Di Balik Gemerlap Komunitas Motor Besar: Bamsoet Dorong Bikers Jadi Kekuatan Sosial Penjaga Persatuan

JAKARTA –  Di tengah citra komunitas motor besar yang selama ini identik dengan gaya hidup eksklusif, touring mewah, dan konvoi jalanan, muncul fenomena baru yang mulai mengubah wajah dunia otomotif Indonesia. Komunitas bikers kini perlahan bergerak menjadi kekuatan sosial yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan, solidaritas kebangsaan, hingga aksi sosial lintas daerah.

Fenomena itu mengemuka dalam perayaan HUT ke-8 Motor Besar Indonesia (MBI) di Jakarta, Jumat malam (15/5/2026), yang dihadiri Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo atau Bamsoet.

Dalam pidatonya, Bamsoet menegaskan komunitas otomotif kini tidak lagi sekadar ruang berkumpul pecinta kendaraan, melainkan telah berkembang menjadi wadah persaudaraan lintas identitas di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan pertarungan opini di media sosial.

“Komunitas otomotif sekarang sudah berkembang menjadi kekuatan sosial. Di dalamnya ada semangat brotherhood, gotong royong, dan rasa kebersamaan yang bisa menjadi perekat persatuan bangsa,” ujar Bamsoet.

Pernyataan tersebut menarik perhatian karena muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fragmentasi sosial di Indonesia. Sejumlah pengamat sosial menilai ruang interaksi masyarakat saat ini semakin dipengaruhi sekat politik, agama, dan kelas ekonomi. Dalam situasi itu, komunitas otomotif justru dinilai menjadi salah satu ruang sosial yang relatif cair.

Investigasi terhadap berbagai aktivitas komunitas motor besar sepanjang 2025 menunjukkan adanya perubahan orientasi kegiatan. Jika sebelumnya touring identik dengan konvoi dan agenda hiburan, kini banyak komunitas mulai memasukkan kegiatan sosial seperti donor darah, bantuan bencana, santunan masyarakat kecil, hingga promosi UMKM dan budaya lokal dalam agenda perjalanan mereka.

Data internal asosiasi otomotif nasional juga menunjukkan lebih dari separuh anggota komunitas aktif terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Aktivitas tersebut dinilai mampu membangun interaksi lintas daerah dan memperkuat solidaritas sosial antaranggota maupun masyarakat sekitar.

Bamsoet menilai perubahan tersebut harus terus diperkuat agar komunitas otomotif tidak terjebak pada eksklusivitas semata. Menurutnya, semangat brotherhood harus diperluas menjadi gerakan sosial yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Touring jangan lagi dimaknai sekadar konvoi. Touring harus menjadi gerakan sosial yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI), Bamsoet juga menyoroti tantangan besar komunitas otomotif ke depan, yakni menjaga keseimbangan antara identitas komunitas dan tanggung jawab sosial. Ia mengingatkan bahwa solidaritas internal tidak boleh berhenti hanya di lingkungan sesama bikers.

Menurutnya, komunitas otomotif memiliki potensi besar menjadi contoh persatuan nasional karena mampu mempertemukan anggota dari berbagai profesi, suku, agama, dan daerah dalam satu aktivitas bersama.

“Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang persaudaraan yang mampu melampaui perbedaan politik, agama, dan status sosial. Komunitas otomotif bisa mengambil peran itu,” pungkas Bamsoet.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *