JAKARTA – Wartawan Bela Rakyat berupaya menyampaikan jawaban dua tokoh Sulawesi Selatan (Sulsel) Tamsil Linrung (TL) selaku donatur dan Ustadz Muzakkir Arif (MZK) selaku cucu Pendiri Pesantren Darul Istiqamah.
Pesan ini melalui aplikasi Whatsapp dengan perantara wartawan www.belarakyat.com tahun 2025 lalu. Berikut dialognya dihimpun tim redaksi Bela Rakyat:
TL : Saya sudah pernah sampaikan klarifikasi bahwa saya tidak punya kepentingan apapun di pesantren kecuali memenuhi permintaan bantuan yang diajukan oleh mereka.
MZK: Dimana dia menyampaikan klarifikasi?
TL : pertama saya menyampaikan pertelpon ke senior saya Prof. Atja Razak Thaha, menyampaikan bahwa tuduhan yg berkembang tentang diri saya itu sama sekali tidak benar yang kemudian saya susul dengan pernyataan tertulis dan disebar secara terbuka. Saya lagi minta bantuan staf saya untuk mencarikan dokumen tersebut. Juga saya pernah menyampaikan langsung ke almarhum Ustadz Arif Marzuki. Kemudian setelah beberapa kali saya menghadiri acara Muzayyin yang juga dihadiri Ustadz Arif Marzuki, diantaranya peluncuran buku Ustadz Muzayyin dan acara lainnya. Waktu acara di Mekkah saya diajak tapi tidak sempat hadir. Saya berharap klfikasi saya terbut sampai ke Ustadz Muzakkir Arif dan Ustadz Mufassir. Saya pernah sholat Jumat di masjid pak Haji Tang di Alfayyadh, khotibnya Ustadz Mufaasir. Tadinya saya berharap saya bisa bertemu dan berkomunikasi langsung dengan Beliau. Ternyata pak H Tang bilang langsung Beliau jalan saat kami sedang sholat jama takdim.
MZK : Tidak ada kepentingan? Goncangan dahsyat yg kami lewati ini justru karena kepentingan dia (insyaallah akan dibahas dalam tulisan terpisah).
TL : Saya tunggu pembahasannya. Tapi sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa kehadiran dalam setiap acara adalah atas undangan dan selalu dihadiri Ustadz Arif Marzuki dan kadang juga Ummi, serta Ustadz Muzayyin dan beberapa saudaranya yg lain
MZK : Permintaan bantuan itulah pintu utamanya. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Harus kami akui, sebagian kami tertipu!
TL : Bantuan yg diminta bukan sekali saja. Tapi berkali kali, berarti tertipu berkali kali. Saya sungguh tidak bisa memahami jika ada yg senang mengalami ketertipuan sampai berulang kali.
———
2.
TL : Muzakkir Arif yang pertama kali membawa Muzayyin ke saya agar saya bisa membantu pekerjaan sesuai bidangnya. Muzayyin itu anaknya luarbiasa sangat membantu saya dalam menjalankan tugas2 saya.
MZK : Ini adalah awal ketertipuan itu, atas dasar sangkaan baik, Muzayyin dibawa untuk bergabung dengan dia yang kemudian menjadi ujung tombak untuk merobek-robek persaudaraan dan pesantren kami.
TL : saya mohon maaf, tapi agak susah memahami kalau saya dinilai demikian, tapi anda membiarkan Muzayyin, Mutahhir, Musaddiq, Mujawwid, Lisa dan suaminya serta Ustadz Arif Marsuki masih terus bersama dan tetap menjalin hubungan dengan saya. Andaikan saya demikian saya pasti mengambil kembali saudara saya yang pernah saya rekomendasikan.
MZK : Sebagai saudara kandung, kami sangat mengenal Muzayyin. Dan kami tahu ketika dia berubah dan melakukan hal2 yg tidak semestinya dilakukan kepada saudara sendiri, apalagi kepada orang tua. Dan dari sinilah awal perubahannya.
TL : Sayang sekali pengrusakan ini terus dibiarkan dan tanpa pernah menegur saya agar saya berhenti merusak saudanya. Ketika membawa ke saya, alhamdulillah saya sambut dengan baik. Tetapi ada kejadian yang dalam penilaian anda demikian negatifnya, mestinya menasihati saya bahwa saya telah berbuat tidak baik sama adiknya hingga sampai mengambil tindakan tegas. Padahal Ustadz Muzayyin dalam penilaian saya sama dengan lainnya adalah figur yang sangat mandiri, sangat jauh dari yg dipersepsikan seolah olah tidak cerdas dan tidak punya kemandirian. Beliau menjadi pimpinan DPRD Sulsel adalah sebuah bukti yg bisa mengabaikan asusmsi2 negatif tersebut. Bahkan mampu mengelola sebuah lembaga pendidikan yang mendapatkan penghargaan dan diakui sebagai lembaga pendidikan terbaik di kawasan Timur Indonesia.
MZK : Ini pun merupakan bukti nyata bahwa dia dan Muzayyin tidak dapat dipisahkan. Ada banyak rahasia yang pernah Muzayyin sampaikan terkait pekerjaan, keluarga ataupun bisnisnya (waktu itu Muzayyin masih akrab dengan kami). Yang intinya, apapun yang dia lalukan maka Muzayyin ada di sana dan apapun yang Muzayyin lakukan itu atas arahan dia.
TL : ini penilaian yang sangat mengecilkan saudaranya sendiri. Mestinya ketika masih ada hubungan baik dan dia telah menyampaikan kejelekan2 yang saya lakukan seharusnya sudah dinasehati agar segera menghentikan hubungan dengan saya. Atau secara etika tidak meneruskan membicarakan kejelekan orang lain padahal anda masih bersamanya. Apalagi dia misalnya pada orang tersebut.
MZK : Muzayyin sangat membantu dalam menjalankan tugas-tugasnya, termasuk yang ‘kotor’ kan?
TL : saya tidak tahu tentang pekerjaan kotor yang anda maksudkan, sejak kapan anda mulai ada penilaian demikian dan sejak kapan Ustadz Arif berhenti minta bantuan ke saya. Kenapa anda membiarkan saya untuk tetap membantu pesantren padahal pekerjaan saya pekerjaan kotor. Saya tidak menyangka pernyataan demikian ini keluar dari mulut Ustadz.
—————-
3.
TL : Almarhum Ustadz Arif Marzuki datang ke rumah membawa anak-anaknya dan menantunya, juga pernah bersama santri2nya datang menyampaikan terimakasih atas bantuan saya selama ini kepada pesantren. Juga sekaligus minta bantuan karena menghadapi masalah keuangan yang sangat mengganggu. Uangnya orang yang mau diberangkatkan haji terpakai. Saya minta putranya almarhum Prof Halide Namanya Alimar Halide untuk membantu dari perusahaan saya karena beliau salah satu direktur. Beliau menyampaikan kalau ini sangat besar, lebih dari satu milyar dan ini sudah yang keduakalinya. Dia merekomendasikan supaya tidak usah lagi dibantu, tapi saya tetap minta membantunya.
MZK : Orang tua kami orang yang mulia, ucapan terima kasih beliau sampaikan kepada semua yang telah berbuat baik kepada beliau.
TL : Alhamdulillah Ustadz Arif Marzuki memang adalah Ustadz. Anak2nya pun sesungguhnya saya juga memberi penilaian demikian. Dan selalu berharap agar seterusnya demikian.
MZK : Tapi untuk kali ini, beliau berulang kali menyampaikan rasa penyesalan dan tertipu dengan kebaikan yg ternyata dibungkus dengan ‘tidak ada makan siang gratis’. Bantuan yg disangka ikhlas, ternyata harus dibayar dengan mahal, bahkan sangat mahal. Sampai hari ini kami masih membayarnya.
TL : Hal tersebut saya tidak pernah mendengarnya dari Ustadz Arif.
MZK : Satu per satu mutiara amal jariyah beliau hilang dan dihancurkan begitu saja. Alhamdulillah beberapa sempat beliau adakan dan bangun kembali.
–
TL : Saya hadir bukan terlibat dengan hal2 teknis, kecuali pada kasus GOR, saya memang minta pak Ghofar bantu selesaikan dan dibuat seminimal mungkin anggaran tambahan yang diberikan. Hal itu saya lakukan karena saya tidak mau Ustadz Arif Marzuki menjadi terperiksa.
MZK : Orang tua kami pernah mengungkapkan penyesalannya dan mengatakan: ‘karena guntur di langit, air di bejana pun ditumpahkan’. Perih. Mutiara sampai dibuang hanya karena iming-iming kosong dari komplotan penipu yang berwajah manis dan menawarkan bantuan ‘ikhlas’.
TL : sayang penyesalan yang demikian saya tidak pernah dengarkan langsung dari Ustadz Arif Marsuki. Tentu saya tidak akan memberikan bantuan lagi sekiranya Beliau menyampaikan penyesalan tersebut kepada saya. Mulai saat ini saya sungguh mempertimbangkan dengan sangat matang bila ingin membatu dalam bentuk apapun dan kepada siapapun itu. Itu ilmu yang saya dapatkan untuk lebih berhati hati. Terimakasih Ustadz.
—————–
4.
TL : Ustadz Arif mau menyerahkan tanah sebagai jaminan, tapi saya minta tidak usah, ini hanya bantuan dari saya.
MZK : Wah, baik sekali dia ini. Lalu apa kabar Pesantren Darul Istiqamah Cabang Sentiong?
TL : Kabar apa? Saya tidak tahu menahu dan saya tidak pernah ke Pesantren Darul Istiqamah Cabang Sentiong. Ada kaitan apa dengan saya?
MZK : Lokasi sawah di istiqamah 5 sekarang sama siapa?
TL : Sama sekali saya tidak tau. Pertanyaan bukan untuk saya. Sama siapa ya silakan dicek. Itu bukan hal yg susah untuk mengetahuinya.
MZK : Begitu jg dengan beberapa aset pribadi orang tua kami yg telah diambil (dibeli atas nama bantuan?). Mungkin atas nama Muzayyin. Tapi, dia dan Muzayyin, apa bedanya?
–
TL : Saya tidak tau apa yang Ustadz pertanyakan. Sama sama sekali tidak tau tentang Darul Istiqamah Cabang Sentiong dan lokasi sawah di Istiqamah 5. Saya bersumpah, demi Allah saya tidak pernah melibatkan diri dalam hal2 yang Ustadz maksudkan itu. Ini fitnah keji. Tidak semeter pun aset Darul Istiqamah yang saya ambil. Silakan telusuri fakta yg sebenarnya. Saya betul2 kasihan pada Ustadz yang melibatkan saya padahal hal2 yang sama sekali saya tidak pernah terlibat dengannya.
————-
5.
TL : Berikutnya saya usulkan agar pesantren dibantu APBN untuk pembangunan GOR yang multifungsi. Bisa juga untuk tempat pengajian. Akhirnya disetujui bantuan dari APBN sebesar 2,5 Milyar. Saya sampaikan ke Muzayyin dan Ustadz Arif supaya pekerjaannya diserahkan kepada yang profesional. Saya minta arsitek saya di Jakarta membuatkan gambar lengkap dengan RAB nya.
Saya juga menyampaikan supaya biaya gambar biar dibebankan ke saya. Jadi tidak mengganggu bantuan anggaran dari APBN, karena saya ingin proyek ini bisa menjadi pilot proyek yang saya jadikan dasar untuk pengajuan bagi pesantren lainnya, diantaranya Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, Gombara, DDI dll. Tapi ternyata yg kerjakan Muallim dan berujung pada pemeriksaan Irjen yang berkesimpulan bahwa nilai pekerjaan tersebut jauh dari target. Saya minta staf saya di Jakarta melakukan penilaian/appraisal. Akhirnya dia menyampaikan kalau nilai pekerjaan masih dibawah 50%. Baru sekitar 1 milyar. Saya minta bantuannya untuk menyelesaikannya.
Saya memberikan nanti dana pribadi sebagai tambahan laporan Muallim dana 2,5 Milyar sudah habis sementara bangunan masih dibawah 50%. Saya minta kalau bisa usahakan dengan biaya 500juta sudah bisa tuntas, kalaupun lebih dari itu usahakan tdk mencapai 1 Milyar tambahannya.
MZK : Seluk beluk bantuan GOR ini jelas. Awalnya untuk dijadikan jebakan untuk Muallim, tapi ternyata tidak sesuai skenarionya.
TL : Menjebak untuk apa Ustadz? Terlalu banyak lainnya yang inginkan program ini, tapi saya dahulukan Pesantren Darul Istiqamah dengan berbagai pertimbangan.
MZK : Kalau dia telah ‘berbuat baik’ dengan mengarahkan apbn untuk membangun GOR di Pesantren, lalu apa kepentingan dia terus mengikuti hal teknisnya sampai menutupi ‘kekurangan’ yg disebabkan perubahan gambar dari orangnya sendiri?
TL : Kepentingan saya untuk.menyelamatkan Ustadz Arif Marzuki yang terancam akan jalani pemeriksaan apart hukum. Apalagi hal tersebut atas permintaan Ustadz Arif ke saya bersama Ustadz Muzayyin beberapa saudaranya yang lain.
MZK : Muzayyin, Mutahhir dan Mukhlisa sangat tahu kemana aliran dana GOR tsb. Yg sebagian besarnya menjadi penutup utang. Utang siapa?
TL : Nah utang siapa Ustadz? Saya juga tidak tahu. Silakan Ustadz sebutkan itu utang siapa. Mengalir ke mana silakan juga sebut.
MZK : Mumpung dia sebutkan lembaga-lembaga tersebit, ini semakin menguatkan bahwa dia memang memiliki ambisi untuk mengambil lembaga tersebut untuk kepentingannya. Awalnya ingin menjadikan Darul Istiqamah sebagai percontohan, karena gagal, akhirnya beralih ke yang lain. Maka, pesan kami kepada mereka: waspadalah!
TL : Jebakan. Jebakan apa? Kenapa saya menutupi kekurangannya? Itu karena Ustadz Arif bersama Muzayyin dan beberapa saudaranya yang lain datang menemui saya dan menceritakan kejadian tersebut dan yang menandatangani perjanjian dengan pemerintah adalah pimpinan Pesantren yakni Ustadz Arif Marsuki. Beliau terancam kurungan bila itu dibiarkan.
Maka itulah yg menjadi alasan saya terlibat untuk menutupi kekurangannya, meskipun saya minta supaya seminimal mungkin, yg penting hasilnya bisa diterima oleh Irjen, sehingga tidak seperti niatan awal saya untuk menjadikan sebagai polot project. Sekali lagi satu2nya kepentingan saya adalah hanya untuk membantu saja, sebagaimana Wahdah Islamiyah dan lainnya.
Saat ini Wahdah memasang saya sebagai Ketua Badan Penyantun STIBA. Saya tidak pernah meminta posisi tersebut. Bahkan saya sebenarnya meminta supaya yang lain saja. Apalagi saya tidak mau jika ada yg mengaitkan dengan bantuan yang saya berikan. Tapi Ustadz Zaitun Rasmin dan beberapa pengurus lainnya tetap mengusulkan supaya saya bahkan terakhir saya diminta menjadi Ketua Panitia Munas. Semua bukan karena atas permintaan saya. Mohon maaf Ustadz kalau saya menyebut ini. Ini bukan mengingat lantaran utk selain tujuan memperkuat bahwa selama ini jika saya membantu saya tidak punya tujuan peraonal.
———-
6.
TL : Almarhum menangis di depan saya dan mengatakan untung kita ada pak Tamsil sambil mengatakan kalau akan terus mendoakan atas kebaikan saya ini.
MZK : Kenapa dia tidak sampaikan kalau yang menangis adalah si pemilik utang? Dan itu bukan orang tua kami?
TL : Sipemilik utang siapa? Apakah saya sendiri. Saya betul-betul tidak tahu karena yang disampaikan ke saya adalah pesantren.
MZK : Insya Allah suatu saat dia yg akan menangis di hadapan orang tua kami dan semua orang yang telah dia tipu. Dan Allah akan mengabulkan doa keburukan dari orang yang telah dia zalimi.
TL : Saya tidak tau siapa yang saya zalimi dan apa bukti kezaliman tersebut. Tapi sekiranya itu ada dan dapat dibuktikan saya mohon maaf. Tapi saya menjamin diri saya bahwa saya tidak pernah menzalimi siapapun itu. Tapi namanya menzalimi, bisa menzalimi diri sendiri dan orang lain tanpa sengaja. Karena itu silakan disebutkan Ustadz. Saya selalu berdoa untuk tidak pernah berbuat zalim baik terhadap diri sendiri apalagi terhadap orang lain.
————
7.
TL : Kalau ada acara di pesantren Beliau sering menyampaikan kalau saya banyak membatu Beliau termasuk menyampaikan kalau mobil pajero yang Beliau pake adalah bantuan dari saya. Sampai istri menyampaikan kalau malu2 mendengar diumumkan bantuan ayah pada acara di 0esantren Darul.Istiqamah di Kabupaten Gowa.
MZK : Itulah bentuk sangka baik beliau. Selalu berterima kasih dan menyebutkan kebaikan orang. Tapi kali ini beliau salah. Karena ternyata, bantuan tersebut ‘ada udang di balik batu’.
TL : Udang di balik batu? Buktikan saja jika ada. Kenapa Ustadz tidak pernah menyampaikan langsung ke saya atas penilaian demikian ini. Saya tidak tahu bentuk pertenggungjawabannya jika apa yang anda sampaikan ini ternyata tidak benar.
MZK : Oh iya, pajero yang mana yang beliau pakai? Yang diambil kembali sama Muzayyin? Kalau Muzayyin ambil kembali karena ada sesuatu yang tidak sesuai harapan, bukankah itu dia juga?
TL : Maaf Ustadz, jika Muzayyin ambil kembali itu juga saya tidak tahu. Itu sudah urusan internal antum.
MZK : Itu pula yg dilakukan Muzayyin ketika membatalkan bantuan pemprov untuk cabang Gowa ketika orang tua kami tidak memenuhi keinginannya.
TL : ini juga sama sekali saya tidak tahu. Sekali lagi maafkan saya Ustadz. Saya menilai Ustad sudah terlalu menyimpang dalam mengaitkan saya dalam semua persoalan internal keluarga Ustadz.
MZK : Masih mau mengatakan semua ini didasari dengan keikhlasan?
TL : Iya. Ini sungguh harus anda selesaikan diinternal keluarga anda sendiri. Ini persoalan keluarga yang bisa sangat memalukan. Apalagi seorang Tamsil bisa mempegaruhi keluarga terpandang ini. Ini pasti orang tidak peelrcaya. Terakhir saya mendengar kalau pak Jusuf Kalla pun pernah turun tangan untuk mengatasi karena prihatin dengan kondisi keluarga baik ini. Afwan Ustadz kita yang paling berperan untuk menyelsaikan semua ini. Berhentilah melibat libatkan orang lain. Berhentilah membawa bawa saya utamanya dalam dugaan2 tidak berdasar.
———-
8.
TL : Terakhir saya jalan ke Saudi bersama beberapa anggota keluarga almarhum. Kami berkeliling di sana. Menggunakan mobil GMC saya yang dipegang oleh Musaddik dan juga 1 unit mobil bus vip yang saya minta disewa untuk berkeliling silaturrahim dengan tokoh di Timur Tengah, sempat bertemu dengan keluarga arrajhi.
MZK : Perjalanan itu memang bersejarah, wajar kalau dia tidak lupa. Sayangnya, dia tidak sebutkan apa tujuan utama berkeliling Saudi?
– Sebagai bocoran, dia keliling Saudi bersama Muzayyin, Mutahhir, dan 2 orang petinggi developer relife Property, untuk mencari konglomerat arab yang mau namanya dipakai sebagai ‘atas nama’ investor dari proyek penghancuran Pesantren dan merubahnya sebagai City Of. Tapi Alhamdulillah tidak ada yang mau terlibat. Apalagi kalau sekedar ‘atas nama’. Orang di sana pun sadar, kalau proyek ini ada indikiasi Tpp*. Lebih dari itu, sebagian mereka dengan jelas mempertanyakan: ‘kalau proyek ini berjalan, kemana Pesantren Darul Istiqamah?’
– Sekali lagi, perjalanan yang nampak indah dengan mobil2 mewah yang disebutkan, ternyata tidak gratis, bukan?
TL : Saya dalam posisi yang diajak, saya tidak mengenal semua yang dipertemukan kecuali Dr. Ibrahim mantan dosen Lipia dan Atase di Kedutaan Saudi di Indonesia. Jadi posisi saya diajak dan diminta untuk ikut membiayai perjalanan tersebut. Kebetulan waktu itu saya punya travel haji dan umrah PT Madinah Iman pimpinannya Ustadz Muzayyin, saya lupa lainnya siapa saja. Tapi dalam rombongan perjalanan tersebut ada Ustadz Arif Marzuki, bersama ibu Muchlizah dan suaminya, Mujawwid, Ghofar dan satu lagi juga dari Relife, di mobil lain ada Ustadz Musaddiq.Terakhir PT. MADINAH IMAN saya jual, bersamaan saya jual juga saham2 saya di PT Relife.
———-
9.
TL : Muzayyin ajak Relife perusahaan yang saya termasuk menjadi pemegang saham di sana. Intinya diajak untuk mengelola Darul Istiqamah untuk mengefektifkan lahannya secara professional. Saya minta suapya kalau ada rencana seperti itu lebih baik kita awali dengan membuat contoh pengembangan dengan tidak mengganggu lahan pesantren karena itu saya beli lahan di depan seluas lk 2 ha.
MZK : Nah, sangat jelas bahwa Dia, Muzayyin dan Relife itu satu kesatuan. Jadi kalau baru saja Muzayyin mengakui bahwa surat2 Pesantren ada di Relife, sebenarnya kita semua sudah tahu siapa di balik semua ini.
– Relife sebagai perusahaan properti, kerjanya membangun perumahan, diminta untuk mengefektifkan lahan pesantren secara profesional? Kira-kira bagaimana cara mereka mengefektifkan lahan tersebut? Dijual! Ya, dengan cara dibanguni perumahan dan DIJUAL! Lahan Pesantren akhirnya akan TERJUAL!
– Lahan 2 ha yang dia beli itu untuk contoh agar dilanjutkan pada pembangunan cluster berikutnya di atas lokasi pesantren yang berisi ribuan rumah. Dan benar saja, cluster kedua sempat dibangun di atas lokasi pesantren. Tapi saat ini sedang terhenti, dan gelagat bahwa proyek itu akan lanjut sangat kuat saat ini. Berawal dari mengangkat isu: jalan pesantren adalah jalan umum!
