbir pada Hari Tasyriq dibagi menjadi dua: Takbir mutlak

Takbir muqayyad

1. Takbir Mutlak

Takbir yang dibaca kapan saja: di rumah, di jalan, di masjid, di kendaraan, dan tempat lainnya.

Dimulai sejak awal Dzulhijjah hingga akhir Hari Tasyriq.

2. Takbir Muqayyad

Takbir yang dibaca setelah salat fardhu. Mayoritas ulama menyebutkan: dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah), hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Tradisi ini dilakukan para sahabat Nabi dan menjadi syiar Islam yang sangat indah.

Hari Tasyriq sebagai Hari Dzikir

Allah SWT sangat menekankan dzikir pada Hari Tasyriq. Dzikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi juga bentuk kesadaran hati akan kebesaran Allah.

Bentuk dzikir pada Hari Tasyriq: takbir, tahmid, tahlil, membaca Al-Qur’an, doa, istighfar, majelis ilmu, sedekah,serta amal kebajikan lainnya.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa Hari Tasyriq termasuk hari yang paling dianjurkan untuk memperbanyak dzikir.

Mengapa? Karena setelah ibadah besar seperti haji dan kurban, seorang Muslim diperintahkan untuk semakin dekat kepada Allah, bukan justru lalai.

Hubungan Hari Tasyriq dengan Ibadah Haji

Hari Tasyriq juga memiliki kedudukan sangat penting dalam rangkaian ibadah haji.

Pada hari-hari tersebut jamaah haji:bermalam di Mina, melempar jumrah, memperbanyak dzikir, dan berdoa.

Mina bahkan disebut sebagai kota dzikir. Allah SWT menginginkan agar setelah puncak ibadah haji di Arafah dan Idul Adha, para jamaah tetap menghidupkan hati mereka dengan dzikir dan ibadah. Karena itu Hari Tasyriq adalah kelanjutan dari pendidikan spiritual haji.

Hikmah Sosial Hari Tasyriq

Hari Tasyriq bukan hanya ritual ibadah pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat besar.

1. Menguatkan Solidaritas

Pembagian daging kurban membuat masyarakat: saling berbagi, membantu fakir miskin, dan mempererat ukhuwah.

2. Menghapus Kesenjangan Sosial

Pada Hari Tasyriq, orang miskin ikut menikmati daging kurban. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan hari raya harus dirasakan semua orang.

3. Menumbuhkan Kepedulian

Kurban mendidik manusia agar tidak cinta dunia secara berlebihan. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan.

Makna Spiritual Kurban dan Hari Tasyriq

Hakikat kurban bukan semata menyembelih hewan.

Allah SWT berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Makna terbesar kurban adalah: ketakwaan, keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan cinta kepada Allah.

Hari Tasyriq menjadi momentum untuk merenungkan: apa yang telah kita korbankan demi agama, sejauh mana keikhlasan kita, serta seberapa besar kepedulian kita kepada sesama.

Tradisi Hari Tasyriq di Dunia Islam

Di berbagai negara Muslim, Hari Tasyriq dirayakan dengan tradisi yang penuh kehangatan.

Indonesia

Masyarakat: memasak daging kurban bersama, mengadakan silaturahmi, pengajian, takbiran, dan pembagian daging.

Arab Saudi

Hari Tasyriq sangat terasa di Mina karena jutaan jamaah haji berkumpul.

Turki

Keluarga besar berkumpul dan saling berbagi makanan.

Afrika

Kurban menjadi momentum membantu masyarakat miskin dalam jumlah besar.

Walau budaya berbeda, semangatnya sama:syukur, dzikir, berbagi, dan ibadah.

Kesalahan yang Sering Terjadi pada Hari Tasyriq

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:

1. Berpuasa pada Hari Tasyriq

Padahal hukumnya dilarang.

2. Melupakan Dzikir

Sebagian orang hanya fokus makan dan silaturahmi, tetapi lalai dari takbir dan dzikir.

3. Menunda Kurban tanpa Alasan

Padahal waktu terbaik adalah lebih cepat.

4. Menjadikan Hari Raya sebagai Ajang Berlebihan

Islam mengajarkan kegembiraan yang tetap dalam batas syariat.

Relevansi Hari Tasyriq di Era Modern

Di zaman modern yang penuh individualisme, Hari Tasyriq mengajarkan nilai: solidaritas, kepedulian, pengorbanan, dan kebersamaan.

Ketika banyak manusia sibuk mengejar materi, Islam mengingatkan pentingnya berbagi.

Ketika banyak orang mengalami kesulitan ekonomi, kurban menjadi sarana pemerataan sosial.

Ketika hati manusia mulai keras, dzikir menghidupkan kembali spiritualitas.

Hari Tasyriq dan Pendidikan Keluarga

Momentum Hari Tasyriq sangat penting untuk pendidikan anak.

Anak-anak perlu diajarkan: makna kurban, kisah Nabi Ibrahim,pentingnya berbagi, cinta kepada Allah, dan semangat kepedulian sosial.

Keluarga Muslim dapat menjadikan Hari Tasyriq sebagai: momentum penguatan iman, pendidikan akhlak, dan pembentukan karakter.

Keutamaan Berdzikir pada Hari Tasyriq

Ibnu Abbas RA mengatakan:

“Berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang.”

Para ulama menjelaskan bahwa dzikir pada Hari Tasyriq termasuk amalan yang sangat dicintai Allah.

Dzikir: menenangkan hati, membersihkan jiwa, mendekatkan diri kepada Allah,dan menghidupkan suasana spiritual.

Karena itu rumah-rumah kaum Muslimin seharusnya dipenuhi: takbir,tahmid, dan bacaan Al-Qur’an.

Nilai Pengorbanan dalam Kehidupan

Hari Tasyriq mengingatkan bahwa hidup membutuhkan pengorbanan. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Tidak ada kemuliaan tanpa keikhlasan.

Nabi Ibrahim AS mengorbankan: ego, rasa cinta dunia, dan perasaan pribadi, demi menaati Allah.

Maka umat Islam pun harus belajar: mengorbankan kemalasan, hawa nafsu, keserakahan, dan sifat egois.

Meneladani Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim disebut:

خَلِيلُ اللَّهِ

“Kekasih Allah.”

Beliau mendapat kedudukan mulia karena:ketaatan,kesabaran, ketauhidan, dan pengorbanannya.

Hari Tasyriq adalah waktu tepat untuk meneladani akhlak Nabi Ibrahim: ikhlas, taat, sabar, dan peduli kepada sesama.

Penutup

Hari Tasyriq adalah hari-hari agung yang penuh kemuliaan dalam Islam. Ia bukan hanya lanjutan dari Idul Adha, tetapi juga momentum: dzikir, syukur, pengorbanan, kepedulian sosial, dan penguatan spiritualitas umat.

Pada hari-hari tersebut umat Islam: dilarang berpuasa, dianjurkan memperbanyak takbir, memperbanyak dzikir, mempererat silaturahmi, serta menyempurnakan ibadah kurban.

Hari Tasyriq mengajarkan bahwa Islam adalah agama keseimbangan: antara ibadah dan syukur, antara spiritualitas dan sosial, antara hubungan kepada Allah dan hubungan kepada manusia.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memahami makna pengorbanan, memperbanyak dzikir, menjaga ketakwaan, dan menghidupkan syiar Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga semangat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS terus hidup dalam hati umat Islam sepanjang zaman.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Wallahu A’lam bish Shawab.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *