JAKARTA — Memasuki momen sakral pergantian tahun dalam kalender Islam, umat Muslim di berbagai penjuru tanah air tengah bersiap menyambut datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan pada tahun 2026 Masehi.
Momentum ini tidak sekadar menjadi pergantian angka di kalender, melainkan sebuah ruang refleksi diri (muhasabah) yang mendalam untuk memperbaiki kualitas spiritual serta memperkuat ikatan sosial kemasyarakatan.
Menyikapi datangnya hari besar ini, tokoh politik nasional sekaligus Anggota Komisi III DPR RI, Dr. Soedeson Tandra, S.H., M.Hum., menyampaikan pesan yang sarat akan makna kedamaian dan optimisme baru. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Papua Tengah serta Sekretaris Jenderal DPP Ormas MKGR ini, mengajak masyarakat untuk menjadikan tahun baru sebagai lembaran bersih untuk memulai langkah yang lebih bermakna.
”Awali tahun baru dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan harapan yang lebih baik,” ungkap Dr. Soedeson Tandra dalam pesan tertulisnya, Selasa (16/6/2026)
Melalui ucapan tersebut, Soedeson menekankan bahwa kebersihan hati dan ketulusan niat adalah modal utama dalam menghadapi tantangan bangsa ke depan demi melahirkan harapan-harapan baru yang jauh lebih baik bagi kesejahteraan rakyat, khususnya di wilayah Papua Tengah dan seluruh Indonesia pada umumnya.
Sinergi Harapan dan Doa Keberkahan
Semangat menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H ini turut diamini dan diperkuat oleh jajaran tokoh publik lainnya, termasuk Hamka B. Kady, Uga Adrinugraha Pratama, A. Akbar Adi Saputra, dan Rihlatussitaa. Dalam sebuah pesan kesatuan, mereka bersama-sama memanjatkan doa terbaik agar keberkahan senantiasa menyelimuti bangsa di tahun yang baru ini.
”Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H / 2026 Masehi. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah, diberi kesehatan, dan keberkahan serta menjadi manusia yang selalu memberikan manfaat untuk semua,” bunyi pesannya.
Pesan ini menggarisbawahi esensi tertinggi dari ajaran Islam, yakni menjadi individu yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar (khairunnas anfa’ahum linnas). Melalui sinergi antara hati yang bersih dan tekad untuk saling menebar manfaat, pergantian tahun ini diharapkan dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Makna Esensial Hijrah di Era Modern
Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang melandasi penanggalan Hijriah. Di era kontemporer, makna hijrah secara sosiologis dan spiritual ditransformasikan menjadi sebuah gerakan perubahan positif. Hijrah bukan lagi sekadar berpindah tempat, melainkan komitmen kolektif untuk bergeser dari egoisme menuju kepedulian sosial, dari ketidakpastian menuju perencanaan masa depan yang matang, serta dari konflik menuju perdamaian.
Sebagai Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, hak asasi manusia, dan keamanan, Dr. Soedeson Tandra menilai bahwa penegakan nilai ketulusan dan hati yang bersih sangat relevan dalam membangun tatanan sosial yang adil dan harmonis. Menurutnya, pondasi moral yang kuat di tingkat individu akan berimplikasi langsung pada kokohnya ketahanan sosial kemasyarakatan.
Secara nasional, perayaan Tahun Baru Islam di Indonesia senantiasa diisi dengan ragam tradisi positif, mulai dari doa akhir dan awal tahun di berbagai masjid, santunan sosial bagi yatim piatu dan kaum dhuafa, hingga pengajian akbar yang mempertemukan ulama, umara (pemimpin), dan umat.
Kolaborasi pesan dan harapan yang disampaikan oleh Dr. Soedeson Tandra bersama jajaran tokoh seperti Hamka B. Kady dan rekan-rekan diharapkan mampu menjadi pemantik energi positif bagi masyarakat luas. Dengan mengawali tahun 1448 Hijriah lewat hati yang bersih dan komitmen menebar kebermanfaatan, seluruh komponen bangsa diharapkan dapat berjalan beriringan menuju Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan penuh keberkahan.






