SURABAYA – BELA RAKYAT – Anggota DPR RI Adela Kanasya Adies mengajak perguruan tinggi untuk tidak lagi sekadar mengejar akses pendidikan, tetapi memastikan mahasiswa benar-benar siap menghadapi dunia yang berubah jauh lebih cepat dari kurikulum.
Hal itu disampaikan Adela saat berdiskusi dan berbagi gagasan bersama mahasiswa, rektor, dosen, akademisi, dan civitas akademika dalam Seminar Pendidikan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surabaya seperti dikutip di akun Instagram pribadinya.
“Senang bisa berdiskusi dan berbagi gagasan bersama mahasiswa, rektor, dosen, akademisi, dan civitas akademika dalam Seminar Pendidikan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Perubahan zaman yang begitu cepat menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi,” ucap Adela dalam pemaparannya.
Bagi Adela, pendidikan tinggi bukan hanya tentang membuka akses seluas-luasnya untuk kuliah. Lebih dari itu, kampus harus melahirkan lulusan yang memiliki kesiapan, keterampilan, dan kemampuan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
AI Tidak Akan Menggantikan Manusia, Tapi Manusia yang Menguasai AI Akan Unggul
Dalam paparannya, Adela menyoroti tantangan terbesar pendidikan hari ini: kecepatan perubahan dunia yang melampaui kecepatan kurikulum.
“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Nanti AI akan semakin pintar, terus kita kalah pintar sama AI,” terang Adela.
Namun, Adela menegaskan AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti. AI tidak akan menggantikan manusia secara keseluruhan.
“AI tidak akan menggantikan semuanya, tidak bisa menggantikan manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik, yang mau belajar menggunakan AI, itu pasti akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” paparnya.
Pesan itu menjadi pengingat bagi mahasiswa agar tidak bersikap pasif terhadap teknologi, melainkan aktif mempelajarinya sebagai alat untuk memperkuat daya saing.
Kolaborasi Empat Kekuatan: Kampus, Industri, Pemerintah, dan Masyarakat
Adela kemudian menawarkan sebuah formula kolaborasi yang menurutnya menjadi kunci lahirnya inovasi.
“Bayangkan kalau dua kekuatan ini kolaboratif. University has the knowledge. Industry has the problem. Government has the policy. And the people have the needs. Kalau empat hal itu bertemu, di situlah inovasi terjadi,” paparnya.
Karena itu, Adela mendorong agar kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat terus diperkuat, agar ilmu pengetahuan dan inovasi yang lahir dari kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Jadi saya ingin mendorong lebih banyak lagi riset kolaboratif,” terang Adela.
Mahasiswa Bukan Objek, Tapi Innovators, Creators, dan Founders
Pemikiran Adela yang paling kuat adalah tentang posisi mahasiswa dalam pendidikan. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi objek pendidikan saja.
“Mahasiswa menurut saya tidak boleh hanya menjadi objek pendidikan saja. They have to be the innovators, they have to be the creators, they have to be the founders,” jelas Adela dengan Bahasa Inggiris lancar.
Menurutnya, ketika mahasiswa diposisikan sebagai subjek yang aktif menciptakan, berinovasi, dan membangun, maka pendidikan tinggi akan melahirkan generasi yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja dan solusi bagi bangsa.
Seminar ini ditutup dengan harapan agar sinergi yang dibangun di Universitas Muhammadiyah Surabaya menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat bisa bergerak bersama menghadapi tantangan zaman.






