Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.
Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa, melainkan juga kesempatan bagi generasi muda untuk merenungkan kembali jati diri, karakter, dan tanggung jawabnya terhadap masa depan Indonesia.
Pemuda adalah kekuatan perubahan. Dari tangan pemudalah lahir gagasan, keberanian, kepemimpinan, dan berbagai gerakan yang membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, pemuda yang dibutuhkan bangsa bukan hanya mereka yang cerdas, berani, berpenampilan menarik, atau memiliki popularitas tinggi. Indonesia juga membutuhkan generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, jujur, bertanggung jawab, dan mampu menjaga kehormatan dirinya.
Di tengah zaman yang semakin mengagungkan penampilan fisik, kekayaan, jabatan, dan popularitas, ada satu pesan penting yang patut direnungkan: ketampanan sejati bukan hanya tentang wajah yang rupawan, tetapi juga tentang hati yang bersih, perilaku yang terjaga, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Wajah yang tampan dapat menarik perhatian, tubuh yang gagah dapat mengundang kekaguman, dan kecerdasan dapat membuat seseorang disegani. Namun, akhlak mulia dan integritaslah yang menunjukkan kualitas seseorang dalam menjalani kehidupan.
Kisah Pemuda Tampan yang Menjaga Kehormatan Rasulullah SAW
Ada sebuah kisah yang beredar di tengah masyarakat tentang seorang pemuda tampan yang datang ke pasar untuk membeli pakaian. Ia memilih beberapa pakaian yang bagus, kemudian menanyakan harganya kepada pemilik toko.
Terjadilah tawar-menawar antara keduanya. Namun, mereka tidak menemukan kesepakatan. Pemilik toko tetap bertahan pada harga yang ditentukannya, sementara sang pemuda memilih meninggalkan toko tersebut untuk mencari pakaian di tempat lain.
Beberapa saat setelah pemuda itu pergi, seseorang datang menemui pemilik toko dan bertanya, apakah ia mengetahui siapa pemuda yang baru saja berbelanja di tokonya.
Pemilik toko menjawab tidak mengetahui identitas pemuda tersebut. Orang itu kemudian menyampaikan bahwa pemuda yang tadi datang adalah Sayyidina Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah SAW.
Mendengar informasi tersebut, pemilik toko merasa menyesal. Ia segera mengambil pakaian yang sebelumnya dipilih oleh Sayyidina Hasan dengan maksud memberikannya sebagai hadiah.
Namun, dalam kisah yang beredar tersebut, Sayyidina Hasan dikisahkan menolak pemberian itu dengan santun. Penolakan tersebut dikaitkan dengan prinsip bahwa beliau tidak ingin memperoleh keuntungan duniawi dengan membawa-bawa nama kakeknya, Rasulullah SAW.
Perlu dicatat, kisah ini sebaiknya dipahami sebagai cerita teladan yang beredar di masyarakat, bukan riwayat yang telah dipastikan kesahihan sanad dan redaksinya.
Meskipun demikian, pesan moral yang dapat direnungkan sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Seseorang tidak sepatutnya menjadikan nama besar keluarga, kedudukan, atau kehormatan orang lain sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Pemuda yang memiliki akhlak mulia akan berusaha menjaga kehormatan dirinya melalui kejujuran dan perilaku yang baik. Ia tidak merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa hanya karena memiliki nama besar atau berasal dari keluarga terpandang.
Nilai inilah yang penting ditanamkan kepada generasi muda: semakin besar kelebihan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga amanah tersebut.
Rasulullah SAW, Sosok dengan Ketampanan dan Kemuliaan Akhlak
Ketika berbicara tentang ketampanan, kita tidak dapat mengabaikan sosok Nabi Muhammad SAW.
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW digambarkan memiliki wajah yang indah, bercahaya, dan menawan. Para sahabat menggambarkan beliau dengan penuh kecintaan dan penghormatan. Namun, kemuliaan Rasulullah tidak hanya tercermin dari penampilan fisik, melainkan terutama dari akhlak, kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan beliau dalam menjalankan amanah.
Rasulullah SAW merupakan teladan bagi umat manusia. Beliau dihormati, tetapi tidak menjadikan penghormatan itu sebagai alasan untuk bersikap sombong. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi tetap memperhatikan orang-orang lemah dan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Ayat tersebut menegaskan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW sebagai salah satu sifat utama yang patut diteladani.
Bagi pemuda, keteladanan ini memiliki makna yang mendalam. Jangan hanya ingin memiliki penampilan menarik, tetapi juga bangunlah karakter yang baik. Jangan hanya ingin mendapatkan pujian, tetapi belajarlah berbuat baik meskipun tidak ada orang yang menyaksikan.
Jangan hanya ingin terlihat hebat di hadapan manusia, tetapi jadilah pribadi yang tetap jujur ketika tidak ada yang melihat.
Sebab, penampilan fisik dapat berubah seiring bertambahnya usia, sedangkan akhlak yang baik dapat meninggalkan pengaruh positif bagi keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.
Nabi Yusuf AS, Pemuda Tampan yang Teguh Menjaga Kehormatan
Selain Rasulullah SAW, Al-Qur’an juga mengisahkan Nabi Yusuf AS, sosok yang dikenal karena ketampanannya.
Dalam Surah Yusuf ayat 31, diceritakan bagaimana para perempuan yang hadir dalam sebuah jamuan begitu terpesona ketika melihat Nabi Yusuf hingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri.
Peristiwa tersebut menunjukkan betapa luar biasanya daya tarik fisik Nabi Yusuf. Namun, pelajaran terpenting dari kisah beliau bukanlah sekadar tentang ketampanan, melainkan tentang kemampuan menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah SWT ketika menghadapi godaan.
Nabi Yusuf menghadapi ujian yang berat. Beliau berada dalam situasi ketika dorongan hawa nafsu dan tekanan lingkungan dapat mengancam prinsip yang dipegangnya. Akan tetapi, beliau memilih mempertahankan kehormatan dan ketaatannya kepada Allah.
Dalam Surah Yusuf ayat 33, beliau berdoa:
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33, penggalan ayat)
Keteguhan Nabi Yusuf mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi dan tidak semua kesempatan harus diambil. Ada prinsip yang harus dipertahankan, ada kehormatan yang harus dijaga, dan ada pertanggungjawaban kepada Allah yang tidak boleh dilupakan.
Pelajaran ini sangat relevan bagi pemuda masa kini, terutama di era media sosial ketika popularitas sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan.
Jangan sampai seseorang mengorbankan harga diri demi mendapatkan perhatian. Jangan sampai popularitas membuat pemuda kehilangan kendali atas dirinya. Jangan pula penampilan menarik dijadikan alasan untuk mempermainkan perasaan dan kepercayaan orang lain.
Pemuda yang kuat bukanlah pemuda yang mampu menaklukkan orang lain, melainkan pemuda yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Ketampanan tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kecerdasan tidak boleh digunakan untuk menipu. Kekayaan tidak boleh menjadi alat untuk merendahkan sesama.
Sebaliknya, semua kelebihan harus digunakan untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pemuda Gagah Adalah Pemuda yang Memiliki Integritas
Kegagahan sering kali dikaitkan dengan kekuatan fisik, keberanian, dan kemampuan menunjukkan kehebatan. Padahal, ukuran kegagahan yang sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu.
Pemuda yang gagah adalah pemuda yang berani mengakui kesalahan dan tidak malu meminta maaf ketika keliru. Ia mampu menerima kritik, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri tanpa harus merasa kehilangan harga diri.
Pemuda yang kuat adalah pemuda yang mampu mengendalikan amarah, bukan yang selalu ingin memenangkan pertengkaran. Ia berani membela orang yang diperlakukan tidak adil, tetapi tidak menggunakan keberaniannya sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Pemuda yang berwibawa adalah pemuda yang memegang perkataan dan tanggung jawabnya. Ia tidak mudah mengumbar janji, tidak mempermainkan kepercayaan, dan tidak mengorbankan prinsip demi keuntungan sesaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, karakter tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghormati orang tua, menyayangi keluarga, menghargai guru, menjaga pergaulan, menghormati perempuan, serta memperlakukan sesama manusia dengan adil merupakan bagian dari akhlak yang harus dibiasakan.
Pemuda juga perlu memahami bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dimiliki, jabatan yang disandang, atau kekayaan keluarga.
Seseorang yang berasal dari keluarga sederhana tetap memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang hebat melalui ilmu, kerja keras, kejujuran, dan ketakwaan.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak kelebihan tidak sepatutnya merasa lebih mulia daripada orang lain.
Karena itu, generasi muda perlu membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kemampuan sosial, dan kekuatan spiritual. Bangsa membutuhkan pemuda yang tidak hanya pintar berpikir, tetapi juga mampu membedakan mana yang benar dan salah serta berani mempertanggungjawabkan setiap tindakannya.
Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Generasi Masa Kini
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.
Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan suku, daerah, bahasa, dan latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk membangun cita-cita bersama.
Para pemuda pada masa itu menyadari pentingnya persatuan untuk mewujudkan masa depan Indonesia. Mereka menempatkan cita-cita kebangsaan di atas sekat-sekat yang dapat memisahkan masyarakat.
Hari ini, generasi muda menghadapi tantangan yang berbeda. Kemajuan teknologi membuka peluang besar, tetapi juga membawa tantangan berupa penyebaran informasi palsu, perundungan digital, persaingan yang semakin ketat, serta godaan untuk mengejar popularitas dengan mengabaikan etika.
Pemuda Indonesia harus mampu menjawab tantangan tersebut melalui pendidikan, inovasi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, dan keterlibatan dalam pembangunan bangsa.
Namun, kemampuan dan kecerdasan saja tidak cukup. Semua itu harus disertai integritas dan tanggung jawab.
Pemuda yang memahami makna Sumpah Pemuda akan berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, berorganisasi dengan bertanggung jawab, dan berani menyampaikan kritik yang disertai pemikiran serta solusi.
Ia tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk membenci sesama anak bangsa. Ia tidak menyebarkan kebohongan hanya demi memenangkan perdebatan. Ia juga tidak menganggap orang yang berbeda pandangan sebagai musuh yang harus dihancurkan.
Sebaliknya, ia membangun ruang dialog, menghormati perbedaan, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Pemuda harus berani menolak korupsi, menjunjung tinggi kejujuran, melawan perundungan, menjaga persatuan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga generasi yang bersedia bekerja dan menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Menjaga Penampilan, Memperkuat Iman, dan Memuliakan Akhlak
Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi tampan, gagah, sukses, terkenal, atau dihormati. Selama ditempuh dengan cara yang baik, keinginan tersebut dapat menjadi bagian dari motivasi untuk mengembangkan diri.
Namun, seorang pemuda muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa semua kelebihan itu digunakan?
Jika wajah yang tampan digunakan untuk mempermainkan perasaan orang lain, apa maknanya?
Jika kekuatan digunakan untuk menindas yang lemah, di mana letak kegagahannya?
Jika kecerdasan digunakan untuk menipu, apa arti pendidikan yang telah ditempuh?
Jika jabatan digunakan untuk memperkaya diri dengan mengabaikan kepentingan rakyat, di mana tanggung jawabnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan renungan bagi setiap generasi muda.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13, penggalan ayat)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan semata-mata rupa, kekayaan, keturunan, atau status sosial, melainkan ketakwaan.
Artinya, pemuda dari keluarga sederhana memiliki kesempatan untuk menjadi mulia melalui iman, ilmu, dan amal saleh. Sementara itu, mereka yang memiliki kelebihan hendaknya semakin menyadari tanggung jawab untuk menjaga amanah dan memperbaiki diri.
Jangan sampai kita sibuk merawat wajah, tetapi melupakan hati. Jangan sampai kita menghabiskan waktu membangun citra, tetapi mengabaikan karakter. Jangan sampai kita ingin dikenal banyak orang, tetapi tidak berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.
Rawatlah penampilan, tetapi jangan abaikan akhlak. Bangunlah karier, tetapi jangan tinggalkan kejujuran. Kejarlah cita-cita, tetapi jangan kehilangan arah.
Jadilah pemuda yang berani tampil di depan, tetapi juga tidak lupa bersujud kepada Allah SWT. Jadilah pribadi yang percaya diri tanpa kesombongan, berani tanpa kecerobohan, serta memiliki ambisi tanpa menghalalkan segala cara.
Pemuda Beriman Tetap Harus Kritis, Kreatif, dan Berani Berubah
Ketaatan kepada agama bukanlah penghalang bagi pemuda untuk berpikir kritis, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun usaha, atau mengambil peran dalam kehidupan bangsa.
Sebaliknya, iman dan akhlak dapat menjadi landasan agar kemampuan yang dimiliki digunakan secara bertanggung jawab.
Pemuda dapat menjadi pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan, ilmuwan yang menghasilkan inovasi, aktivis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat, jurnalis yang menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, maupun pemimpin yang menjalankan amanah dengan jujur.
Pemuda juga perlu berani mengoreksi kebijakan yang merugikan masyarakat melalui cara-cara yang tepat, menyampaikan pendapat berdasarkan fakta, serta menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi bangsa.
Dalam kehidupan organisasi, integritas harus dibuktikan melalui pengelolaan yang transparan, penggunaan anggaran yang bertanggung jawab, dan komitmen untuk mendahulukan kepentingan bersama.
Jangan hanya berbicara tentang rakyat ketika berada di atas panggung. Tunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata, termasuk ketika tidak ada kamera yang merekam.
Karakter sejati tidak hanya terlihat ketika seseorang sedang disaksikan banyak orang. Karakter justru diuji ketika ia memiliki kesempatan melakukan kesalahan tanpa diketahui siapa pun.
Oleh karena itu, generasi muda harus membangun kebiasaan jujur sejak dini. Sebab, integritas tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang mendapatkan jabatan. Integritas tumbuh melalui pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sumpah Pemuda Harus Dimulai dari Perubahan Diri
Pada Hari Sumpah Pemuda ini, setiap anak muda patut menjadikan momentum peringatan sebagai kesempatan untuk membuat komitmen terhadap dirinya sendiri.
1. Berkomitmen untuk terus belajar meskipun berasal dari keluarga sederhana.
2. Berkomitmen untuk bekerja keras tanpa mengorbankan kejujuran.
3. Berkomitmen untuk menghormati orang tua, menyayangi keluarga, dan menjaga kehormatan diri.
4. Berkomitmen untuk menggunakan media sosial dengan bijak, tidak menyebarkan fitnah, serta tidak menjadikan penghinaan sebagai hiburan.
5. Berkomitmen untuk menjaga pergaulan, menghormati perempuan, dan tidak mempermainkan kepercayaan orang lain.
6. Berkomitmen untuk membela mereka yang membutuhkan pertolongan dan tidak diam ketika menyaksikan ketidakadilan.
7. Berkomitmen untuk tidak menyalahgunakan jabatan, uang, kecerdasan, maupun pengaruh.
Dan yang tidak kalah penting, berkomitmen untuk terus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah, doa, dan amal saleh.
Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk memberikan manfaat. Kita tidak harus menunggu kaya untuk membantu orang lain. Kita juga tidak harus menunggu terkenal untuk melakukan kebaikan.
Menepati janji, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, membantu tetangga, menyantuni anak yatim, menghargai sesama, serta menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh merupakan langkah nyata membangun karakter.
Dari kebiasaan kecil itulah karakter terbentuk. Dari karakter, kepercayaan tumbuh. Dan dari kepercayaan, kepemimpinan yang baik dapat dibangun.
Penutup: Jadilah Pemuda yang Membanggakan dan Bermanfaat bagi Bangsa
Saudaraku, para pemuda Indonesia.
Jadilah pemuda yang tampan tanpa kesombongan, gagah tanpa kekerasan, cerdas tanpa tipu daya, kaya tanpa keserakahan, dan memiliki pengaruh tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Belajarlah dari Rasulullah SAW tentang kemuliaan akhlak. Renungkan kisah Nabi Yusuf AS tentang keteguhan menjaga kehormatan di tengah godaan. Ambillah pelajaran dari keteladanan para pendahulu tentang kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab.
Jangan hanya ingin menjadi pemuda yang dikagumi karena wajahnya. Jadilah pemuda yang dihormati karena perilakunya.
Jangan hanya ingin menjadi pemuda yang namanya dikenal di mana-mana. Jadilah pemuda yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.
Jangan hanya ingin menjadi pemimpin yang memiliki pengikut. Jadilah pemimpin yang mampu memberikan teladan.
Jangan hanya ingin menjadi generasi penerus bangsa. Jadilah generasi yang memperbaiki bangsa tanpa kehilangan iman dan akhlak.
Pada 28 Oktober ini, mari kita hidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda melalui karya, persatuan, keberanian, dan tanggung jawab.
Masa depan Indonesia membutuhkan pemuda yang hebat secara intelektual, kuat secara mental, matang dalam berpikir, serta memiliki hati nurani dan integritas. Generasi yang mampu menghormati sesama, menjaga persatuan, dan berani memperjuangkan kebenaran.
Wajah yang tampan dapat memikat pandangan manusia, tetapi akhlak yang mulia meninggalkan kesan dalam kehidupan. Kegagahan dapat membuat seseorang disegani, tetapi ketakwaan dan integritas membimbingnya agar tidak menyalahgunakan kekuatan.
Jadilah pemuda yang membanggakan orang tua, bermanfaat bagi masyarakat, menjaga persatuan Indonesia, dan senantiasa berusaha mendapatkan rida Allah SWT.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.
Bangun pemudanya, kuatkan akhlaknya, teguhkan imannya, satukan langkahnya, dan majukan Indonesia.