TL : Oh iya, cluster perumahan yang dibangun dari uang dia itu, jalanannya dimana ya? Kenapa terus lewat jalan Pesantren lalu diklaim sebagai jalan umum?
TL : Dulu saya mau beli lahan di pinggir jalan tembus ke lahan tersebut, tapi katanya disepakati agar menggunakan jalan pesantren. Itu yang saya tahu. Saya tdak ikut dalam rapat terkait kesepakatan tersebut. Saya selama ini percaya yang disampaikan Ustadz Arif Marzuki, Muthahhir dan perwakilan keluarga. Saya tidak tahu kalau ada konflik keluarga.
Belakangan baru saya tahu dan menasihati Muzayyin dan saudaranya yang lain yang menemui saya agar pelihara persaudaraan dan jangan terjebak dalam konflik. Rencana sengketa yg akan dibawa ke pengadilan jangan teruskan. Tidak ada untungnya.
Siapa pun yg menjadi pemenang tetap yang akan terjadi adalah sebuah kerugian besar. Saya minta Muzayyin mengalah dan serahkan apa saja yang diminta saudaramu. Waktu Ustadz Muzayyin menjawab oh begitu ya Ustadz. Tapi memang dia tidak memutuskan pada saat itu apapun di depan saya.
———
10.
TL : Mereka secara bersama sama meminjam uang ke saya utk hal tersebut.
MZK : Siapa ‘Mereka’ yg dia maksud? Kalau yang dia maksud adalah Muzayyin dan Relife, berarti dia menganggap kita2 ini bodoh dan terbawa pada kata2 kosongnya. Sekali lagi, dia, Muzayyin dan Relife itu satu kesatuan, tidak terpisahkan! Hanya saling oper bola saja, siapa yg mengamankan siapa.
TL : Iya betul.yang mengajukan ke saya adalah Muzayyin bersama Relife. Tapi saya tidak tahu kalau ada beberapa saudaranya yang tidak menyetujui hal terbut. Karena ada Ustadz Arif Marzuki yang selalu membersamai mereka.
———
11.
TL : Adapun yang lain adalah gagasan Muzayyin membuat SPIDI awalnya saya menyampaikan ceramah terbuka dihadiri banyak jamaah di pesantren. Saya menyatakan kalau pesantren ini luar biasa dikeloal oleh SDM yg luar biasa, lulusan perguruan tinggi paporit dalam dan luar negeri, khususnya Saudi. Kemudian saya bertanya apakah ada anak pejabat yang sekolah di sini, misalnya anak gubernur dan bupati. Dijawab oleh Muzayyin ‘jangankan anak bupati, anak pak desa samping tembok pesantren saja tdk sekolah di sini. Akhirnya saya bertanya tau apa yg menjadi penyebabnya. Dugaan saya karena pesantren ini pesantren gratis. Anak Bupati tentu tdk mau disebut gratisan.
MZK : Ini bagian dari kerusakan mendasar di Pesantren kita. Orientasi pendidikan kita dipalingkan dari prinsip dasarnya. Khususnya santri putri.
– Pada awal pergeserannya, mereka iming-imingi orang tua kalau ini hanya sementara dan tidak jauh bergeser. Bagaimana dengan yang kita lihat sekarang?
TL : saya diminta menyampaikan pokok2 pikiran untuk kemajuan pesantren. Dia sering menyebut ICM sekolah yag saya bangun di Jakarta, dimana Ustadz Arif Marzuki dan Ustadz Muzakkir Arif jiga biasa ke sana dan sama2 menyampaikan kekagimannya. Sampai saya diminta Ustadz agar kadernya semua dipake di ICM, makanya kemudian Ustadz Mujawwid juga masuk.
Itu adalah usulan saya yang ternyata direspon baik. Kalau tidak mau ya mestinya tidak apa-apa. Kenapa setelah SPIDI berjalan dan diakui baik koq dipernasalahkan dan dikait2kan dengan saya yang dianggap merusak sistem pendidikan yang dibangun. Padahal sederhana saja…Bubarkan saja. Pasti anda tidak.menemui saya sebagai pihak yang akan keberatan. Sekali lagi saya tidak punya kepentingan personal di SPIDI.
————
12.
TL : Makanya saya mengusulkan agar pesantren berbayar. Bagi yabg tidak mampu kita subsidi. Kita terapkan konsep.pendidikan berkeadilan. Yang mampu membayar dan yg tdk mampu dgratiskan. Akhirnya dibuatlah SPIDI. SPIDI ini mirip dengan ICM yang saya buat di Jakarta.
MZK : Usul dia benar-benar brilian. Membuat spidi mirip dengan IC? itu memang akan merusak Darul Istiqamah yang tidak pada tujuan itu.
– Kalau dia mau buat sesukanya silakan saja. Tapi jangan di rumah orang, yang tidak mau corak rumahnya dirubah2!
TL : Sekali lagi kalau Ustadz tidak mau ya tidak usah ikuti pendapat saya. Bahkan sekarang saja kalau mau bubarkan. Sekalian bubarkan saja. Saya tetap mengulangi saya tidak punya kepentingan pribadi. Silaka bubarkan Ustadz, kembalikan sesuai keinginan Ustadz.
——-
13.
TL : Panjang lebar saya sudah menjelaskan sebelumnya. Termasuk saya pernah menyampaikan ke Prof. Atja Razak Taha.
MZK : Selain kepada Prof Atja, kepada siapa dia sampaikan panjang lebar? Pernahkah kepada kami secara langsung di sini?
TL : Bagaimana saya menyampaikan langsung kepada Ustadz. Ustadz ini sangat tertutup, susah untuk saya hubungi. Kenapa tidak dibalik. Saya orangnya terbuka dan gampang dihubungi. Hp saya tidak pernah berubah. Ustadz bisa menyampaikan semua ini ke saya. Ustadz mengajarkan tentang perlunya tabayyun. Mana pernah ada tabayyunnya dengan saya. Yang ada adalah fitnah yang dikembangkan ke mana2. Untung ada adinda Habib Mahabbah yang menyampaikan semua ini ke saya karena menurut dia pasti ada mis informasi yang menjadi penyebab semua ini.
MZK : Kenapa tidak diclearkan waktu orangtua kami masih hidup? Waktu beliau dilaporkan polisi oleh anak2 buah Muzayyin? Padahal kami sangat yakin Muzayyin di ujung telunjuknya dia?
TL : Inilah kesalahan terbesar Ustadz. Saya betul tidak mengerti pelibatan saya terkait dengan pelaporan ini. Persis sama dengan yg ustadz sampaikan terakhir ini terkait adanya laporan warga. Coba Ustadz langsung temui pelapor. Jangan2 malah orangnya pun saya tidak kenal. Lantas kenapa begitu setiap perbuatan seseorang dianggap ada yang kendalikan. Hati-hatiki Ustadz.
MZK : Berulang kali orang tua kami bertanya kepada Muzayyin ‘apa yang berat sampai kau tidak mau selesaikan masalah di sini?’ Sampai menangis beliau bertanya bahkan memohon agar dia berhenti mengusik ketenangan pesantren. Tapi dia diam saja. Sangat nampak kalau ada tekanan besar dari orang di belakangnya. (Ada beberapa video yang bisa kami tunjukkan terkait hal ini).
TL : sekali lagi itu urusan internalta Ustadz. Saya pun menyampaikan ke Ustadz Muzayyin yang menemui saya bersama beberapa saudara kandungnya yang lain untuk menyerahkan dan segera menyibukkan diri dengan tugas-tugas lain khususnya sebagai Wakil Ketua DPRD.
———-
14.
TL : Sekarang saya ingin menanyakan apa yang saya telah ambil di pesantren Darul Istiqamah? Apakah ada asetnya yang saya ambil? Kalau mau mengetahui bantuan saya tanyakan kepada sebahagian besar dari mereka semua bersaudara. Bahkan dengan beberapa menantu almarhum juga.
MZK : Dia telah merampas ketenangan dan kesatuan persaudaraan kami.
TL : Sangat berlebihanki Ustadz kalau saya dianggap bisa melakukan ini. Yang sebenarnya saudara-saudara Ustadz itu jauh lebih cerdas dari saya. Rerata kecerdasannya menyamai Ustadz Muzakkir juga. Tidak mungkin disepelekan menjadi pribadi yang bisa saya belokkan ke arah yang tidak baik. Janganki bilang begitu Ustadz, nanti kita dinilai gagal berdakwah di lingkungan keluarga.
Saya percaya Ustadz bisa perbaiki ini semua. Mohon maaf saya tidak bisa banyak membantu kecuali sekedar ikut menyarankan Ustadz Muzayyin untuk mengalah. itu artinya saya tetap pada pendapat saya sebelumnya. Dan kepada Ustadz saya juga sarankan agar lebih berhati hatiki. Janganki terlalu dalam melukai hati orang, nanti bisa berakibat hukum. Sesuatu yang harus kita sama-sama hindari. Apalagi kita Ustadz dengan kaliber yang luar biasa. Jarang orang yang bisa menyamai kehebatan Ustadz.
MZK : Anak cucu bahkan sampai cicit orang tua kami harus merasakan dampak buruk keserakahan dia!
TL : Saya tidak ada dalam penilaian tersebut, karena sekali lagi Ustadz tidak akan pernah membuktikan bahwa saya terlibat dalam pengambilalihan pesantren. Posisi diajak untuk ikut bantu. Dan sekali lagi silakan ditelusuri segala kerugian material yang diakibatkan karena tindakan saya maka saya akan siap mempertanggungjawabkan. Tapi yakinlah bahwa tidak sesuatu apapun yang saya lakukan untuk merugikan pesantren.
MZK : Dia telah merampas ketenangan pesantren secara umum. Dengan isu tanah kavling, hukum positif, dll. Mungkin dia masih ingat dengan pak Junaedi (orang Wahdah) yang dia suruh kumpulkan 20 pemilik kavling untuk dia beli lokasinya dengan harga 500rb/meter.
TL : Saya tidak pernah meminta Ustadz Junaidi untuk melakukan itu. Itu pasti bukan perintah dari saya. Silakan hubungi langsung yang bersangkutan. Saya sudah berikan nomor kontaknya ke Adinda Habibi Mahabbah.
MZK : Belum lagi bangunan-bantuan yang sudah dihancurkan.
TL : Itu urusan internal keluarganya Ustadz. Tapi silakan anda hitung dan mintakan pertanggungjawaban kepada siapa yang semestinya. Mungkin juga Relife. Relife ada Direksinya. Silakan sampaikan ke mereka.
– Sama sekali bukan keinginan saya. Saya pernah hadir bersama Ustadz Arif yang menjelaskan bahwa akan dibangun perumahan yang dekat dari masjid untuk para ustadz di Darul Istiqamah. Bahkan beberapa nama sdh disebutkan.
MZK : Nampaknya semua itu tidak dia ambil secara fisik. Tapi kami sangat yakin dia adalah orang yang paling bertanggung jawab dibalik semua peristiwa ini. Khususnya di 15 tahun terakhir Darul Istiqamah. Kenapa? Karena konflik ini dimulai setelah dia datang dan masuk di tengah kita dengan kebaikan yang ‘menipu’.
TL : Kebaikan yang menipu? Silakan buktikan siapa yang anda maksudkan.
-Ustadz sudah sangat berlebihan. Konflik yang begitu lama sejak saya hadir. Saya hadir tidak punya posisi apa pun di sana. Saya hadir sebagai undangan. Tapi hebatnya saya bisa begitu menentukan.
——–
15.
TL : Termasuk tanyakan kepada Muzakkir Arif yang selama ini saya hormat sama dia dan saya merasa tidak pernah ada masalah dengannya. Anak saya Nurul menikah dia menyampaikan ceramah pada acara walimahan bahkan ceramahnya saya cetak dalam bentuk buku yang dibagikan kepada jamaah. Kalau Beliau ke Jakarta dia bisa menginap di pesantren saya yang dipimpin Ustadz Muthahhir dan Muzayyin. Adik Ustadz Muzakkir dan adik-adik yg lain. Sekali lagi saya merasa tdk pernah ada masalah dengan mereka semua. Terutama dengan Ustadz Mudzakkir.
MZK : Inilah yang terlupakan bagi sebagian kami yang masih menikmati tipuannya. Bahwa semua kebaikan dia itu dihitung, dicatat dan akan disebut-sebut untuk kemudian menanti bayaran dari semua itu.
TL : Bayaran apa Ustadz. Apakah saya menerima sesuatu pemberian dari Ustadz. Pembayaran apa? Semua ini saya sebut hanya akan akan membuktikan kalau bahwa saya tidak mengambil apapun dari Darul Istiqamah. Yang sebenarnya adalah beberapa catatan yang saya saya ingat sebagai pembuktian atas tuduhan tak berdasar dari Ustadz bahwa yang sebenarnya sayalah yang biasa memberi.
Saya harus mengakui bahwa Darul Istiqamah memberi dukungan saya atas keterpilihan saya dalam beberapa kali pemilu. Saya tidak pernah menghitungnya, tapi saya selalu menghargai hal tersebut dan karena itu saya selalu menyampaikan terimakasih.
MZK : Bahwa penghormatan dia sifatnya politis. Mirip-mirip dengan penghormatan kepada orang tua kami. Manis kelihatan dan kedengaran. Tapi setelah itu, ada rasa sakit dan perih yang tidak akan mungkin bisa dia bayar di dunia ini!
TL : karena itu adalah Ustadz yang merasakannya. Ini soal perasaan. sayangnya tidak segera diredam dan meminta saya untuk menghentikan semua yang dilihat dan didengar manis itu padahal sesungguhnya sangat pahit dan menyakitkan.






