Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada manusia yang terlihat religius di hadapan publik, tetapi kasar kepada orang tuanya sendiri. Ada yang tampak cerdas dalam argumentasi, tetapi gagal menjaga lisannya. Ada yang begitu berani menyerang orang lain, tetapi tidak pernah cukup berani mengalahkan egonya sendiri. Dan ada pula manusia yang sibuk mencari pengakuan dari luar, sementara di dalam rumahnya sendiri ada hati ayah dan ibunya yang perlahan retak karena ucapan anaknya.
Sesungguhnya tidak semua luka mengeluarkan darah. Ada luka yang lahir dari nada suara yang tinggi. Ada luka yang muncul dari kalimat yang merendahkan. Ada luka yang tumbuh dari sikap membantah, mempermalukan, memvonis, atau membentak orang tua dengan dalih “kebenaran.”
Inilah yang hari ini semakin banyak terjadi: *kekerasan verbal* . Kekerasan verbal bukan sekadar kata kasar. Ia adalah sikap agresif yang lahir dari hati yang kehilangan kelembutan. Ia bisa berbentuk sindiran, hinaan, bentakan, tuduhan, ejekan, mempermalukan, merendahkan, membuka aib, memaksakan pendapat, bahkan diam yang sengaja digunakan untuk menyiksa perasaan orang lain.
Ironisnya, banyak orang merasa dirinya benar ketika melukai. Merasa dirinya paling tulus ketika menjatuhkan. Merasa dirinya paling cerdas ketika mempermalukan orang lain di depan publik.
Padahal Rasulullah SAW. justru mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada kerasnya ucapan, tetapi pada kemampuan menjaga lisan dan kelembutan hati. Allah SWT. berfirman:
> وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”(QS. Al-Baqarah: 83).
Ayat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Allah tidak hanya memerintahkan manusia berkata benar, tetapi juga berkata dengan baik. Sebab benar yang disampaikan dengan kesombongan dapat berubah menjadi kedzaliman.
Nasihat yang dibungkus penghinaan dapat berubah menjadi luka. Dan kalimat yang keluar tanpa adab dapat menghancurkan hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih ingin menang daripada memahami. Lebih suka berpolemik daripada berdialog. Lebih mudah menyerang daripada menenangkan. Lebih cepat menuduh daripada meneliti.
Lebih suka mempermalukan daripada memperbaiki.
Media sosial memperparah semuanya. Manusia berlomba menjadi paling keras agar dianggap paling berani. Paling kontroversial agar dianggap paling hebat. Paling menyerang agar dianggap paling kuat.
Padahal belum tentu yang paling keras adalah yang paling benar. Dan belum tentu yang paling banyak bicara adalah yang paling bijaksana. Rasulullah SAW. bersabda:
> لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak rumah tangga rusak bukan karena kemiskinan, tetapi karena ucapan. Betapa banyak persaudaraan hancur bukan karena harta, tetapi karena ego. Betapa banyak anak menjadi durhaka bukan karena tidak memberi nafkah kepada orang tuanya, tetapi karena gagal menjaga perasaan mereka.
Dan di sinilah pembahasan tentang disappointing parents menjadi sangat penting. Istilah disappointing parents sebenarnya berarti mengecewakan orang tua. Bukan sekadar tidak memenuhi harapan mereka, tetapi membuat hati mereka sedih, kecewa, terluka, bahkan menangis dalam diam karena sikap anaknya sendiri. Kadang seorang anak merasa dirinya sukses di luar rumah, tetapi gagal menjadi penyejuk di dalam rumahnya sendiri.
Ia sibuk mengejar karier, jabatan, popularitas, pengaruh, dan ambisi duniawi, tetapi lupa bahwa ada ibu yang menunggu teleponnya. Ada ayah yang diam-diam menahan rindu. Ada orang tua yang mulai merasa tidak lagi dihargai oleh anak yang dahulu mereka rawat dengan penuh cinta.
Padahal dahulu… ketika anak itu sakit, ibunya tidak tidur semalaman.
Ketika anak itu lapar, ibunya menahan lapar demi memastikan anaknya kenyang. Ketika anak itu jatuh, ayahnya berlari panik sebelum dirinya sendiri sempat berpikir tentang lelah.
Tetapi ketika orang tua mulai renta… sering kali anak justru sibuk dengan dunianya sendiri. Inilah tragedi terbesar kehidupan modern,
manusia berhasil membangun karier, tetapi gagal membangun bakti.
Berhasil menjadi terkenal, tetapi gagal menjadi anak yang menenangkan hati orang tuanya.Allah SWT. berfirman:
> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Perhatikan ayat ini. Allah bahkan melarang ucapan “ah”, sebuah ekspresi kecil yang menunjukkan kejengkelan. Lalu bagaimana dengan bentakan?. Bagaimana dengan mempermalukan orang tua?
Bagaimana dengan membuka aib mereka?. Bagaimana dengan membalas nasihat mereka dengan suara keras dan ego yang membara?
Sesungguhnya durhaka tidak selalu berupa memukul orang tua. Kadang ia hadir dalam nada bicara yang kasar. Dalam wajah yang masam ketika melihat mereka. Dalam sikap meremehkan nasihat mereka. Dalam kesibukan dunia yang membuat anak lupa meluangkan waktu untuk mereka. Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
> مَا أَضْمَرَ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا ظَهَرَ فِي فَلَتَاتِ لِسَانِهِ وَصَفَحَاتِ وَجْهِهِ
“Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu dalam hatinya kecuali akan tampak pada ucapan lisannya dan raut wajahnya.”
Karena itu, lisan yang kasar sebenarnya adalah cermin jiwa yang sedang sakit. Orang yang suka menjatuhkan orang lain sering kali sedang kalah melawan dirinya sendiri. Orang yang terus menyerang sering kali sedang menyimpan luka batin. Orang yang haus pengakuan biasanya sedang mengalami kekosongan jiwa.
Dan ketika hati kehilangan cahaya iman, maka lidah menjadi liar. Hasan Al-Bashri berkata:
> لِسَانُ الْعَاقِلِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ، وَقَلْبُ الْأَحْمَقِ مِنْ وَرَاءِ لِسَانِهِ
“Lisan orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lisannya.”
Artinya, orang bijak berpikir sebelum berbicara. Sedangkan orang yang dikuasai hawa nafsu berbicara sebelum berpikir. Hari ini banyak anak merasa lebih pintar daripada orang tuanya karena pendidikan, jabatan, atau akses informasi. Padahal pengalaman hidup orang tua sering lebih dalam daripada teori kehidupan yang dibaca anak-anaknya.
Ambisi memang penting. Cita-cita memang mulia. Tetapi ketika ambisi membuat seseorang mengabaikan perasaan ayah dan ibunya, maka sesungguhnya ia sedang kehilangan keberkahan terbesar dalam hidupnya.Sebab ridha Allah sangat dekat dengan ridha orang tua. Rasulullah SAW. bersabda:
> رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Betapa banyak orang cerdas tetapi hidupnya gelisah. Betapa banyak orang kaya tetapi keluarganya berantakan. Betapa banyak orang terkenal tetapi kehilangan ketenangan batin. Boleh jadi karena ada hati orang tua yang terluka.
Umar bin Khattab RA. pernah memberi renungan yang sangat mengguncang jiwa:
“Engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya, sedangkan ibumu merawatmu sambil mengharap kehidupanmu.”
Kalimat ini seperti petir yang menyambar kesadaran manusia. Ibu merawat anaknya dengan cinta tanpa syarat. Ia tidak menghitung pengorbanannya. Tidak mencatat air matanya. Tidak meminta balasan atas rasa sakitnya ketika melahirkan.
Tetapi anak… sering kali baru sadar arti orang tua ketika semuanya telah terlambat. Ketika kursi di rumah mulai kosong. Ketika suara ibu tidak lagi terdengar. Ketika ayah tidak lagi menunggu di depan pintu. Ketika penyesalan datang, tetapi waktu tidak bisa diputar kembali. Di situlah manusia memahami bahwa tidak semua kehilangan bisa diganti.
Karena itu, sebelum penyesalan menjemputmu… pulanglah. Perbaiki ucapanmu. Lembutkan nada bicaramu. Peluk orang tuamu. Minta maaf sebelum terlambat.
Jika engkau pernah membentak mereka, datanglah dengan kerendahan hati. Jika engkau pernah melukai perasaan mereka, obatilah dengan bakti dan kelembutan. Jika engkau terlalu sibuk mengejar dunia, sisakan waktumu untuk membahagiakan mereka. Sebab bisa jadi… doa ibumu adalah alasan Allah masih menjaga hidupmu hingga hari ini.
Dan ketahuilah, memperbaiki hubungan dengan orang tua bukan hanya memperbaiki hubungan sosial. Ia adalah proses penyembuhan jiwa. Hati yang penuh kebencian harus diganti dengan kasih sayang. Ego harus diganti dengan kerendahan hati. Kekerasan verbal harus diganti dengan kelembutan.
Permusuhan harus diganti dengan persaudaraan. Dan ambisi yang berlebihan harus dituntun oleh nilai-nilai ilahiyah.
Karena manusia yang paling mulia bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling lembut hatinya. Bukan yang paling banyak pengikutnya, tetapi yang paling bermanfaat hidupnya. Bukan yang paling pandai menyerang, tetapi yang paling mampu menjaga hati orang lain, terutama hati kedua orang tuanya.
Maka sebelum dunia menutup matamu… bahagiakanlah mereka. Sebelum tanah memisahkanmu dari mereka… muliakanlah mereka. Sebelum penyesalan datang tanpa guna… cintailah mereka dengan sepenuh jiwa.
Karena kelak, ketika semua manusia meninggalkanmu… doa seorang ibu dan ayah yang ridha akan tetap berjalan mengiringi hidupmu, bahkan hingga engkau telah dikuburkan di dalam tanah.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab






