BALI – Kehadiran Anggota DPR RI sekaligus pegiat lingkungan I Nyoman Parta dalam sebuah pernikahan aktivis lingkungan hidup membuka sisi lain dari praktik gaya hidup berkelanjutan yang jarang tersorot: resepsi pernikahan bebas plastik.
Acara pawiwahan pasangan Ayin dan Debbie yang digelar sederhana namun sarat pesan lingkungan itu bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi “laboratorium kecil” penerapan konsep minim sampah di ruang publik. Dari hasil penelusuran dan keterangan yang dibagikan melalui media sosial Parta, hampir seluruh elemen acara dirancang untuk menekan timbulan sampah, terutama plastik sekali pakai.
Parta menyebut, pasangan tersebut bukan sosok baru dalam gerakan lingkungan. “Mereka sudah lama berjalan sebagai pegiat lingkungan,” ujarnya, Ahad (22/3/2026).
Praktik Nyata: Tanpa Plastik Sekali Pakai
Berbeda dengan kebanyakan resepsi pernikahan yang identik dengan kemasan sekali pakai, pesta Ayin dan Debbie justru menghilangkan hampir seluruh elemen plastik. Peralatan makan yang digunakan bukan berbahan sekali pakai, melainkan perlengkapan yang bisa dicuci dan digunakan kembali.
Konsep ini dikenal sebagai reuse system—di mana piring, gelas, dan perlengkapan lainnya dikumpulkan setelah digunakan, dicuci, lalu dipakai kembali. Dengan skema ini, volume sampah bisa ditekan secara signifikan.
“Setelah digunakan, peralatan itu dicuci, dikeringkan, lalu bisa digunakan lagi. Ini konsep reusable,” kata Parta.
Tidak hanya itu, kemasan makanan juga tidak menggunakan plastik, melainkan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan atau tanpa kemasan sama sekali untuk konsumsi di tempat.
Mitos Biaya Mahal Dipatahkan
Dalam investigasi ini, salah satu temuan penting adalah soal biaya. Selama ini, konsep pernikahan ramah lingkungan kerap dianggap mahal dan sulit diterapkan. Namun, Parta membantah anggapan tersebut.
“Ayo lakukan kegiatan pernikahan yang tidak menggunakan plastik. Sama sekali tidak menambah biaya. Jangan dibilang berat, jangan dibilang mahal,” tegasnya.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa hambatan terbesar bukan pada biaya, melainkan pada kebiasaan dan pola pikir penyelenggara acara.
Potret Kecil Masalah Besar
Data dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa acara besar seperti pernikahan, konser, dan festival menjadi salah satu penyumbang signifikan sampah plastik sekali pakai. Dalam satu resepsi saja, ratusan hingga ribuan tamu bisa menghasilkan volume sampah yang besar dalam hitungan jam.
Model yang diterapkan Ayin dan Debbie menjadi contoh konkret bagaimana praktik tersebut bisa diubah tanpa mengorbankan esensi acara.
Dukungan Moral dan Politik
Kehadiran Parta dalam acara ini bukan sekadar undangan biasa. Ada pesan simbolik bahwa isu lingkungan kini mulai masuk ke ruang-ruang sosial yang lebih luas, termasuk budaya dan tradisi.
Sebagai legislator, Parta dikenal konsisten mendorong isu lingkungan. Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan momen pernikahan sebagai titik awal perubahan gaya hidup.
Apresiasi dari Mempelai
Di sisi lain, pasangan Ayin dan Debbie mengaku mendapat dukungan moral dari Parta yang selama ini dikenal aktif membela isu lingkungan dan masyarakat.
“Terima kasih Pak Man telah mengapresiasi resepsi pernikahan kami,” ujar mereka.
Catatan Akhir
Pernikahan ini mungkin hanya satu peristiwa kecil. Namun dalam konteks krisis sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan, langkah sederhana seperti ini bisa menjadi model perubahan yang lebih luas—jika benar-benar diadopsi secara массов.
Pertanyaannya kini, apakah konsep serupa akan menjadi tren baru, atau tetap menjadi pengecualian di tengah budaya konsumsi sekali pakai?






