Oleh: Habib Aboe Bakar Algabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Islam dan Tradisi yang Selaras dengan Fitrah
Islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia. Ia datang membawa rahmat bagi seluruh alam, mengayomi segala aspek kehidupan, termasuk tradisi-tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Salah satu tradisi yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara adalah haul, sebuah peringatan tahunan atas wafatnya seorang ulama, kiai, habaib, wali Allah, atau orang tua yang dicintai.
Tradisi ini bukanlah sesuatu yang asing dalam khazanah keislaman. Ia telah dipraktikkan sejak generasi salaf, diwarisi dari masa ke masa, dan terus dilestarikan oleh masyarakat Islam khususnya mereka yang mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Tulisan ini akan mengupas secara komprehensif tentang apa itu haul, dalil-dalil yang menjadi landasannya, manfaat-manfaat yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana Islam memandang tradisi mulia ini.
MENGENAL HAUL SECARA MENDALAM
Definisi Haul
Secara etimologi, kata haul (الحول) berasal dari bahasa Arab yang berarti setahun atau dua belas bulan. Dalam konteks ilmu fikih, istilah ini digunakan sebagai batas waktu kepemilikan harta untuk kewajiban zakat, yakni ketika harta telah dimiliki selama satu tahun penuh (haul), maka zakat menjadi wajib atasnya.
Namun dalam tradisi dan budaya masyarakat Islam, terutama di Indonesia, haul memiliki makna yang lebih spesifik: yaitu tradisi peringatan hari wafatnya seorang ulama, tokoh agama, leluhur, atau orang tua yang diadakan tepat satu tahun setelah kematiannya berdasarkan kalender Hijriah.
Peringatan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sarana untuk mengenang, mendoakan, dan meneladani sosok yang telah berpulang ke rahmatullah. Ia menjadi momentum spiritual yang menghubungkan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya, mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi kematian.
Rangkaian Kegiatan dalam Haul
Pelaksanaan haul biasanya terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yang sarat makna spiritual dan sosial. Berikut adalah kegiatan-kagiatan yang umumnya dilakukan:
a. Ziarah Kubur
Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi makam tokoh yang diperingati, biasanya dipimpin oleh seorang ulama atau kiai yang membacakan doa bersama. Ziarah kubur adalah sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, sebagaimana beliau sendiri sering berziarah ke makam Baqi’ dan makam para syuhada Uhud. Tujuannya adalah mendoakan ahli kubur dan mengambil pelajaran tentang kefanaan dunia.
b. Tahlil dan Doa
Membaca kalimat tahlil (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ), tahmid (الْحَمْدُ لِلَّهِ), istighfar (أَسْتَغْفِرُ اللهَ), dan mengirimkan doa untuk almarhum. Tahlilan adalah tradisi yang telah lama dipraktikkan oleh para ulama Nusantara sebagai bentuk ikhtiar mengirimkan pahala kepada orang yang telah wafat. Amalan ini didasarkan pada keyakinan bahwa doa orang hidup dapat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal.
c. Pengajian Umum dan Manaqib
Membaca biografi, kisah keteladanan, akhlak, serta perjuangan orang yang sudah wafat. Manaqib adalah pembacaan kisah-kisah kebaikan dan karomah seorang wali atau ulama. Tujuannya adalah agar para hadirin dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari kehidupan beliau, meneladani akhlak mulia, dan termotivasi untuk meningkatkan ibadah.
d. Sedekah Makanan
Menyediakan hidangan atau jamuan bagi para jemaah yang hadir sebagai bentuk sedekah atas nama almarhum. Ini adalah wujud kepedulian sosial dan berbagi rezeki yang pahalanya diniatkan untuk almarhum. Rasulullah SAW sendiri pernah menyembelih kambing dan membagikan dagingnya untuk memperingati wafatnya Sayyidah Khadijah Al-Kubra.
Ragam Pelaksanaan Haul
Tradisi haul di Indonesia sangat beragam dalam pelaksanaannya, tergantung pada siapa yang diperingati dan siapa yang menyelenggarakannya:
· Haul Keluarga: Dilaksanakan oleh keluarga untuk mengenang orang tua atau leluhur yang telah wafat. Biasanya berskala kecil dan dihadiri kerabat dekat.
· Haul Pondok Pesantren: Dilaksanakan untuk mengenang pendiri atau pengasuh pesantren yang telah wafat. Biasanya dihadiri oleh santri, alumni, dan masyarakat sekitar.
· Haul Umum: Dilaksanakan untuk mengenang ulama besar atau wali Allah yang memiliki pengaruh luas. Bisa berskala kota, provinsi, bahkan nasional.
· Haul Akbar: Haul yang memperingati ulama besar seperti Wali Songo dan penyebar Islam di Nusantara. Bisa dihadiri ratusan ribu hingga jutaan orang dari berbagai penjuru, bahkan dari luar negeri.
DALIL-DALIL TRADISI HAUL
Dalil dari Hadits Rasulullah SAW
Tradisi haul memiliki landasan yang kuat dalam sunnah Rasulullah SAW. Beberapa hadits berikut menjadi dalil utama yang digunakan para ulama untuk membolehkan dan bahkan menganjurkan tradisi ini:
Hadits Pertama: Ziarah ke Makam Baqi’
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ، غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ
“Rasulullah berziarah ke makam Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dalam perang Uhud dan makam keluarga Baqi’. Beliau mengucap salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW secara rutin mengunjungi makam para sahabat yang telah wafat, mengucapkan salam, dan mendoakan mereka. Ini menjadi dasar bahwa mendoakan dan mengenang orang-orang shalih yang telah wafat adalah amalan yang dianjurkan.
Hadits Kedua: Ziarah ke Makam Syuhada Uhud
Al-Wakidi meriwayatkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبُورَ الشُّهَدَاءِ بِأُحُدٍ فَيَقُولُ:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا شُهَدَاءَ أُحُدٍ، أَنْتُمْ سَابِقُونَا وَنَحْنُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
“Rasulullah saw mengunjungi makam para pahlawan perang Uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syi’b (tempat makam mereka), Rasulullah agak keras berucap: Assalâmu’alaikum bimâ shabartum fani’ma uqbâ ad-dâr (Semoga kalian selalu mendapat kesejahteraan atas kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh akhirat adalah tempat yang paling nikmat). Abu Bakar, Umar dan Utsman juga melakukan hal yang serupa.” (Nahj al-Balâghah, halaman 394-396)
Hadits ini secara eksplisit menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengunjungi makam para syuhada setiap tahun. Ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa tradisi mengingat dan mendoakan orang-orang shalih yang telah wafat secara periodik (tahunan) adalah sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Hadits Ketiga: Menyebut Kebaikan Orang yang Wafat
Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِئِهِمْ”
“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sebutlah kebaikan-kebaikan orang wafat di antara kalian. Dan hindarilah menceritakan keburukan mereka.”
Hadits ini menjadi landasan untuk menceritakan kebaikan-kebaikan orang yang telah wafat, yang merupakan inti dari acara haul. Dalam setiap haul, tidak ada satupun acara yang membahas kejelekan orang shalih atau yang dihauli. Yang dibahas adalah kisah-kisah heroik, akhlak mulia, dan perjuangan dakwah mereka.
Praktik Sahabat dan Generasi Salaf
Tradisi mengingat dan mendoakan orang-orang shalih yang telah wafat juga dipraktikkan oleh para sahabat dan generasi salaf. Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum juga melakukan ziarah ke makam para syuhada Uhud sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Para ulama juga menyatakan bahwa peringatan haul tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Ibnu Hajar dalam Fatâwa al-Kubrâ Juz II halaman 18 menjelaskan bahwa para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul sepanjang tidak ada yang meratapi mayit atau ahli kubur sambil menangis.
Praktik Rasulullah Memperingati Wafatnya Sayyidah Khadijah
KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, menjelaskan bahwa dalam kitab Bukhari dan Muslim terdapat riwayat bahwa setiap tahun bertepatan hari wafatnya Sayyidah Siti Khadijah Al-Kubra, Rasulullah SAW menyembelih kambing. Kemudian dagingnya dibagikan ke tetangga sambil menceritakan kisah Siti Khadijah.
Ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa Rasulullah SAW sendiri memperingati hari wafat orang yang beliau cintai dengan:
1. Menyembelih kambing (sedekah makanan)
2. Membagikan daging kepada tetangga
3. Menceritakan kisah kebaikan almarhumah
Praktik ini persis dengan apa yang dilakukan dalam tradisi haul di Indonesia.
Pandangan Ulama tentang Haul
Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah lama membahas dan membolehkan tradisi haul. Beberapa pandangan ulama yang dapat dikemukakan:
Imam Ath-Thibi dalam Faidl Al-Qadir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir menjelaskan:
قَالَ الطَّيْبِي الْمَأْمُورُ وَالْمَنْهِيُّ بِهَذَا الْأَمْرِ إِنْ كَانَ مِنَ الصَّالِحِينَ فَكَمَا إِنَّ ذِكْرَهُمْ مَحَاسِنَ الْمَوْتَى يُؤَثِّرُ مِنْهُمْ فَذِكْرُهُمْ مَسَاوِيهِمْ كَذَلِكَ
“Ath-Thibi berkata bahwa perintah dan larangan ini bila mayitnya adalah orang-orang saleh. Serupa menyebut kebaikan orang mati dapat membekas maka menceritakan keburukannya juga demikian.”
Ini menunjukkan bahwa menyebut kebaikan orang shalih yang telah wafat memiliki dampak positif yang besar, baik bagi yang telah wafat maupun bagi yang masih hidup.
MANFAAT DAN HIKMAH HAUL
Mendoakan Almarhum
Manfaat utama dari haul adalah mengirimkan pahala doa dan kebaikan kepada orang yang telah wafat. Dalam Islam, doa orang yang masih hidup dapat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Dalam acara haul, kita membaca Al-Qur’an, tahlil, istighfar, shalawat, dan doa yang semuanya diniatkan untuk almarhum. Ini adalah bentuk ikhtiar maksimal untuk membantu meringankan beban almarhum di alam kubur dan mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT.
Meneladani Kebaikan
Haul menjadi sarana untuk mengingat kembali ilmu, jasa, dan akhlak mulia figur teladan agar bisa dipraktikkan bagi yang masih hidup. Dalam setiap haul, pasti diceritakan kisah-kisah heroik perjuangan dakwah, karomah, dan amaliyah sehari-hari almarhum.
Syair bijak bestari menjelaskan:
اُذْكُرْ حَدِيثَ الصَّالِحِينَ وَسَمِّهِمْ – فَبِذِكْرِهِمْ تَتَنَزَّلُ الرَّحَمَاتُ
“Tuturkan kisah orang-orang shalih dan sebut nama mereka, sebab dengan menuturkannya niscaya berbagai rahmat Allah akan turun.”
KH Thaifur Ali Wafa, Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, menegaskan bahwa semakin banyak menceritakan kisah orang shalih, Allah akan menurunkan rahmat. Setiap orang bisa introspeksi diri terhadap dosa atau kesalahan yang mereka lakukan dan pribadi menjadi lebih baik.
Pengingat Kematian
Haul menyadarkan yang hadir bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi kematian. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)
Mengingat kematian adalah ibadah yang dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (kematian).” (HR. Tirmidzi)
Dengan menghadiri haul, seseorang diingatkan bahwa dirinya juga akan menyusul almarhum. Ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan memperbanyak amal shalih.
Mempererat Silaturahim
Haul menjadi ajang berkumpulnya keluarga, santri, alumni, atau masyarakat luas. Ini adalah kesempatan emas untuk mempererat tali silaturahim yang dalam Islam sangat dianjurkan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari)
Dalam haul, orang-orang dari berbagai penjuru berkumpul, saling bersalaman, bertegur sapa, dan memperkuat ukhuwah islamiyah. Ini adalah manfaat sosial yang sangat besar.
Ngalap Barakah (Mencari Berkah)
Haul juga menjadi sarana ngalap barakah (mencari berkah) dari orang-orang shalih. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Maidah: 66)
Para ulama menjelaskan bahwa berkumpul dengan orang-orang shalih, meskipun mereka sudah wafat, dapat mendatangkan keberkahan. Apalagi jika kita mengenang jasa-jasa mereka dan mendoakan mereka.
Menghidupkan Kandungan Al-Qur’an
Semua tujuan haul ini adalah ingin menghidupkan kandungan surat Al-Isra ayat 23:
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا ۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣
“Dan Tuhanmu telah berpesan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra: 23)
Menghauli orang tua adalah bagian dari balas budi dan kebaktian anak pada orang tua meskipun sudah wafat. Ini adalah wujud nyata dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua) yang diperintahkan Allah SWT.
HAUL PARA WALI DAN ULAMA BESAR
Haul Para Wali Songo
Di Indonesia, haul yang paling besar dan paling banyak dihadiri adalah haul para Wali Songo—para penyebar Islam di Nusantara. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang telah berjasa besar dalam menyebarkan Islam di bumi Nusantara.
Haul Wali Songo bisa dihadiri oleh ratusan ribu hingga jutaan orang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Ini menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghormatan masyarakat Muslim Nusantara kepada para wali Allah.
Haul Para Ulama dan Habaib
Selain Wali Songo, haul juga diadakan untuk memperingati para ulama besar, habaib, dan kiai yang telah berjasa dalam dakwah Islam. Haul mereka biasanya dihadiri oleh santri, alumni, dan masyarakat luas yang ingin mengenang jasa-jasa mereka.
Perbedaan Haul Nabi dan Wali
Ada perbedaan mendasar antara peringatan kelahiran Nabi dan peringatan haul para wali:
1. Para Nabi dan Rasul diperingati kelahirannya (Maulid), karena mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah yang ditunggu kelahirannya, dan sudah pasti mulia rekam jejak perjalanan hidupnya semasa hidup mereka.
2. Para wali Allah diperingati haul (wafatnya) karena sudah terbukti kemuliaan akhlak dan amal perbuatannya semasa hidup. Wafatnya seorang wali adalah momentum untuk mengenang dan meneladani perjuangan mereka.
ADAB DAN TATA CARA HAUL YANG SESUAI SYARIAT
Menjaga Niat
Segala amal tergantung pada niatnya. Dalam melaksanakan haul, niat haruslah murni untuk:
1. Mendoakan almarhum
2. Meneladani kebaikannya
3. Mengingat kematian
4. Mempererat silaturahim
5. Mencari ridha Allah SWT
Menghindari Hal-hal yang Dilarang
Para ulama menekankan bahwa haul boleh dilakukan selagi tidak melampaui batas dan menimbulkan maksiat. Hal-hal yang harus dihindari:
1. Meratapi mayit dengan berlebihan
2. Menangis histeris dan meratap
3. Mencampuradukkan dengan ritual yang tidak Islami
4. Berlebihan dalam pembiayaan yang memberatkan
5. Mengkultuskan almarhum secara berlebihan
Mengisi dengan Amalan Bermanfaat
Haul sebaiknya diisi dengan amalan-amalan yang bermanfaat:
· Membaca Al-Qur’an
· Tahlil dan dzikir
· Shalawat Nabi
· Istighfar
· Doa bersama
· Sedekah makanan
· Menceritakan kisah-kisah kebaikan almarhum
HAUL DALAM PERSPEKTIF AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Haul dan Tradisi NU
Masyarakat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), sudah sangat sering mengadakan tradisi haul setiap tahunnya. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keislaman Nusantara.
Landasan Teologis
Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, haul adalah:
· Bid’ah hasanah (inovasi yang baik) karena memiliki dalil dan tidak bertentangan dengan syariat
· Sarana taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah)
· Wujud mahabbah (kecintaan) kepada orang-orang shalih
· Implementasi birrul walidain dan silaturahim
Menjawab Kritik terhadap Haul
Beberapa pihak mungkin mengkritik tradisi haul sebagai bid’ah yang tidak ada tuntunannya. Namun, kritik ini dapat dijawab dengan:
1. Dalil-dalil hadits yang telah dikemukakan di atas
2. Praktik Rasulullah SAW yang memperingati wafatnya Sayyidah Khadijah
3. Praktik para sahabat yang berziarah ke makam syuhada
4. Konsensus ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang membolehkan
HIKMAH DI BALIK TRADISI HAUL
Menghidupkan Memori Kolektif
Haul menghidupkan memori kolektif umat Islam tentang jasa-jasa para ulama dan wali. Tanpa haul, generasi muda mungkin akan melupakan sejarah perjuangan Islam di Nusantara.
Pendidikan Karakter
Haul menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Mereka belajar tentang:
· Keteladanan
· Pengorbanan
· Kesabaran
· Keikhlasan
· Dedikasi untuk agama
Konsolidasi Umat
Haul menjadi momentum konsolidasi umat Islam. Dalam acara haul, berbagai elemen masyarakat berkumpul, bersatu, dan memperkuat ukhuwah islamiyah.
Ekonomi Umat
Haul juga memiliki dampak ekonomi positif. Para pedagang kecil hingga besar mendapatkan rezeki dari keramaian acara haul. Ini adalah bentuk pemberdayaan ekonomi umat.
PENUTUP: Melestarikan Tradisi, Meraih Berkah
Tradisi haul adalah warisan berharga dari para ulama dan salafus shalih. Ia bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sarana spiritual yang sarat makna. Melalui haul, kita:
· Mendoakan orang-orang yang telah wafat
· Meneladani kebaikan mereka
· Mengingat kematian
· Mempererat silaturahim
· Mencari keberkahan
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk dapat melestarikan tradisi mulia ini dengan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat dan keberkahan dari para ulama dan wali Allah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِعُلَمَائِنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
Ya Allah, ampunilah kami, orang tua kami, guru-guru kami, ulama-ulama kami, dan seluruh Muslimin dan Muslimat.
Wallahu a’lam bish-shawab






