Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalomantan Selatan I
Hari Jumat dalam Islam bukan sekadar pergantian hari dalam hitungan pekan. Jumat adalah hari yang dimuliakan Allah SWT, hari yang penuh keberkahan, hari berkumpulnya kaum muslimin untuk beribadah, mendengarkan nasihat, memperbanyak doa, dzikir, shalawat, dan amal kebaikan. Karena itulah umat Islam di berbagai penjuru dunia menyebutnya sebagai “Jumat Berkah”. Sebutan ini bukan hanya tradisi budaya, melainkan memiliki dasar kuat dari Al-Qur’an, hadis Rasulullah SAW, serta praktik kehidupan para sahabat dan orang-orang saleh terdahulu.
Allah SWT menjadikan Jumat sebagai hari istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW. Jika umat Yahudi dimuliakan dengan hari Sabtu dan umat Nasrani dengan hari Minggu, maka umat Islam diberikan keutamaan hari Jumat. Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam adalah umat terakhir di dunia namun menjadi yang pertama pada hari kiamat. Salah satu bentuk kemuliaan itu adalah diberikannya hari Jumat sebagai hari utama.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa hari Jumat memiliki kedudukan yang sangat tinggi sampai-sampai aktivitas duniawi seperti perdagangan harus dihentikan sementara demi memenuhi panggilan Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa ketika azan Jumat berkumandang, seluruh urusan dunia hendaknya dikesampingkan. Ini menjadi bukti bahwa Allah memuliakan hari Jumat di atas hari-hari lainnya.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula Adam dikeluarkan dari surga.”
Hadis ini menjelaskan bahwa berbagai peristiwa besar terjadi pada hari Jumat. Nabi Adam AS, manusia pertama, diciptakan pada hari Jumat. Bahkan menurut sebagian riwayat, hari kiamat pun akan terjadi pada hari Jumat. Karena itu Jumat menjadi hari yang sangat agung di sisi Allah SWT.
Lalu mengapa disebut Jumat Berkah? Disebut Jumat Berkah karena pada hari itu Allah melimpahkan banyak kebaikan dan pahala kepada hamba-Nya. Amal ibadah pada hari Jumat memiliki keutamaan besar. Sedekah di hari Jumat sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, berdoa, mandi Jumat, memakai pakaian terbaik, memakai wangi-wangian, dan datang lebih awal ke masjid menjadi amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa mandi pada hari Jumat, kemudian berangkat lebih awal ke masjid, berjalan kaki, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan perbuatan sia-sia, maka setiap langkahnya bernilai pahala puasa dan salat sunnah selama setahun.”
Betapa luar biasanya keutamaan hari Jumat. Bahkan langkah kaki menuju masjid pun dihitung sebagai pahala besar. Karena itu kaum muslimin sejak zaman dahulu sangat menantikan datangnya hari Jumat.
Di antara keberkahan hari Jumat adalah adanya waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda:
“Pada hari Jumat terdapat suatu waktu, apabila seorang muslim berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
Para ulama menjelaskan bahwa waktu tersebut kemungkinan besar berada di akhir waktu Ashar hingga menjelang Magrib. Karena itu banyak kaum muslimin memperbanyak doa pada sore hari Jumat, berharap doa mereka dikabulkan Allah SWT.
Selain itu, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya memperbanyak shalawat pada hari Jumat. Dalam hadis disebutkan:
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat.”
Shalawat adalah bentuk cinta kepada Rasulullah SAW. Hari Jumat menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak shalawat dan mengingat perjuangan beliau.
Rasulullah SAW sendiri sangat memuliakan hari Jumat. Beliau mandi sebelum salat Jumat, memakai pakaian terbaik, menggunakan minyak wangi, dan datang ke masjid dengan penuh ketenangan. Rasulullah juga membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat serta memperbanyak doa dan dzikir.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca Surah As-Sajdah dan Al-Insan pada salat Subuh hari Jumat. Ini menunjukkan bahwa hari Jumat benar-benar diperlakukan secara khusus oleh beliau.
Para sahabat Nabi juga sangat memuliakan hari Jumat. Umar bin Khattab RA misalnya, sangat memperhatikan pelaksanaan salat Jumat dan ketertiban kaum muslimin saat khutbah berlangsung. Utsman bin Affan RA dikenal memperbanyak sedekah pada hari Jumat. Ali bin Abi Thalib RA juga sering mengingatkan umat Islam agar memanfaatkan hari Jumat untuk memperbanyak amal saleh.
Abdullah bin Mas’ud RA berkata bahwa tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah selain hari Jumat. Para sahabat biasanya mempersiapkan diri sejak Kamis sore untuk menyambut Jumat. Mereka mandi, membersihkan pakaian, memperbanyak ibadah malam, dan menahan diri dari perbuatan sia-sia.
Tradisi memuliakan Jumat juga dilanjutkan oleh para tabi’in dan orang-orang saleh terdahulu. Imam Syafi’i رحمه الله sangat menghormati hari Jumat dengan memperbanyak ibadah dan membaca Al-Qur’an. Imam Ahmad bin Hanbal memperbanyak doa pada sore Jumat karena meyakini adanya waktu mustajab. Hasan Al-Bashri sering menangis ketika memasuki hari Jumat karena takut belum maksimal dalam memanfaatkan kemuliaannya.
Bagi orang-orang saleh terdahulu, Jumat adalah hari spiritual yang sangat penting. Mereka menyebutnya sebagai “hari raya mingguan” bagi umat Islam. Pada hari itu hati dilunakkan dengan dzikir, ukhuwah diperkuat dengan berkumpul di masjid, dan iman diperbarui melalui khutbah Jumat.
Keistimewaan Jumat juga tampak dari adanya salat Jumat yang diwajibkan bagi laki-laki muslim yang baligh dan mampu. Salat Jumat bukan sekadar pengganti Zuhur, tetapi syiar besar Islam yang menunjukkan persatuan umat. Kaum muslimin berkumpul tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan. Semua berdiri sejajar di hadapan Allah SWT.
Hari Jumat juga menjadi momentum berbagi kepada sesama. Di banyak tempat, umat Islam memiliki tradisi sedekah Jumat, berbagi makanan, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, atau memberi makan jamaah masjid. Tradisi ini lahir dari pemahaman bahwa pahala amal kebaikan di hari Jumat sangat besar.
Karena itulah istilah “Jumat Berkah” menjadi begitu populer di tengah masyarakat muslim. Jumat dianggap sebagai hari penuh rahmat, ampunan, dan kesempatan memperbaiki diri. Banyak orang memilih hari Jumat untuk memulai kebaikan, mengadakan pengajian, bersedekah, atau berkumpul bersama keluarga dalam suasana religius.
Namun hakikat Jumat Berkah bukan hanya tentang membagikan makanan atau sedekah semata. Jumat Berkah sejatinya adalah ketika seorang muslim memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. Ketika ia datang ke masjid lebih awal, mendengarkan khutbah dengan khusyuk, memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, menolong sesama, dan memperbanyak doa.
Islam memuliakan hari Jumat karena Jumat adalah hari yang mengingatkan manusia kepada akhirat. Setiap khutbah Jumat mengandung nasihat tentang ketakwaan, kematian, amal saleh, dan kehidupan setelah dunia. Dengan demikian, Jumat menjadi sarana pembinaan ruhani umat Islam setiap pekan.
Di zaman modern yang penuh kesibukan, kemuliaan Jumat tetap relevan. Jumat menjadi momen untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan kembali mendekat kepada Allah SWT. Ketika seorang muslim melangkah menuju masjid di hari Jumat, sesungguhnya ia sedang memenuhi panggilan kehormatan dari Rabb semesta alam.
Maka tidak berlebihan jika umat Islam menyebutnya Jumat Berkah. Sebab pada hari itu terdapat keberkahan waktu, keberkahan ibadah, keberkahan doa, keberkahan persaudaraan, dan keberkahan ampunan dari Allah SWT.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memuliakan hari Jumat sebagaimana Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu memuliakannya. Semoga Allah SWT menjadikan hari Jumat sebagai sarana penghapus dosa, pengangkat derajat, pelapang rezeki, penenang hati, dan jalan menuju surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






