Anom Mariyanto Sasono: Turnamen Srikandi Matraman Jadi Role Model Pembinaan Tenis Meja

MATRAMAN, JAKARTA TIMUR – BELA RAKYAT – Turnamen Mini (Turmini) Srikandi Divisi 11 yang digelar Persatuan Tenis Meja Matraman (PTM Matraman) di GOR Matraman, Minggu (1/11/2026) mendapat apresiasi dari tokoh tenis meja sekaligus atlet pingpong Mataman, Anom Mariyanto Sasono.

Anom yang dikenal sebagai salah satu penggagas awal Matraman Cup menilai turnamen khusus perempuan tersebut bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan sebuah gerakan sosial untuk membangun persaudaraan, memperluas jaringan komunitas, dan mengajak kaum perempuan menjalani pola hidup sehat dengan main tenis meja.

Bacaan Lainnya

Menurut Anom, keberhasilan Matraman menggelar turnamen Srikandi yang diikuti 27 peserta dapat menjadi role model atau contoh bagi komunitas tenis meja lainnya di Jakarta Timur.

Ia melihat PTM Matraman telah menunjukkan bahwa pengembangan olahraga tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan. Harus ada kegiatan nyata yang mampu mempertemukan masyarakat, membangun kekompakan, serta memberikan ruang partisipasi bagi semua kalangan.

“Matraman ini bisa menjadi role model bagi wilayah lain di Jakarta Timur. Kita membuktikan bahwa olahraga bukan hanya slogan, tetapi menjadi pengikat persaudaraan. Ada kegiatan nyata yang mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan,” ujar Anom kepada wartawan Bela Rakyat, Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, Senin (2/10/2026).

Ia mengatakan, salah satu hal menarik dari Turmini Srikandi adalah pendekatan yang dilakukan untuk mengajak kaum hawa alias perempuan, khususnya dari kalangan ibu-ibu, agar semakin tertarik dengan olahraga tenis meja.

Menurut Anom, ajakan berolahraga akan lebih mudah diterima ketika dilakukan sesama perempuan. Ibu-ibu dapat saling mengajak, membangun komunikasi, kemudian tumbuh bersama dalam komunitas olahraga.

“Kalau bapak-bapak mengajak ibu-ibu berolahraga, mungkin pendekatannya berbeda. Tetapi kalau sesama emak-emak yang mengajak, biasanya lebih cepat nyambung. Mereka bisa saling mengingatkan, saling mengajak, kemudian tumbuh rasa senang untuk berolahraga bersama,” ungkapnya.

Lehih lanjut, Anom menilai pendekatan komunitas seperti ini penting untuk memperluas budaya olahraga di tengah masyarakat. Sebab, olahraga tidak harus selalu dimulai dari kompetisi besar atau fasilitas yang mewah. Kegiatan sederhana di lingkungan sendiri justru bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan hidup sehat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa manfaat turnamen seperti ini tidak boleh dilihat hanya dari pertandingan dan perebutan hadiah. Ada banyak potensi positif yang dapat berkembang ketika masyarakat berkumpul dalam sebuah kegiatan olahraga.

Mulai dari mempererat silaturahmi, memperluas pertemanan, membangun jejaring UMKM, membuka peluang usaha, hingga menciptakan ruang kolaborasi antarkomunitas.

Lebih tegasnya Anom menjelaskan, kegiatan olahraga dapat menjadi titik temu berbagai kalangan. Peserta, keluarga, panitia, pendukung, hingga pelaku usaha lokal bisa saling mengenal dan membangun hubungan yang bermanfaat.

“Jangan hanya berpikir datang untuk bertanding, setelah itu pulang. Dari kegiatan seperti ini kita bisa membangun persahabatan, memperluas jaringan, mengenalkan produk UMKM, membuka peluang usaha, bahkan mengembangkan kegiatan sosial. Jadi manfaatnya jauh lebih luas daripada sekadar bermain pingpong,” jelasnya.

Sebagai tokoh tenis meja yang turut menggagas Matraman Cup sejak awal, Anom berharap semangat yang ditunjukkan melalui Turmini Srikandi dapat terus dijaga dan dikembangkan.

Ia mendorong agar kegiatan serupa menjadi agenda berkelanjutan, sehingga semakin banyak perempuan memiliki kesempatan untuk berolahraga, mengasah kemampuan, dan berpartisipasi dalam kompetisi.

Baginya, pembinaan olahraga harus dibangun melalui kebersamaan dan keterlibatan masyarakat. Ketika komunitas mampu bergerak bersama, olahraga dapat menjadi sarana membangun kesehatan, persaudaraan, ekonomi kerakyatan, sekaligus memperkuat kehidupan sosial.

Turmini Srikandi PTM Matraman yang diikuti 27 peserta dengan total hadiah Rp1 juta itu pun menjadi awal dari harapan lebih besar. Matraman tidak hanya ingin dikenal sebagai wilayah yang aktif menggelar pertandingan tenis meja, tetapi juga sebagai komunitas yang mampu menjadikan olahraga sebagai gerakan bersama.

Anom berharap semangat tersebut dapat menular ke wilayah lain di Jakarta Timur, sehingga semakin banyak komunitas yang memberikan ruang bagi perempuan untuk aktif, sehat, produktif, dan berprestasi melalui olahraga.

Adapun Pemenangnya:

Juara 1: Bu Sumi

Juara 2:  Bu dwi Agnes

Juara 3: Bu Harni

Juara 3; Bu Wati

Adapun Pemain Masuk 8 Besar: Bu Susi, Mama Queen, Adik Rahma kelas 5 SD dan Mba Yuni

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *