Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Sebuah Renungan Tentang Cahaya Shalat, Kehidupan, dan Akhir Perjalanan Manusia. Di dunia ini manusia mengejar banyak hal. Ada yang mengejar harta hingga lupa waktu.
Ada yang mengejar jabatan sampai kehilangan ketenangan. Ada yang memburu pujian manusia, namun lupa mencari ridha Allah.
Padahal pada akhirnya, semua manusia akan berhenti pada satu titik yang sama: sebuah liang sunyi bernama kubur.
1. Di sana tidak ada lagi jabatan.
2. Tidak ada lagi kemewahan.
3. Tidak ada lagi tepuk tangan manusia.
4. Yang tersisa hanyalah amal.
Dan di antara seluruh amal itu, shalat adalah yang pertama kali ditanya oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.”
(HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Betapa besar kedudukan shalat di sisi Allah.
Shalat bukan sekadar gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Shalat adalah ikatan langit antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah tempat hati yang lelah menemukan ketenangan.
Shalat adalah air mata seorang pendosa yang ingin kembali kepada Allah.
Karena itu Rasulullah SAW bersabda:
“Kedudukan shalat dalam agama seperti kepala pada jasad.”
(HR. Thabrani)
Coba bayangkan tubuh tanpa kepala. Ia tidak bernyawa. Begitulah kehidupan tanpa shalat. Terlihat hidup, tetapi sebenarnya hatinya mati.
Shalat: Perintah Langsung dari Langit
Tidak ada ibadah yang diwajibkan dengan cara semulia shalat. Puasa diwajibkan di bumi. Zakat diwajibkan di bumi. Haji diwajibkan di bumi.
Namun shalat diwajibkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah SAW ketika peristiwa agung Isra Mikraj.
Nabi Muhammad SAW menembus langit demi langit hingga sampai ke Sidratul Muntaha.
Di tempat itulah Allah memerintahkan shalat lima waktu. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah paling istimewa.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)
Shalat bukan beban. Shalat adalah panggilan cinta dari Allah kepada hamba-Nya.
Shalat Para Nabi dan Orang-Orang Shalih
Sejak dahulu, para nabi memuliakan shalat.
Nabi Ibrahim berdoa:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.”
(QS. Ibrahim: 40)
Nabi Ismail dikenal sebagai sosok yang selalu mengajak keluarganya shalat.
Allah berfirman:
“Dan ia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan shalat dan zakat.”
(QS. Maryam: 55)
Bahkan di saat sakit menjelang wafat, Rasulullah SAW masih berkata:
“Ash-shalah, ash-shalah…”
“Jagalah shalat, jagalah shalat.”
(HR. Abu Dawud)
Kalimat itu keluar dari lisan Rasulullah ketika beliau berada di detik-detik terakhir kehidupan.
Ini menandakan betapa pentingnya shalat. Para sahabat juga sangat menjaga shalat.
Umar bin Khattab pernah ditikam ketika menjadi imam shalat Subuh. Dalam keadaan berdarah pun, beliau tetap bertanya:
“Apakah kaum muslimin sudah melaksanakan shalat?”
Karena bagi generasi terbaik Islam, meninggalkan shalat bukan perkara kecil.
Mengapa Banyak Hati Gelisah? Hari ini banyak manusia merasa hidupnya berat.
1. Hatinya gelisah.
2. Pikirannya sempit.
3. Tidurnya tidak tenang.
4. Boleh jadi bukan karena kurang harta.
5. Boleh jadi bukan karena kurang hiburan.
Tetapi karena jauh dari Allah.
Allah berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dan shalat adalah zikir terbesar. Saat dahi menyentuh sajadah, saat itulah manusia paling dekat dengan Allah. Semua kesombongan runtuh di hadapan-Nya.
Orang yang rajin shalat mungkin tetap diuji. Namun hatinya memiliki cahaya untuk menghadapi ujian.
Sedangkan orang yang meninggalkan shalat, hidupnya sering terasa kosong meski dipenuhi dunia.
Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat
Islam tidak pernah meremehkan dosa meninggalkan shalat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat, maka mereka kelak akan tersesat.”
(QS. Maryam: 59)
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Karena itu para ulama sangat keras memperingatkan tentang bahaya meninggalkan shalat.
Adapun tentang “15 siksaan” yang sering beredar di masyarakat, sebagian riwayatnya tidak memiliki sanad yang kuat. Namun makna peringatannya benar: meninggalkan shalat membawa kehinaan dunia dan akhirat.
Orang yang jauh dari shalat akan kehilangan cahaya hidupnya. Enam Musibah di Dunia.
1. Hilangnya keberkahan umur.
2. Wajah kehilangan cahaya ketenangan.
3. Amal terasa hampa.
4. Hati keras dan sulit menerima nasihat.
5. Doa terasa jauh dari pengabulan.
6. Kehidupan dipenuhi kegelisahan.
7. Saat Sakaratul Maut Kematian adalah saat paling berat.
Orang yang menjaga shalat akan dimudahkan mengucapkan kalimat tauhid. Namun orang yang lalai, ia menghadapi kematian dengan penyesalan besar.
Di Alam Kubur
Kubur bisa menjadi taman surga atau lubang neraka. Shalat akan menjadi cahaya di alam kubur.
Rasulullah SAW bersabda:
“Shalat itu cahaya.”
(HR. Muslim)
Di Hari Kiamat
Pada hari itu manusia mencari keselamatan. Matahari didekatkan. Manusia tenggelam dalam keringatnya. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Tetapi orang yang menjaga shalat akan datang membawa cahaya.
Keindahan Orang yang Menjaga Shalat
Orang yang menjaga shalat sebenarnya sedang menjaga dirinya sendiri.
Shalat Subuh melatih keikhlasan.
Shalat Zuhur mengingatkan manusia di tengah kesibukan dunia.
Shalat Ashar menjaga hati dari lalai.
Shalat Maghrib mengajak manusia bersyukur atas hari yang telah dilalui.
Shalat Isya menutup malam dengan ketenangan.
Shalat membuat hidup lebih terarah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi lupa memperbaiki shalatnya. Padahal ketika shalat diperbaiki:
1. hati menjadi lembut,
2. akhlak menjadi baik,
3. rezeki terasa berkah,
4. dan hidup lebih damai.
Jangan Menunggu Menjadi Baik Baru Shalat
Banyak orang berkata:
“Aku belum pantas shalat.”
“Aku masih banyak dosa.”
“Nanti kalau sudah hijrah baru shalat.”
Padahal justru shalatlah yang membantu manusia meninggalkan dosa.
Tidak ada manusia suci.
Semua pernah salah.
Tetapi seburuk apa pun dosa seseorang, pintu taubat Allah selalu terbuka.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Mulailah dari satu shalat.
Lalu jaga perlahan.
Allah tidak melihat seberapa cepat kita berubah.
Allah melihat kesungguhan hati kita untuk kembali.. Shalat Adalah Pertolongan. Ketika hidup terasa berat, jangan tinggalkan shalat.
Allah berfirman:
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 45)
Shalat adalah tempat menangis paling aman. Tempat mengadu paling jujur. Tempat hati paling damai.
Ada air mata yang tidak mampu diceritakan kepada manusia, tetapi mampu dipahami Allah ketika kita sujud.
Penutup
Suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia ini. Mungkin cepat, mungkin lambat.
Dan ketika kain kafan telah membungkus tubuh, tidak ada lagi kesempatan memperbaiki shalat.
Karena itu, selama napas masih ada, selama pintu taubat masih terbuka, marilah kembali menjaga shalat. Jangan tunggu sakit. Jangan tunggu tua. Jangan tunggu ajal mendekat.
Sebab tidak ada yang tahu kapan namanya dipanggil pulang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat, khusyuk dalam sujud, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






