PESAN HIKMAH QS Taha: 124-126, Kata Allah SWT: Berpaling dari Peringatan-Ku, maka Sungguh Dia Akan Jalani Kehidupan yang Sempit

PESAN HIKMAH:

وَمَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِكۡرِىۡ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيۡشَةً ضَنۡكًا وَّنَحۡشُرُهٗ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ اَعۡمٰى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِىۡۤ اَعۡمٰى وَقَدۡ كُنۡتُ بَصِيۡرًا‏‏
قَالَ كَذٰلِكَ اَتَـتۡكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيۡتَهَا​ۚ وَكَذٰلِكَ الۡيَوۡمَ تُنۡسٰى‏

Bacaan Lainnya

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat
Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”
(QS. Taha: 124-126)

PENJELASAN PESAN HIKMAH ( PPH):

Pesan Hikmah yang terkandung dalam ayat 124-126 ini merupakan peringatan kepada manusia agar tidak mengambil sikap berpaling dari peringatan Allah SWT. Yang akan berkonsekuensi kerugian bagi para pelakunya didunia dan diakhirat. Penjelasan tersebut dapat kita lihat sebagai berikut:

1.وَمَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِكۡرِىۡ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيۡشَةً ضَنۡكًا (“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit”

Ayat ini menyoroti konsekuensi dari berpaling dari petunjuk Allah. “Kehidupan yang sempit” mencerminkan kegelapan dan kesulitan yang dialami oleh seseorang ketika dia meninggalkan jalan Allah.

Berpaling dari peringatan Allah bisa terjadi karena ketidaksadaran, kedurhakaan, atau pengabaian. Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang menyimpang dari petunjuk Allah tidak akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.

2. وَّنَحۡشُرُهٗ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ اَعۡمٰى  (“dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta”)

Pengumpulan dalam keadaan buta pada hari Kiamat mencerminkan ketidaktahuan dan kegelapan spiritual seseorang yang telah mengabaikan petunjuk Allah selama hidupnya. Ini menegaskan bahwa di akhirat, manusia akan menghadapi konsekuensi dari perbuatannya di dunia.

Keadaan buta pada hari Kiamat dapat dipahami secara simbolis dan harfiah. Simbolisnya menunjukkan ketidaktahuan spiritual, sementara secara harfiah menunjukkan kegelapan mata secara fisik.

3. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِىۡۤ اَعۡمٰى وَقَدۡ كُنۡتُ بَصِيۡرًا (“Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat’”)

Pertanyaan yang diajukan oleh orang yang buta secara harfiah tetapi dulu memiliki penglihatan, mencerminkan kebingungan dan penyesalan atas keputusan untuk mengabaikan petunjuk Allah. Ini menyoroti kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan.

Pertanyaan ini menggambarkan perasaan kebingungan dan kekecewaan seseorang ketika menyadari konsekuensi dari tindakannya. Meskipun dia memiliki penglihatan fisik di dunia, dia buta terhadap kebenaran spiritual.

3.- قَالَ كَذٰلِكَ اَتَـتۡكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيۡتها​ۚ وَكَذٰلِكَ الۡيَوۡمَ تُنۡسٰى (“*Dia (Allah) berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.’”)

Firman Allah menegaskan bahwa ketidakpatuhan manusia terhadap petunjuk-Nya telah menyebabkan mereka diabaikan pada hari Kiamat. Ini menggambarkan kesetiaan Allah yang mengikuti prinsip “balasan sesuai dengan perbuatan”.

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya diabaikan oleh Allah pada hari Kiamat karena kesalahan masa lalu, tetapi juga karena ketidaksadaran mereka terhadap ayat-ayat-Nya di dunia. Ini mengingatkan kita pentingnya mengambil pelajaran dari petunjuk Allah dalam hidup kita.

Jika kita mencoba menelaah satu persatu dari ayat tersebut diatas dalam konteks kekinian dan kemoderenan maka dapat dijabarkan sesuai dengan urutan ayat adalah :

1. Ayat 124:

Dalam era modern yang serba cepat dan kompetitif, kehidupan yang sempit dapat diartikan sebagai tekanan psikologis yang dirasakan oleh individu dalam mencapai standar kesuksesan yang ditetapkan oleh masyarakat. Misalnya, tekanan untuk berhasil dalam karier, mencapai gaya hidup yang diidamkan, dan memenuhi ekspektasi sosial dapat menyebabkan kesempitan dalam pengalaman hidup seseorang.

Secara Filosofis, ayat ini memunculkan pertanyaan tentang makna kebebasan sejati dalam masyarakat yang terikat pada ekspektasi dan norma-norma sosial yang ketat. Apakah kebebasan itu diukur oleh kesuksesan materi, atau oleh kedamaian batin dan kebahagiaan yang sejati?

2. Ayat 125:

Dalam konteks lingkungan, pengumpulan dalam keadaan buta pada hari Kiamat dapat dilihat sebagai peringatan tentang dampak negatif dari perilaku manusia terhadap bumi. Era modern telah menyaksikan peningkatan eksploitasi alam dan perubahan iklim yang membahayakan keberlangsungan hidup planet ini dan semua makhluk di dalamnya.

Dari aspek Filosofis, ayat ini menyoroti tentang tanggung jawab moral kita terhadap lingkungan alam. Apakah manusia benar-benar menjadi penjaga bumi, ataukah kita hanya penghuni yang serakah yang memanfaatkannya tanpa batas?

3.Ayat 126:

Dalam konteks kekinian, pertanyaan yang diajukan oleh orang yang buta secara harfiah tetapi dulu memiliki penglihatan mencerminkan ironi manusia modern yang terjebak dalam kebingungan moral dan ketidakpastian eksistensial. Teknologi dan kemajuan ilmiah telah memberi kita kemampuan untuk melihat lebih jauh ke dalam alam semesta, tetapi seringkali kita kehilangan visi tentang tujuan hidup kita sendiri.

Maka dari aspek Filosofisnya, ayat ini menggugah refleksi tentang pentingnya mencari makna dalam kehidupan yang terus berubah dan kompleks ini. Apakah tujuan sejati keberadaan kita, dan bagaimana kita dapat mempertahankan integritas pribadi dalam arus informasi dan distraksi yang terus-menerus?

Dalam era digital dan globalisasi, firman Allah tentang konsekuensi mengabaikan ayat-ayat-Nya memunculkan pertanyaan tentang identitas dan nilai-nilai moral dalam masyarakat yang semakin terhubung tetapi seringkali terpecah-belah. Kemajuan teknologi telah memberi kita akses tanpa batas ke informasi, tetapi seringkali kita kehilangan arah moral dan spiritual.
Mencermati pesan dari ayat ini, menekankan perlunya pencarian makna dan tujuan yang lebih dalam dalam kehidupan yang dipenuhi dengan kemajuan materi. Apakah kebahagiaan dan kesuksesan yang kita kejar berdasarkan standar luar, ataukah itu didasarkan pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita dan hubungan kita dengan sesama dan pencipta kita?

Dengan mengeksplorasi ayat-ayat tersebut dalam konteks kekinian dan kemoderenan secara lebih mendalam dan filosofis, kita dapat melihat bagaimana pesan-pesan spiritual dapat memberikan pandangan yang berharga tentang tantangan dan pertanyaan yang dihadapi oleh manusia modern. Ini juga memungkinkan kita untuk mempertimbangkan bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi sumber inspirasi dan panduan dalam mencari makna dan tujuan dalam kehidupan kita yang terus berubah.????

Oleh: Munawir Kamaluddin, Dosen UIN Alauddin, Makassar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.