HUT ke-81 KAI: Pemuda LIRA Dorong Kereta Jadi Tulang Punggung Mobilitas Rakyat dan Ekonomi Anak Muda

JAKARTA – BELA RAKYAT – Memperingati Hari Kereta Api Nasional yang jatuh pada 28 September 2026 sekaligus HUT ke-81 KAI (Kereta Api Indonesia Pemuda LIRA mendorong momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan perjalanan panjang perkeretaapian Indonesiam Tak hanya itu, Pemuda LIRA juga berharap momentum tersebut menjadi ruang evaluasi dan refleksi mengenai masa depan transportasi kereta api sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.

Wakil Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Muslih mengatakan pernyataan tersebut disampaikan atas arahan Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Habibie Mahabbah, SIP, MM yang memandang perkeretaapian memiliki posisi strategis dalam memperkuat mobilitas masyarakat, pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga membuka ruang baru bagi generasi muda.

Bacaan Lainnya

Menurut Muslih, semakin besar masyarakat menggunakan kereta api, semakin besar pula tanggung jawab negara dan penyelenggara perkeretaapian untuk memastikan layanan yang aman, nyaman, terjangkau, inklusif, serta dapat menjangkau kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Kereta Api Harus Tetap Menjadi Transportasi Rakyat

“Kereta api bukan sekadar alat transportasi. Kereta sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan denyut perekonomian. Karena itu, peningkatan layanan harus selalu diikuti dengan perhatian terhadap tarif, aksesibilitas, kenyamanan dan terutama keselamatan penumpang,” ujar Muslih kepada wartawan, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Muslih menilai perkembangan jumlah pengguna kereta api menunjukkan bahwa moda transportasi tersebut semakin dibutuhkan masyarakat. Karena itu, pembangunan perkeretaapian ke depan harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat luas, bukan hanya mengejar pertumbuhan layanan di kawasan perkotaan.

Pemuda LIRA, kata Muslih, mengapresiasi berbagai inovasi perkeretaapian nasional, termasuk pengembangan transportasi rel modern. Namun, pembangunan tersebut harus berjalan beriringan dengan agenda pemerataan konektivitas di berbagai daerah.

Pemerataan Jangan Hanya Berpusat di Kota Besar

“Modernisasi perkeretaapian tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan sampai kemajuan transportasi rel hanya dirasakan masyarakat di kota-kota besar. Kita ingin konektivitas perkeretaapian semakin merata sehingga masyarakat di berbagai daerah juga memperoleh akses transportasi yang aman, layak dan terjangkau,” katanya.

Lebih lanjut, Muslih menambahkan, pembangunan jaringan kereta api perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan. Konektivitas yang semakin baik akan mempermudah mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi barang, membuka akses ekonomi serta memperkuat hubungan antarwilayah.

Menurutnya, pemerintah juga perlu terus memperkuat integrasi antara kereta api dengan moda transportasi lainnya. Penumpang seharusnya tidak mengalami kesulitan ketika berpindah dari kereta menuju bus, MRT, LRT, bandara, pelabuhan maupun transportasi lokal.

Keselamatan Tidak Boleh Dikalahkan Kecepatan

Selain pemerataan, Pemuda LIRA menekankan pentingnya aspek keselamatan dalam setiap pengembangan perkeretaapian nasional.

Tak hanya itu,bMuslih mengatakan modernisasi sarana dan prasarana harus disertai dengan pemeliharaan rel, sistem persinyalan, perawatan kereta, pengamanan perlintasan sebidang, peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta penguatan sistem penanganan keadaan darurat.

“Kecepatan dan inovasi penting, tetapi keselamatan tidak boleh dikompromikan. Bagi kami, ukuran keberhasilan perkeretaapian bukan hanya seberapa cepat kereta bergerak, tetapi seberapa aman masyarakat sampai ke tujuan,” tegasnya.

Anak Muda Jangan Hanya Jadi Penumpang

Pemuda LIRA juga menilai perkembangan industri perkeretaapian nasional harus menjadi peluang besar bagi generasi muda.

Bagi Muslih, industri kereta api memiliki ekosistem yang luas, mulai dari manufaktur lokomotif dan gerbong, teknologi persinyalan, engineering, maintenance, sistem digital, pengembangan perangkat lunak hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan.

“Anak muda Indonesia jangan hanya menjadi penumpang. Kita harus didorong menjadi engineer, teknolog, inovator, tenaga ahli dan pelaku industri perkeretaapian. Kalau Indonesia ingin memiliki transportasi modern, maka kita juga harus menyiapkan generasi muda yang menguasai teknologinya,” ujarnya.

Karena itu, Pemuda LIRA mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, operator kereta api, industri nasional, perguruan tinggi dan komunitas anak muda untuk menciptakan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi perkeretaapian Indonesia.

Stasiun Harus Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Ia juga menyoroti keberadaan stasiun yang menurutnya dapat dikembangkan lebih jauh sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Stasiun, kata dia, tidak hanya harus dipandang sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi UMKM, kuliner lokal, ekonomi kreatif serta promosi produk unggulan daerah.

“Kalau kereta menghubungkan masyarakat dari satu daerah ke daerah lain, maka manfaat ekonominya juga harus dirasakan masyarakat. Kereta harus mampu menggerakkan orang sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Muslib.

Dalam keterangannya, Muslih menjelaskan, keberadaan jaringan kereta yang semakin terintegrasi dapat memberikan efek berganda bagi daerah. Mobilitas masyarakat meningkat, wisata berkembang, produk lokal semakin mudah dipasarkan dan peluang usaha baru dapat tumbuh di sekitar simpul transportasi.

Digitalisasi Harus Inklusif

Pemuda LIRA juga memberikan perhatian terhadap transformasi digital dalam layanan perkeretaapian.

Muslih mengatakan digitalisasi merupakan bagian penting dari modernisasi pelayanan. Namun, penerapan teknologi harus tetap memperhatikan masyarakat yang belum terbiasa menggunakan layanan digital.

“Digitalisasi harus memudahkan masyarakat, bukan justru membuat sebagian masyarakat tertinggal. Lansia, masyarakat yang belum terbiasa dengan aplikasi, maupun masyarakat di daerah dengan keterbatasan akses internet tetap harus mendapatkan pelayanan yang mudah,” jelasnya.

Ia menegaskan, Pemuda LIRA mendukung transformasi digital sekaligus mendorong agar inovasi pelayanan tetap berorientasi pada prinsip inklusivitas dan kepentingan masyarakat.

Pemuda LIRA: Kereta Api adalah Masa Depan Indonesia

Atas arahan Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Habibie Mahabbah, SIP, MM, Muslih menegaskan bahwa Pemuda LIRA ingin momentum Hari Kereta Api Nasional menjadi pengingat bahwa pembangunan transportasi harus selalu bermuara pada kepentingan rakyat.

“Kereta api adalah bagian dari masa depan Indonesia. Karena itu, kita membutuhkan perkeretaapian yang aman, modern, terintegrasi, merata dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Di akhir keterangannya, Muslih berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional dengan melibatkan generasi muda dalam inovasi, pengembangan teknologi dan pembangunan industri.

“Selamat Hari Kereta Api Nasional. Mari kita jadikan kereta api bukan hanya sebagai sarana perjalanan, tetapi sebagai simbol konektivitas, pemerataan pembangunan, kemajuan teknologi dan penggerak ekonomi rakyat. Anak muda harus ikut berada di dalam perjalanan besar itu,” pungkas Muslih.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *