I Nyoman Parta Gaungkan Disiplin Pilah Sampah dari Rumah, Rumah Aspirasi Jadi Ruang Edukasi Lingkungan

I Nyoman Parta

DENPASAR – Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta menjadikan Rumah Aspirasi miliknya sebagai ruang edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hal itu terlihat saat ia menerima kunjungan aktivis lingkungan dari Yayasan Luh Getas Bali, yang dihadiri Nila Ayu, Nevy, dan tim.

Pertemuan tersebut tidak hanya berupa diskusi, tetapi juga diisi dengan praktik langsung pengolahan sampah organik, sekaligus memperkuat pesan bahwa perubahan harus dimulai dari rumah tangga.

Bacaan Lainnya

Dalam keterangannya, Parta menegaskan bahwa akar persoalan sampah terletak pada pola pikir dan kebiasaan masyarakat, bukan semata pada sistem pengelolaan.

“Masalah sampah ini bukan sekadar teknis, tapi soal perilaku. Kalau dari rumah sudah disiplin, maka beban di hilir akan jauh berkurang,” ujarnya dalam unggahan di media sosial, Selasa (24/3/2026).

Menurutnya, Bali membutuhkan gerakan bersama yang konsisten, dengan pembagian peran yang jelas antara warga dan pemerintah. Ia menyebut, kunci utama ada pada kedisiplinan memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Warga wajib memilah. Pemerintah harus hadir dengan fasilitas dan sistem pengolahan. Kalau masih ada yang tidak mau memilah, itu artinya belum punya kesadaran bersama—atau dalam istilah Bali, ‘meboyo’,” tegasnya.

Dalam sesi praktik, para aktivis dari Yayasan Luh Getas Bali memperagakan pengolahan limbah organik menjadi eco-enzyme, cairan hasil fermentasi kulit buah yang memiliki banyak manfaat. Prosesnya sederhana, menggunakan campuran limbah buah, gula, dan air yang difermentasi selama beberapa bulan.

Eco-enzyme tersebut, lanjut mereka, bisa dimanfaatkan untuk pembersih alami, menjaga kualitas air, hingga bahan dasar produk ramah lingkungan seperti sabun herbal.

Tak berhenti di situ, ampas hasil fermentasi juga diolah kembali menjadi produk tradisional Bali berupa boreh atau lulur. Dengan tambahan rempah-rempah lokal, produk ini bahkan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Parta menilai, pendekatan seperti ini menjadi solusi konkret untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang usaha berbasis lingkungan.

“Ini contoh nyata bahwa sampah tidak harus berakhir di TPA. Kalau dikelola dengan benar, bisa jadi sesuatu yang bermanfaat bahkan bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap, model edukasi berbasis praktik yang dilakukan di Rumah Aspirasi dapat direplikasi di berbagai desa di Bali. Dengan demikian, kesadaran kolektif masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat tumbuh secara berkelanjutan.

“Tidak cukup hanya dengan regulasi. Harus ada contoh, harus ada gerakan. Dan itu dimulai dari rumah,” tutup Parta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *