Aku positif. Berbaik sangka. Dan, dari jendela di balik kaca ini, aku membaca buku sambil menulis untukmu saat kulihat kau masih berdiri. Tidak berlari. Sebab di situ, saat kubayangkan tanganku mengkepang rambutmu yang terurai syahdu. Hujan tak menghentikan lambaian tanganmu dan akhirnya membuat diriku, lara bin paria. Sisa hidup ini tumpukan dua itu tak bosan–bosan menghampiri, menggumuli diriku. Purwokerto. Kediri. Jogjakarta. Jakarta. Adalah kota–kota yang mengada. Di semua terbitlah bayang–bayang jiwa. Antara ada dan tiada. Senyum manismu membelenggu. Tipis–tipis kudengar suara tangis. Rasa bertambah resah. Tegar–tegar kumaki diriku. Bila ingat akan cintamu hanya untukku lewat sumpah serapahmu. Sampai kini. Bukan kamu tak cinta padaku. Tapi jiwamu seakan ilusi yang mendebu di buku-buku. Detik ini. Bukan kamu tak sayang diriku. Tapi harummu habis terbawa ombak setinggi ketakutan–ketakutan. Maka engkau tak menjelma kesungguhan dan kenyataan. Kasih. Jika di negaramu sudah dikirim virus, bencana, kehancuran moral dan kenajisan elite tetapi tidak ada tobat nasional; tidak ada revolusi; tidak ada kudeta dan rakyat tak anarkhis karena KKN jadi tradisi maka kiyamatlah yang akan menghentikannya. Kasih yang tak menjelma. Apa iya Indonesia masih tanah air beta? Negeri yang dulu menjadi pusaka abadi nan jaya. Apa iya Indonesia sejak dulu kala masih tetap dipuja–puja bangsa lain? Bukankah menjadi produsen budaknya budak bangsa–bangsa imperial dunia? Apa iya di sana tempat lahir beta? Negeri di mana kami dibuai dibesarkan bunda. Apa iya negeri itu masih tempat berlindung di hari tua? Rasanya kok makin gelap–gulita bersama penjajah lokal yang kencing di istana. Apa iya masih tempat akhir menutup mata kami yang dipalak elite setiap masa? Bukankah jargon saya indonesia saya pancasila hanya bualan saja? Aku rindu yang sebaliknya. Kasih yang entah di mana. Tanpamu aku berzina dengan buku. Tanpamu aku menyetubuhi perpustakaan. Menangis berbantalkan skripsi, tesis dan disertasi. Tanpamu aku memeluk jurnal–jurnal. Ya. Ini soal perasaan. Soal keberpihakan. Bersama para begundal, kamu ceria. Jalan berdampingan. Mesra mengutil dana rakyat; memalak warganegara. Indonesia kini terpuruk tak pernah ada tujuan kecuali menternak kebiadaban kaum kaya. Senyumku untukmu ini berisi analisa dan cara menikam mereka. Yang bukan hanya membelah malam; menguliti cara mereka mencuri; mengungkap cara mereka menipu kita semua. Tentu agar mendung yang selalu datang tak membuat banjir kepedihan; memelihara penghianatan dan keculasan. Oleh: Prof Yudhie Haryono, PhD, […]
Oleh: Muhammad Andi Anugrah Eksordium: Antara Jeritan Tanah Kelahiran dan Kemilau Ibu Kota Delapan puluh […]
Berita Terkait
Suara Rakyat
Kategori: Suara Rakyat
Catatan Harian seorang Integralis Melihat Dunia Secara Sepadu
SEJARAH RINGKAS KERAJAAN MINANGKABAU DARUL QORROR LATAR BELAKANG Kerajaan Minangkabau didirikan oleh 3 Datuk Pucuk […]
Jas Merah Kotor – Jangan Lupakan Sejarah Korupsi Torang
Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah Korupsi Torang. Sejarah mencatat pada awal abad 16 pernah ada perusahan […]
Paham Radikalisme vs Bom Bunuh Diri
Inilah fakta bahwa masih ada bom bunuh diri akibat dari mengikuti dari doktrinasi tafsiran yang […]
Ganti Menteri dari NasDem yang Miliki Rapor Merah
Inilah kesempatan Pak Jokowi menyempurnakan membangun bangsa dengan mengembalikan Indonesia berbudaya nusantara. Hal tersebut merupakan […]
Harga yang Tak Berharga
Renungan. Tesis dari keadaan. Saat negara absen, warga berlari ke tribus dan berlindung ke doa […]
Sejatinya Negara Jadi Penjaga Keadilan dan Kesejahteraan di NKRI
Bangsa ini ke depan perlu membangun masyarakat Indonesia yang memiliki akhlak, kemandirian politik dan ekonomi. […]
Kebiasaan Baik yang Harus Dibiasakan!
Sekitar lima menit sebelum ashar seorang teman sering menyengaja datang ke lantai 19 tempat kami […]
Founding Fathers Indonesia Sedih Melihat NKRI Hari Ini!?
Kalau saja para Founding fathers kita masih hidup, mungkin akan menangis melihat negara yang beliau-beliau […]
Revolusi Kita Berdasarkan Pancasila: Sejatinya Parpol Disederhanakan 3 Saja!
Cuplikan Amanat Presiden Soekarno (Bung Karno; Presiden Pertama RI) pada penutupan seminar Pancasila di Gedung […]
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.










