JAKARTA – Analis Kebijakan Publik dan Sosial-Politik Nasional, Nasky Putra, menyampaikan dukungan penuh sekaligus apresiasi atas keputusan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memilih dan melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).
Menurut Nasky, keputusan Presiden Prabowo menunjuk Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto merupakan pilihan yang tepat, strategis, dan relevan dengan kebutuhan institusi Polri dalam menghadapi dinamika keamanan nasional serta tantangan global yang semakin kompleks.
Kepemimpinan baru di tubuh Korps Bhayangkara diharapkan mampu memperkuat kesinambungan reformasi kelembagaan, profesionalisme penegakan hukum, kualitas pelayanan publik, sekaligus pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil (civil society), kami memberikan dukungan penuh dan apresiasi atas keputusan Presiden Prabowo Subianto. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto merupakan figur yang memiliki pengalaman operasional, penegakan hukum, dan kepemimpinan kewilayahan yang relevan dengan tantangan Polri ke depan. Kami melihat beliau sebagai “the right man in the right place”, orang yang tepat pada tempat dan momentum yang tepat untuk memimpin Polri,” ujar Nasky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Nasky, yang merupakan alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta, menilai terdapat kesatuan arah visi yang kuat antara kepemimpinan Kapolri Suyudi Ario Seto dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menempatkan keamanan sebagai salah satu fondasi penting bagi keberhasilan pembangunan nasional.
Menurut Nasky, visi dan tujuh program prioritas Kapolri periode 2026–2029 dengan tagline “Polisi Bersama Masyarakat” menunjukkan orientasi pembenahan yang mencakup penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, pelayanan publik, penegakan hukum, pengawasan, tata kelola anggaran, serta transformasi digital.
Arah tersebut dinilai penting untuk memastikan transformasi Polri tidak berhenti pada pembenahan internal kelembagaan, tetapi menghasilkan perubahan konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Visi dan tagline Kapolri Jenderal Suyudi harus tegak lurus dengan agenda Presiden Prabowo dan kepentingan nasional. Polri bukan hanya dituntut hadir ketika terjadi gangguan keamanan, tetapi juga harus mampu menjadi institusi negara yang memberikan rasa aman, kepastian hukum, pelayanan yang cepat, profesional, transparan, dan berkeadilan kepada masyarakat,” kata Nasky.
Sebagai penulis buku “Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat”, Nasky berpandangan bahwa keberlanjutan transformasi Polri perlu diarahkan pada penguatan prinsip profesionalitas, responsif, dan transparansi yang berkeadilan dengan menempatkan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara sebagai orientasi utama.
Kamtibmas sebagai Fondasi Stabilitas Nasional
Lebih jauh, Nasky menilai tantangan keamanan nasional saat ini semakin multidimensional. Ancaman tidak lagi hanya berbentuk gangguan kamtibmas konvensional, tetapi juga mencakup peredaran narkotika, judi online, perdagangan ilegal, penyelundupan, kejahatan siber, premanisme, jaringan kriminal terorganisasi, hingga berbagai bentuk kejahatan lintas wilayah dan lintas negara.
Karena itu, menurut Nasky, pengalaman Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam penegakan hukum, termasuk pemberantasan narkotika dan penanganan kejahatan terorganisasi, merupakan modal strategis dalam memimpin Polri menghadapi tantangan keamanan nasional.
“Pengalaman, rekam jejak, dan dedikasi tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi ancaman keamanan yang semakin kompleks. Kejahatan narkotika, penyelundupan, perdagangan ilegal, kejahatan siber, jaringan kriminal, dan kejahatan terorganisasi memiliki dampak langsung terhadap keamanan masyarakat, kualitas pembangunan, bahkan stabilitas nasional,” jelas Nasky.
Menurutnya, pendekatan penegakan hukum ke depan harus semakin terintegrasi, berbasis data dan teknologi, profesional, proporsional, serta diperkuat melalui koordinasi lintas lembaga.
“Polri membutuhkan kemampuan untuk membaca potensi ancaman secara lebih dini, merespons secara cepat dan tepat, serta memastikan penegakan hukum tetap berjalan berdasarkan prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, dan keadilan,” tambahnya.
Nasky menekankan bahwa kamtibmas harus ditempatkan sebagai bagian integral dari kebijakan pembangunan nasional. Stabilitas keamanan bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan prasyarat agar pembangunan ekonomi, investasi, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta aktivitas sosial dapat berjalan secara optimal.
Sebagai Founder Demokrasi dan Sosial-Politik Indonesia, Nasky berharap kepemimpinan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dapat menghadirkan paradigma bahwa keamanan dan pembangunan harus berjalan beriringan.
“Ketika masyarakat merasa aman, terlindungi, memperoleh kepastian hukum, dan mendapatkan akses pembangunan yang adil, maka ruang bagi kekerasan, konflik sosial, kriminalitas, serta berbagai bentuk gangguan keamanan akan semakin menyempit. Karena itu, keberhasilan Polri ke depan tidak hanya diukur dari seberapa banyak perkara yang ditangani, tetapi juga dari seberapa besar rasa aman, kepercayaan publik, dan kualitas pelayanan yang mampu dihadirkan kepada masyarakat,” tegas Nasky.
Perkuat Sinergi dan Kolaborasi Kebangsaan
Nasky juga mendorong kepemimpinan baru Polri memperkuat sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah pusat dan daerah, lembaga negara, dunia usaha, akademisi, media, organisasi kepemudaan, serta masyarakat sipil dalam membangun ekosistem keamanan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, tantangan bangsa tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Polri membutuhkan kolaborasi seluruh komponen bangsa untuk menjaga persatuan, mencegah konflik sosial, memperkuat ketahanan masyarakat, serta memastikan demokrasi berjalan dalam koridor konstitusi dan hukum.
“Kami berharap kepemimpinan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mampu melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun sekaligus menghadirkan inovasi dan terobosan baru. Polri harus semakin profesional, modern, responsif, humanis, transparan, dan dekat dengan masyarakat,” ujar Nasky.
“Inilah yang kami harapkan menjadi bagian dari penguatan semangat ‘Polisi Bersama Masyarakat’ sekaligus kontribusi nyata Polri dalam mengawal Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, menjaga kamtibmas, memperkuat stabilitas nasional, dan memastikan negara hadir memberikan rasa aman serta perlindungan kepada seluruh masyarakat,” lanjutnya.
Pada akhirnya, Nasky mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan ruang, dukungan, sekaligus pengawasan yang konstruktif terhadap kepemimpinan baru Polri.
“Kami percaya keamanan nasional yang kuat dibangun melalui institusi yang kuat, profesional, berintegritas, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, mari kita dukung Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto untuk menjalankan amanah dengan integritas, keberanian, ketegasan, serta keberpihakan pada kepentingan rakyat dan NKRI,” pungkas Nasky.
“Kami berharap kepemimpinan beliau dapat membawa Polri semakin humanis, semakin dipercaya, semakin profesional, dan semakin dirasakan kehadirannya oleh masyarakat. Pada saat yang sama, Polri dapat menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan stabilitas keamanan sebagai fondasi bagi keberhasilan pembangunan nasional dan terwujudnya Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” tutupnya.






